Perluas Pemasaran Telur Program GAYATRI, Disnakkan Bojonegoro Fasilitasi KPM Jualan Rutin Hingga Tembus Instansi Pemerintah
Sabtu, 04 Juli 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro menunjukkan komitmen perluasan hilirisasi dan pemasaran hasil usaha para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tergabung dalam Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri). Salah satu yang konsisten dijalankan adalah dengan memfasilitasi kegiatan bazar penjualan telur mini yang rutin digelar setiap hari Jumat (03/07/2026) pagi di area halaman Kantor Disnakkan Bojonegoro hingga pukul 09.00 WIB.
Melalui skema fasilitasi pasar murah berkala ini, masyarakat luas maupun aparatur sipil negara dapat membeli komoditas telur segar berkuantitas prima secara langsung dari tangan pertama para peternak KPM. Langkah ini dinilai sangat efektif dalam memberikan ruang promosi yang lebih luas bagi para peternak lokal berskala mikro agar mampu mandiri dan memperlebar jangkauan pangsa pasar mereka di luar wilayah basis peternakan.
Tidak terbatas pada area halaman kantor dinas semata, jajaran Disnakkan juga proaktif menjembatani dan membuka akses jaringan distribusi bagi para KPM untuk memasarkan pasokan telur mandiri mereka ke berbagai instansi vertikal pemerintah kabupaten hingga menembus kalangan pelaku usaha swasta sektor kuliner.
Salah satu KPM Program GAYATRI asal Kelurahan Ledok, Kecamatan Bojonegoro, Siti Nur Hayati, saat ditemui di sela agenda jualan pada hari Jumat kemarin mengaku sangat terbantu dengan adanya pendampingan ketat yang diberikan oleh pihak Disnakkan dalam memutus rantai distribusi pasar yang panjang.
"Para KPM difasilitasi oleh Disnakkan, salah satunya dengan berjualan telur GAYATRI di halaman Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro. Selain itu juga membantu pemasaran ke dinas-dinas. Kemarin kami mengirim ke Dinas Kominfo, Dinas Perhubungan, Bagian Umum, Bagian Perekonomian, RSUD, hingga beberapa jasa katering," papar Siti Nur Hayati merinci daftar mitra pelanggannya.
Ia menjelaskan, produk telur yang dihasilkan lewat program GAYATRI ini dilepas ke pasaran dengan harga yang dipatok bersahabat, yakni sebesar Rp27.000 per kilogram. Adapun volume telur segar yang diboyong untuk dipasarkan setiap pekannya bergerak fluktuatif di kisaran 30 kilogram hingga 60 kilogram, di mana pada fase awal kepesertaan program dirinya bahkan sanggup menyuplai hingga menyentuh angka 75 kilogram sekali datang.
"Karena sekarang sudah rutin mengirim langsung ke kantor-kantor dinas, jumlah pasokan yang kami bawa ke lokasi penjualan di halaman Disnakkan menjadi sedikit berkurang karena sudah habis terserap di instansi," jelasnya menambahkan.
Di tengah kelancaran jalur serapan pasar tersebut, Siti menaruh harapan besar agar pihak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro ke depan dapat memformulasikan skema intervensi kebijakan baru berupa pemberian program subsidi pakan ternak ayam. Langkah stimulus tersebut dinilai krusial mengingat tren harga komponen pakan di tingkat distributor terus merangkak naik, sementara di sisi lain para peternak berkomitmen mengunci harga jual telur di level rendah agar tetap ekonomis bagi daya beli masyarakat.
"Kami berharap pakannya bisa disubsidi karena harga pakan naik. Harga telur kami tetap Rp27.000 per kilogram dengan kualitas yang tetap dijaga. Bisa dilihat dari warna cangkangnya yang kemerahan sebagai penanda kualitas isi. Kalau cangkangnya putih, biasanya harganya jatuh sekitar Rp20.500 per kilogram," pungkas Siti mengakhiri penjelasannya.
Melalui kesinambungan Program GAYATRI yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir ini, Pemkab Bojonegoro optimistis dapat menekan angka kemiskinan ekstrem sekaligus melahirkan kantong-kantong wirausaha baru yang tangguh di sektor ketahanan pangan. Sinergi pemasaran lintas dinas ini diharapkan mampu mengamankan rantai pasok kebutuhan protein hewani daerah sekaligus menjamin keberlangsungan pendapatan usaha para peternak binaan secara jangka panjang.






































