Musda Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro IX Tahun 2016
Membangun Amal Usaha untuk Kemandirian
Sabtu, 20 Februari 2016 10:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Kota - Tema yang diusung dalam Musda PDM Bojonegoro IX tahun 2016 adalah “Meneguhkan gerakan pencerahan menuju Bojonegoro berkemajuan”. Tentunya hal ini tidak lepas dari perjalanan panjang PDM Bojonegoro dari 1991 sampai saat ini yang menuai kesuksesan.
Kesuksesan Muhammadiyah untuk menjadi lembaga yang mandiri rupanya tidak serta merta seperti membalikkan telapak tangan. Ada proses panjang dan waktu yang tidak sebentar.
Dulunya Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro pada tahun 1991 saat membangun masjiq At Taqwa berharap dari infaq, zakat, dan shodaqoh. Mereka tidak memiliki bargaining of power. Bertahun-tahun berharap bantuan akhirnya Muhammadiyah mulai memikirkan cara untuk menjadi mandiri.
"Mulai tahun 2002 kami membangun amal usaha dimana dari sanalah bisa menghasilkan uang atas nama Muhammadiyah. Sumber ekonomi tersebut digunakan untuk berdakwah dan menggerakkan hingga bisa mandiri sampai sekarang," terang Ustadz Zainuddin, Ketua PDM dalam sarasehan pra Musda.
Saat ini Muhammadiyah Bojonegoro mempunyai beberapa amal usaha seperti SPBU Balen dan Kalitidu, Rumah Sakit Aisyiyah dan Stikes Muhammadiyah. Amal usaha inilah yang menjadikan Muhammadiyah menjadi mandiri hingga sekarang.
Hal ini sesuai dengan saat Pra Musda bertema “Meneguhkan mentalitas Mandiri gerakan Muhammadiyah Bojonegoro (Dulu, Kini dan Esok)”. Agar Muhammadiyah jangan meminta, mengeluh dan menghindari apa yang menghalangi.
"Semua hasil yang didapat adalah melalui proses yang panjang. Supaya kader Muhammadiyah harus paham, merealisasikan itu semuanya butuh konsisten, dipahami proses pembangunan dan perjalanannya, dan tidak bisa instan" imbuhnya. (ver/kik)


































.md.jpg)






