News Ticker
  • Angka Pengangguran Jawa Timur Menyusut hingga 3,55 Persen
  • HUT ke-30 Bank Daerah Bojonegoro Beri Bantuan Modal Pedagang Kembang Setaman
  • Tabrakan Vario Vs Smash di Jalan PUK Sugihwaras – Balen, Bojonegoro, Satu Orang Meninggal
  • TP PKK Sugihwaras Kampanyekan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Jadi Berkah
  • Disdukcapil Bojonegoro Rekam KTP-el Penyandang Disabilitas di Sekar
  • 23 Mei dalam Sejarah
  • PNM Siapkan Mental Wirausaha 2.700 Siswa SMK Se-Indonesia Lewat PNM Mengajar
  • Industri Migas Berdampingan dengan Pertanian, Bojonegoro Kokohkan Posisi Lumbung Pangan Terbesar Kedua di Jatim
  • Beroperasi Sejak September 2025, Pengoplos LPG 3 Kg di Kapas Diringkus Polres Bojonegoro
  • BPOM Ungkap 22 Produk Berbahaya Picu Stroke dan Ginjal Rusak, Ini Rinciannya
  • Kolom Abu Setinggi Satu Kilometer Keluar dari Kawah Gunung Semeru Jumat Pagi
  • Uji Konsekuensi Informasi Publik, Pemkab Bojonegoro Kaji Aturan Data Rahasia
  • Band Ungu Bakal Tampil di Stadion Letjen H Soedirman Bojonegoro, Sabtu 23 Mei 2026
  • PMI Bojonegoro Gelar Jalan Sehat Bareng Bupati Peringati Hari Palang Merah Sedunia, Ayo Ikutan
  • Disperinaker Bojonegoro Gelar Pelatihan Bahasa Jepang, Fasilitasi Pencari Kerja ke Luar Negeri
  • 22 Mei dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca 22 Mei 2026 di Bojonegoro
  • Avanza Tabrak Isuzu Elf dan Motor di Dander, Bojonegoro, 4 Orang Luka-Luka
  • Sinergi PLN dan Dinsos Jatim Hadirkan Layanan Omah Terapi-KU untuk Kelompok Rentan
  • Jejer Sejajar dan Bermartabat, Ruang Ekspresi Inklusif Seni Rupa Difabel Bojonegoro
  • Buruh Rokok Bojonegoro Terima BLT DBHCHT 2026 Paling Cepat di Jawa Timur
  • Disperinaker Bojonegoro Gelar Kelas Karir Gratis untuk Sarjana Muda, Hadirkan Coach Priyo Lelaki
  • Pemkab Bojonegoro Kembali Salurkan Rp 13 M BLT Cukai Tembakau 2026 Bagi Belasan Ribu Buruh Rokok
  • 21 Mei dalam Sejarah
Rhoma Irama dan Islam yang Tidak Memukul

Bincang-Bincang dengan KH Alamul Huda Masyhur, Pengasuh Ponpes Al Rosyid

Rhoma Irama dan Islam yang Tidak Memukul

Oleh Mulyanto

Kiai yang satu ini cukup populer. Gerakannya cekatan. Banyak relasi. Dikenal ramah dan familiar terhadap siapa saja. Aktif berorganisasi di mana-mana.

Lahir 51 silam (Bojonegoro, 2 Juni 1964.), KH Alamul Huda Masyhur juga aktif di forum lintas agama. Bersama para tokoh agama lain, Gus Huda yang Muslim membentuk Paguyuban Umat Beragama kisaran tahun 2001 silam.

Siang tadi (08/09) BBC (beritaBojonegoro.com) menemui beliau sambil duduk berhadap-hadapan dibatasi sebuah meja di Kantor Kementerian Agama Bojonegoro. Ditemani teh hangat, Gus Huda, sapaan akrab beliau, bercerita dengan renyah tentang pesantren, Rhoma Irama dan radikalisme agama yang tidak semestinya muncul. Berikut kami turunkan perbincangan itu.  

Gus Huda ini aktif di apa saja?

Saat ini saya menjadi pengasuh dan pimpinan di Pondok Pesantren Al-Rosyid, Pengasuh dan pimpinan di Pondok Pesantren Modern Ar-Rahmat, Pendiri Pondok Pesantren Al-Fatimah, Koordinator Bait al-Hikmah Polres Bojonegoro, ketua Forum Penyuluh Agama, menjadi Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Bojonegoro. Saya ini suka olahraga badminton dan takraw. Tapi takrawnya sudah pensiun. Sudah tuwek (tua/ sepuh).

Bisa diceritakan tentang PUB?

Tahun 2000, berawal dari pertemuan di rumah saya dengan tokoh-tokoh lintas agama. Nggak berkesan formal, tetapi gayeng (nikmat dan menentramkan). Sehingga dari kegayengan yang ada itu, memunculkan motivasi untuk melanjutkannya. Kemudian kami sepakat kumpul kembali. Sehingga sekitar 150 tokoh berkumpul di rumah saya saat itu, tokoh-tokoh pemuka agama, kiai-kiai juga, putra maupun putri. Dengan biaya kumpul itu, gotong royong. Ada mereka itu yang bawa supermie, ada yang bawa beras. Saya saat itu punya kolam lele juga. Untuk dimakan bareng-bareng. Setelah itu muncul gagasan untuk dibuat suatu forum. Saat itu awal tahun 2001, dibentuklah namanya PUB (Paguyuban Umat Beragama).

Kemudian (PUB) itu dideklarasikan pada 21 April di Padangan. Dihadiri oleh seluruh Forpinda, camat yang ada, KUA yang ada, di belakang saya seluruh tokoh dari seluruh agama, mendklarasikan Paguyupan Umat Beragama (PUB).

Tahun 2006-2007 itu ada SK Bersama Kementerian Agama dan, seluruh organisasi yang menaungi agama lintas akhirnya seluruhnya disatukan dalam Forum Kerukunan Umat Beragama.

Sebelum adanya FKUB pun sebenarnya, tahun 2005-2004, sudah sering kami melakukan kerja bakti dan baksos. Itu urunan (iuran) semua. Sebelum ada FKUB kami pernah bakti sosial di Desa Jipang (Kecamatan Margomulyo) di (masyarakat) Samin. Di situ kami memberi kepada sekitar 165 Kepala Keluarga alat pertanian seperti ganco, arit (sabit) dan pacul (cangkul). Karena mereka petani semua.

Sebagai aktivis kerukunan umat beragama, bagaimana  Anda memandang kerukunan agama di Bojonegoro?

Banyak masyarakat yang belum mengerti dari perbedaan agama ini. Perbedaan agama itu anugrah jika kita bisa menjaga kebersamaan dan bersinergi. Akan terasa indah sekali jika semua umat agama saling menghargai.

Apa yang bisa diperankan pondok pesantren untuk menangkal radikalisme agama?

Sebenarnya agama tidak boleh sekadar hitam putih dan tekstual. Bojonegoro sendiri untuk radikalismenya hampir tidak ada. Saat ini umat beragama Bojonegoro sangat tenang

Beda ulama jaman dulu dengan sekarang?

Sebenarya ulama jaman dulu dengan sekarang itu sama aja. Hanya psikologi masyarakat saja. Hanya yang berbeda itu metode berdahwahnya. Metodenya mengikuti trend zaman. Dengan itu berdakwah bisa eksis.

Peran agama dalam kehidupan berbangsa?

Agama mempunyai peran sangat penting untuk bangsa. Sebenarnya prinsip pertama menyuruh umat beragama untuk damai dan saling menyayangi. Dan di dalam semua agama pun sama; harus mencintai negara adalah anjuran agama.

Pesantren yang Anda asuh bercorak modern. Sedangkan di sisi lain pesantren itu identik dengan keterbelakangan. Apakah Anda berusaha mengikis pandangan itu?

Kebutuhan Masyarakat dulu tidak sama dengan kebutuhan masyarakat sekarang. Cara berpikir masyarakat dulu juga juga berbeda. Sehingga, kalau (demikian) di Ar-Rsyid ini ada perpaduan antara modern dan klasik. Kalau yang klasiknya itu kitab kuning. Tapi cara berpikirnya kita untuk ke depan. Hingga bahasanya pun kita galakkan bahasa Inggris dan Arab. Keterampilan, ekstrakulikuer, dan lain-lain. Dan kita sampaikan juga (pada para santri) yang kamu lihat (hadapi) adalah tantangan yang sangat besar. Mulai teknologi kemudian cara berpikir masyarakat, kemudian tantangan sosial yang beragam. Sehingga harus menguasai dasar-dasar teknologi, kepemimpoian dan life skill. Life sklill itu (seperti) apa? Salah satu di antaranya anak (santri) mau berorganisasi, diskusi dan juga seminar. Juga latihan pidato. Mereka harus mengikuti secara wajib, bagi kelas akhir, kursus mahir dasar dan praktek mengajar. Memang cukup besar (tantangannya), tapi kita mempersiapkan ke depan.

Gus Huda memandang modern itu seperti apa?

Saya memandang modern bukan sekadar peralatan modern. Kalau kita bicara moderan, kita lebih moderen lagi. Tapi lebih kepada kerangka berpikir. Bahwa ke depan itu ada tantangan yang lebih. Maka life sklill anak ini yang ditancapkan. Ketika mereka mempunyai mental kepemimpinan, ketika punya mental sosial, maka mereka mempu menghadapai situasi apapun ke depan, masyarakat kontemporer dan modern yang global. Mental anak itu yang harus disiapkan. Harus mampu menghadapi tantangan. Mampu bersosial dengan masyarakat.

Sekarang lagi isu hangat Islam Nusantara. Bagaimana Gus Huda memaknai?

Islam Nusantara baru pemikiran. Belum sebuah idealisme. Kalau nanti kebanyakan malah menjadikan perpecahan. Yaa, (Islam Nusantara adalah) Islam yang ada di Nusantara itu. Maunya sih menunjukkan masyarakat Islam itu membawa bendera agama (yang) merangkul. Bukan memukul. Ya sebenarnya itu, mengarahnya pada merangkul..., bukan memukul! Kenapa harus disebutkan (istilah) Islam Nusantara? Kalau begitu nanti ada Islam kemajuan, Islam Barat, Islam apa lagi.... Padahal Islam membawa rahmatan bagi semua umat. Tinggal bagaimana manusianya menerapkannya di daerah masing-masing. Kalau dinusantarakan lagi..., ngapain? Malah (bisa) membuat masalah yang kadang-kadang bisa membuat gap-gap (jarak/ kelas).

Kalau di NU itu ada konsep Ahlussunah Waljamaah, itu sudah. Sudah seperti itu. Kok ditambahi lagi iki piye?

Bisa cerita tentang Rhoma Irama dan hubungannya dengan dakwah Anda?

Begini. Kalau saya bukan (soal) politiknya. Lagunya Rhoma itu tidak ada yang jorok, itu satu. Yang kedua, syairnya selalu mengajak ke agama yang lurus. Yang ketiga, syairnya itu menyentuh untuk masyarakat Indonesia terutama bagaimana menjaga kesatuan. Seperti lagu... Janganlah saling menghina/ satu suku-bangsa dengan lainnya/ karena kita satu bangsa/ dan satu bahasa Indonesia/ Bhinneka Tunggal Ika Lambang negara kita Indonesia/ Walaupun bermacam-macam aliranTetapi satu tujuan.... (Gus Huda menyanyikannya dengan merdu dan penuh penghayatan).

Maka setiap pertemuan besar saya kan selalu (saat) memberi materi, maka saya playkan lagu-lagunya Rhoma.

Soal tadi, soal kegagalan politiknya, tadi itu soal lain. Itu urusan pribadi. Tapi untuk syairnya, tidak terkalahkan! (mol/moha)

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia

Menjadi "Raksasa" yang Lupa Cara Jadi Manusia

Pernahkah Anda merasa paling benar setelah memenangkan debat di kolom komentar? Atau merasa paling sukses saat melihat angka di saldo ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

Bojonegoro - Sepanjang 2025, produksi minyak Blok Cepu kembali melampaui target pemerintah. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), sebagai operator salah satu ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1779523844.9237 at start, 1779523845.3069 at end, 0.38317799568176 sec elapsed