Teater STIKes ICsada Bakal Tampilkan Pertunjukan Adaptasi Max Havelaar
Kamis, 02 Maret 2017 09:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Bojonegoro Kota – Kelompok teater Sekolah Tinggi Kesehatan Insan Cendekia (STIKes ICsada) akan menggelar pertunjukan teater kolosal berjudul Bajing Ketapang besok, Sabtu malam (04/03/2017) pukul 19.00 WIB di gedung Serba Guna Bojonegoro. Naskah Bajing Ketapang ditulis oleh Oky Dwi Cahyo berdasar novel berusia lebih dari 150 tahun berjudul Max Havelaar karya Multatuli atau Edward Douwes Dekker.
Oky Dwi Cahyo (28) mengatakan, kata Bajing Ketapang ini diambil dari dialog tokoh Saijah dan Adinda dalam novel tersebut. Sepasang kekasih di Lebak Banten itu membuat janji di bawah pohon ketapang untuk bertemu sebelum berpisah lama. Namun, kondisi yang menyesakkan membuat janji pertemuan itu tak pernah terjadi.
“Kenapa terjadi bajing ketapang? Karena ada perpisahan, yang adalah korban atau imbas dari penindasan dan pemerasan yang dilakuka oleh petugas pajak yang sewenang-wenang terhadap pribumi,” kata Oky, penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan yang melibatkan sekitar 80 pemain ini.
Novel Max Havelar sendiri merupakan cerita tentang tokoh bernama Max Havelaar, seorang asisten residen di Lebak Banten pada zaman pendudukan Belanda tepatnya di zaman tanam paksa. Max ini sosok yang sangat ingin membela kebenaran dan menentang pejabat pribumi dan juga atasannya pejabat-pejabat belanda. Saijah dan Adinda adalah kisah sepasang kekasih yang menjadi korban atas praktik kekejaman itu. Mereka tidak bisa bertemu karena harta dan kebebasan mereka sebagai manusia dirampas para pejabat. Max Havelaar sendiri menjadi pengganti asisten residen sebelumnya yang diduga tewas dibunuh oleh pejabat di atasnya.
Oky menjelaskan, karya ini bukan melulu tentang masa lalu. Bahkan ini menjadi pengingat dan pelajaran untuk zaman ini. Zaman dulu pendahulu Havelaar sudah ada kasus pembela kebenaran pada saat itu tersingkir, yang diduga diracun. Di zaman ini, bangsa ini pernah gempar dengan kasus pembunuhan Munir.
“Selain itu, saya juga memasukkan kasus-kasus kekinian. Seperti remaja yang mulai tidak suka membaca dan mulai gandrung dengan internet. Mereka tidak mendapatkan data secara lengkap karena kepraktisan internet yang setengah setengah,” kata Oky.
Bajing Ketapang memang diniatkan sebagai sebuah refleksi terhadap budaya literasi (baca-tulis) generasi saat ini. Cerita Saijah dan Adinda atau Max Havelaar ditulis lebih dari seabad yang lalu namun hingga kini masih dibaca. Paling tidak karya ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa sebuah buku melampaui rentang waktu yang cukup lama bisa dibaca orang.
Pertunjukan ini terbuka untuk umum dengan hanya membeli tiket seharga Rp 20 ribu. Oky berharap pertunjukan ini bisa mengisi malam minggu masyarakat Bojonegoro dengan hal yang menghibur sekaligus mendidik. (ver/moha)












































.md.jpg)






