Kualitas Udara di Bojonegoro Alami Penurunan Drastis
Selasa, 05 Mei 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Kondisi kualitas udara di Kabupaten Bojonegoro mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2025. Berdasarkan data terbaru, Indeks Kualitas Udara (IKU) di wilayah ini berada di angka 67,79, merosot tajam jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2024 yang mampu menyentuh angka 89,05. Penurunan ini tercatat sebagai salah satu yang paling dalam jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya.
Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Tuti Prangmiatun, memberikan penjelasan mengenai faktor teknis di balik anjloknya angka tersebut. Menurutnya, transisi sistem penilaian dari pemerintah pusat menjadi alasan utama mengapa angka IKU tahun ini terlihat sangat berbeda dengan tahun sebelumnya.
“Penurunan IKU dipengaruhi perubahan metode perhitungan, termasuk penambahan parameter PM2.5, sehingga hasilnya tidak sepenuhnya dapat dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” jelasnya pada Senin, 4 Mei 2026.
Penambahan parameter PM2.5 ini membuat sistem pengukuran menjadi jauh lebih sensitif terhadap keberadaan partikulat debu halus di lapangan. Selain masalah metodologi, faktor alam juga turut andil dalam menurunkan kualitas udara di Bojonegoro. Durasi musim kemarau yang terjadi sepanjang tahun 2025 memicu konsentrasi partikel debu di udara meningkat.
“Musim kemarau 2025 turut meningkatkan konsentrasi partikulat PM2.5 di udara,” kata Tuti menambahkan.
Meskipun terjadi penurunan yang cukup mencolok, pihak DLH menyatakan hingga saat ini belum melakukan penelitian mendalam mengenai sumber pencemaran dari sektor-sektor tertentu secara spesifik. Fokus saat ini masih pada pemahaman terhadap konteks data baru yang menggunakan parameter lebih ketat.
“Banyak faktor yang mempengaruhi IKU, tapi belum ada kajian khusus terkait pengaruh industri,” ujarnya lagi.
Data dari Open Data Jawa Timur menunjukkan bahwa tren penurunan IKU sebenarnya terjadi secara kolektif di wilayah Jawa Timur, termasuk daerah tetangga seperti Tuban, Nganjuk, dan Ngawi. Namun, Bojonegoro memang mencatatkan angka penurunan paling besar mencapai 21,26 poin. Kondisi ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk terus mencermati faktor-faktor lingkungan agar upaya perbaikan kualitas udara di masa mendatang dapat berjalan lebih efektif.(red/toh)






































