Geliat Industri Batik di Bojonegoro
25 Perajin Batik Ikuti Workshop di Dolokgede
Minggu, 17 Januari 2016 19:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Tambakrejo - Sebanyak 25 perajin batik dari daerah sekitar operasi proyek unitasi gas Jambaran-Tiungbiru (J-TB) mengikuti workshop di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (17/01).
Acara ini merupakan rangkaian dari program Peningkatan Kualitas Perajin Sandang (Batik) Bojonegoro yang diprakarsai oleh Pertamina EP Cepu (PEPC) bekerjasama dengan Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos).
Manager Program Ademos Himawan Akhmadin, mengatakan, para perajin berawal dari lima desa. Adapun desa-desa tersebut adalah Bandongrejo, Dolokgede, Kalisumber, Pelem dan Kaliombo. Masing-masing desa diwakili oleh lima perajin. Proses sosialisasi dan pembinaan, lanjutnya, sudah dimulai sejak Oktober tahun lalu.
"Tahapan demi tahapan sudah dilewati. Dan kini mereka sudah bisa memproduksi batik sendiri. Untuk tutor kami datangkan dati Batik Training Center Bojonegoro," sambung pria berkaca mata itu.
Pantauan beritabojonegoro.com (BBC), para peserta dan panitia menggunakan pakaian batik Bojonegoro. Pakaian batik tersebut merupakan produksi mereka sendiri dari desa masing-masing. Ada 14 motif batik yang dapat mereka buat. Di antaranya daun jati, pisang, bunga rosella dan lain-lain. Mereka juga terlatih untuk membuat motif sendiri, sesuai dengan filosofi desa masing-masing.
Public and Goverment Affair Pertamina EP Cepu (PEPC) Edy Purnomo, menyampaikan kepada para perajin agar jangan takut jika tidak laku. Sasaran batik Bojonegoro, lanjut dia, sangatlah luas. Bisa dari instansi pemerintah, swasta, juga sekolah-sekolah.
"Untuk pemasaran sebetulnya bisa memanfaatkan jaringan mulai tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten. Dan saya pikir Ibu Kepala Desa dan Pak Camat pasti siap membantu," ujarnya menjelaskan.
Pria asal Lamongan itu menambahkan, jika satu desa sudah bisa jalan, pasti akan diikuti pula oleh desa-desa yang lain. Sebab itu, sementara biarlah kelima desa ini dulu yang berkembang.
"Kalau masing-masing desa sudah bisa mandiri dan bisa memberi manfaat luas, pasti akan diikuti desa-desa yang lain," tandasnya. (rul/tap)


































.md.jpg)






