Pemkab Blora Terus Dorong Beras Organik Produksi Petani Milenial
Selasa, 10 Maret 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Blora – Pemerintah Kabupaten Blora terus memperkuat sektor ketahanan pangan dengan memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan pertanian organik yang digerakkan oleh generasi muda. Bupati Blora, Arief Rohman, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif para petani milenial di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, yang sukses memproduksi beras organik varietas Mentik Susu melalui Asosiasi Petani Organik Selaras Alam Sejahtera.
Dukungan tersebut disampaikan Bupati Arief Rohman saat menerima hasil panen perdana dari para petani muda tersebut pada Senin, 9 Maret 2026. Menurutnya, dedikasi para petani milenial ini menjadi angin segar bagi masa depan pertanian di Blora, mengingat produk pangan organik memiliki keunggulan kualitas yang lebih baik, lebih sehat, serta memiliki masa simpan yang lebih lama dibandingkan hasil pertanian konvensional.
Bupati menjelaskan bahwa peralihan ke sistem organik bukan sekadar mengejar kualitas pangan, melainkan juga upaya jangka panjang dalam menjaga kesuburan dan kesehatan tanah. Penggunaan bahan alami dalam proses tanam dinilai mampu menekan biaya produksi secara bertahap, sehingga memberikan keuntungan ekonomi yang lebih kompetitif bagi para petani di masa mendatang.
"Alhamdulillah, saya mendapat kiriman istimewa berupa beras organik varietas Mentik Susu dari petani milenial di Desa Sumber. Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas semangat dan dedikasi mereka dalam mengembangkan pertanian organik di desa," ujar Arief Rohman.
Arief Rohman mengakui kualitas beras Mentik Susu produksi Desa Sumber sangat memuaskan dengan tekstur nasi yang pulen dan rasa yang enak. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk selalu hadir membantu para petani jika menemukan kendala, baik pada masa tanam maupun saat memasuki musim panen.
Perwakilan petani organik Desa Sumber, Rakam, mengungkapkan bahwa motivasi mereka semakin meningkat berkat perhatian langsung dari pemerintah kabupaten. Meski pada tahap awal pertanian organik membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak untuk proses perawatan, namun secara bahan baku sebenarnya jauh lebih hemat karena memanfaatkan sumber daya alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
Rakam menjelaskan teknik budidaya yang mereka terapkan mengutamakan pengembalian unsur hara ke dalam tanah, seperti memanfaatkan jerami sisa panen dan pupuk kompos yang dicampur saat pengolahan lahan. Selain itu, mereka melakukan proses penyiangan gulma atau osrok sebanyak empat kali selama masa tanam untuk memastikan padi tumbuh optimal tanpa bahan kimia.
Tantangan yang dihadapi para petani saat ini adalah kebutuhan akan fasilitas pascapanen mandiri, seperti alat pengering dan penggiling padi khusus organik. Selama ini, mereka masih menggunakan fasilitas penggilingan umum yang dikhawatirkan standar kualitasnya sulit terjaga secara maksimal.
"Harapan kami setelah panen nanti bisa memiliki pengering dan penggiling padi sendiri. Selama ini kami masih menggunakan selepan umum yang juga digunakan untuk padi konvensional, sehingga kadang beras organik bisa tercampur dengan beras biasa," ungkap Rakam.
Saat ini, beras organik Mentik Susu hasil produksi petani milenial ini telah dipasarkan dengan harga 20 ribu rupiah per kilogram dalam kemasan praktis dua kilogram. Selain penjualan langsung, mereka juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas hingga ke luar daerah.(red/toh)































.md.jpg)






