Musim Hujan, Perajin Tampar Kesulitan Produksi
Sabtu, 09 Januari 2016 12:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Gayam – Memasuki musim hujan para perajin tampar di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro mengaku kesulitan dalam berproduksi. Sebab, puluhan benang yang dijejer memanjang sekitar 50 meter sering tersapu angin hingga akhirnya menempel satu sama lain.
Salah satu perajin tampar di Desa Ngraho, Mukit (31) mengatakan, sejak satu bulan yang lalu tampar yang diproduksikannya dengan alat sederhana hampir menurun separuh. Menurutnya peralihan musim tersebut menjadi penyebab utamanya. Karena saat hujan turun produksi tidak dapat dilanjutkan meskipun itu gerimis.
“Benangnya (senanr) tidak bisa digiling, banyak yang menempel di benang lain,” ujarnya sembari memegang benang yang sedang digiling dengan mesin dinamo.
Ia mengaku adanya kendala tersebut dapat mengancam produksi hariannya yang hampir selalu menurun. Padahal, kata dia, sebelumnya produksi tersebut mencapai 23 hingga 25 kilogram per hari. Namun, hasil produksi itu kini merosot drastis yaitu sekitar10 kg/hari.
“Kalau hujannya lama malah tidak bisa produksi,” ujar Mukit.
Sementara itu, perajin tampar lain di Desa Ngraho, Siti Nurkhalimah (41) mengatakan senada. Menurutnya, tidak ada cara lain untuk menekan atau mengantisipasi penurunan angka produksi tersebut karena proses produksi berada di luar rumah. Sedangkan, saat hujan berlangsung para perajin memilih berhenti lantaran benang (bahan baku) tidak dapat diproses.
“Misalnya dipindah di dalam rumah ya tidak cukup, panjang benangnya saja 50 meter. Selain itu, benang berjejer sebanyak 36 meter,” jelasnya. Kini, ia dapat memproduksikan tampar sekitar 5 kg dari hasil sebelumnya 8 kg.
Di desa yang juga masuk dalam kawasan ring satu Migas Banyuurip Blok Cepu ini sedikitnya ada sekitar lima warga yang memproduksi tampar. Tampar - tampar itu nantinya akan disetorkan ke Surabaya. Per biji dihargai Rp2.500 hingga Rp3.000. (rul/kik)


































.md.jpg)






