Hari Buku Nasional 17 Mei: Lahir dari Keprihatinan Rendahnya Literasi
Minggu, 17 Mei 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Tanggal 17 Mei kembali diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Lebih dari sekadar pelengkap rak atau hiburan di waktu luang, buku merupakan medium krusial bagi masyarakat untuk memperluas cakrawala pengetahuan.
Selain memperkaya wawasan, aktivitas membaca buku secara rutin terbukti secara ilmiah memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental. Membaca dapat menstimulasi dan meningkatkan fungsi otak, mereduksi stres, membantu mengatasi insomnia, hingga meningkatkan kualitas tidur seseorang.
Tahun 2026 ini menandai seperempat abad atau tahun ke-25 peringatan Hari Buku Nasional di Indonesia. Bagaimana sebenarnya awal mula momentum ini digagas? Berikut kilas balik sejarah dan esensi di balik peringatannya.
1. Sejarah dan Awal Mula Hari Buku Nasional
Hari Buku Nasional pertama kali digagas pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional dalam Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar.
Pemilihan tanggal 17 Mei bukan tanpa alasan. Momentum tersebut merujuk pada tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada 17 Mei 1980 silam.
Gagasan Abdul Malik Fadjar untuk menetapkan hari khusus ini didorong oleh keprihatinan mendalam terhadap rendahnya minat baca dan tingkat literasi masyarakat Indonesia kala itu. Berdasarkan data UNESCO pada tahun 2002, indeks membaca masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal jauh dibandingkan negara-negara tetangga di Asia yang tingkat literasinya rata-rata sudah menyentuh angka 90%.
Kondisi tersebut diperparah oleh produktivitas industri perbukuan domestik yang masih rendah. Pada saat itu, Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 18 ribu judul buku per tahun. Angka ini kalah telak jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yang sanggup menerbitkan 40 ribu hingga 140 ribu judul buku setiap tahunnya.
2. Esensi Budaya Membaca dan Cara Memperingatinya
Sejak awal dicanangkan, para pencinta buku dan pegiat literasi berharap Hari Buku Nasional bisa dirayakan layaknya hari-hari besar lainnya. Jika Hari Kasih Sayang identik dengan saling memberi cokelat atau bunga, maka pada Hari Buku Nasional masyarakat diharapkan membangun tradisi saling menghadiahkan buku.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk ikut merayakan momentum ini:
-
Meluangkan Waktu Khusus: Sisihkan waktu minimal 15 hingga 30 menit sehari untuk membaca buku yang disukai.
-
Menetapkan Target Membaca: Mulai dengan target yang realistis, misalnya menyelesaikan satu buku dalam satu bulan untuk membangun kembali konsistensi.
-
Donasi Buku: Menyumbangkan buku-buku layak baca ke perpustakaan desa, taman baca masyarakat, atau komunitas yang membutuhkan.
3. Tips Efektif Meningkatkan Minat Membaca
Membangun kebiasaan membaca memerlukan langkah yang konsisten. Berikut adalah beberapa tips praktis yang bisa diterapkan untuk meningkatkan minat baca:
-
Tumbuhkan Keinginan dari Dalam: Mulai dengan niat yang kuat. Pahami bahwa membaca adalah kebutuhan untuk berkembang, bukan sebuah paksaan.
-
Susun Reading List (Daftar Bacaan): Buat daftar buku yang ingin dibaca. Anda bisa memulainya dari buku yang relevan dengan profesi atau buku fiksi ringan yang menghibur.
-
Jadwalkan Waktu Membaca secara Konsisten: Pilih waktu terbaik yang paling minim gangguan, misalnya sebelum tidur atau di awal pagi. Jika dilakukan secara konsisten, aktivitas ini akan bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan (habit).
-
Selalu Sedia Buku di Mana Saja: Jika mobilitas Anda tinggi, biasakan membawa buku fisik atau memanfaatkan e-book di gawai. Manfaatkan waktu senggang di tengah kemacetan atau saat mengantre untuk membaca.
Peringatan Hari Buku Nasional diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan menjadi pemicu bagi masyarakat Indonesia untuk terus merawat nalar kritis dan memperkuat budaya literasi demi masa depan bangsa yang lebih baik.





































