Mitos Populer Berkeringat Banyak Berarti Sudah Olahraga Maksimal
Selasa, 17 Februari 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Banyak orang merasa sudah "berhasil olahraga" hanya karena tubuh basah kuyup oleh keringat setelah beraktivitas. Padahal, menurut dokter spesialis jantung, berkeringat bukan ukuran pasti bahwa kamu sedang berolahraga secara efektif atau intens.
dr. Vito Damay, dokter jantung yang sering berbagi edukasi kesehatan, menjelaskan bahwa keringat lebih merupakan respons tubuh untuk mendinginkan suhu saat terpapar panas, bukan indikator intensitas latihan. "Iya kalau kena panas, nggak usah jalan juga keringetan. Coba aja duduk di pinggir jalan siang-siang, pasti keringetan juga. Itu mah nggak perlu jalan kan?" ujar dr. Vito dalam artikel (tautan tidak tersedia) yang pernah viral pada 2021.
Fenomena ini sering disalahartikan. Banyak yang mengira jalan-jalan santai sambil berkeringat sudah termasuk olahraga berat, padahal bisa jadi hanya karena cuaca panas atau kelembapan tinggi. Akibatnya, orang merasa puas tapi manfaat untuk kesehatan jantung belum optimal.
dr. Vito menekankan, olahraga yang benar-benar bermanfaat untuk jantung adalah aktivitas dengan intensitas moderat, minimal 30 menit sehari. Cara mengukurnya bukan dari keringat, melainkan dari detak jantung (heart rate).
Cara sederhana menghitung target heart rate:
Rumus dasar: (220 - usia) × 60%-70%.
Contoh untuk usia 20 tahun: (220 - 20) × 60%-70% = 120-140 detak per menit. Jika melebihi, pelan-pelan atau istirahat sebentar hingga stabil selama 30 menit.
Tips praktis tanpa hitung-hitungan: Saat beraktivitas, coba bicara. Jika masih bisa nyanyi dengan lancar, artinya terlalu ringan (bukan olahraga). Jika bahkan satu kalimat pun sulit diucapkan karena terengah-engah, artinya terlalu berat. Ambil tengah-tengahnya: masih bisa ngomong satu kalimat sederhana, seperti "Eh ntar pulang mau ke sini ah" – itu baru pas untuk manfaat jantung.
Selain itu, dr. Vito mengingatkan mitos lain yang berbahaya: anggapan bahwa olahraga bisa memicu serangan jantung. Faktanya, olahraga justru melindungi jantung. Risiko serangan jantung lebih dipengaruhi faktor seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes tidak terkontrol, obesitas, dan merokok. Deteksi dini faktor risiko ini jauh lebih penting daripada menghindari olahraga.
Pesan utama: Jangan jadikan keringat sebagai satu-satunya patokan. Fokus pada konsistensi, intensitas yang tepat, dan gaya hidup sehat secara keseluruhan. Dengan begitu, olahraga benar-benar memberikan manfaat maksimal untuk kesehatan jantung dan tubuh secara umum.
Jadi, detikers, mulai sekarang ukur olahraga dari detak jantung dan rasa nyaman, bukan hanya dari basahnya baju ya!
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir































.md.jpg)






