Aksi Solidaritas Kendeng, Pameran Lukisan Diserbu Penonton
Selasa, 25 April 2017 08:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Bojonegoro Kota - Puluhan kaum muda saling menikmati goresan-goresan kuas yang ada di sana. Bukan sembarang goresan, tetapi lukisan-lukisan karya seniman muda yang menggelitik, isu pertanian di Indonesia. Tema besar yang diusung adalah Luh Dewi Sri, di mana menggambarkan bagaimana tangis seorang dewi kesuburan, dewinya para petani.
Lukisan karya Dwi Putra Puguh Pambudi ini bisa dinikmati di Jalan Serma Maun Banjarjo Bojonegoro. Pameran ini digelar selama tiga hari mulai Minggu (23/04/2017) sampai Selasa (25/04/2017). Pada pembukaan pameran terdapat pertunjukkan teater berjudul Eksodus. Eksodus sendiri berarti perpindahan masal secara besar-besaran dari suatu daerah ke daerah.

Setelah pertunjukkan teater selesai, para pengunjung diperbolehkan memasuki rumah yang disulap menjadi ruang pameran lukisan. Sambil menikmati karya-karya lelaki yang akrab dipanggil Puguh ini, para pengunjung disuguhi live music akustik dan juga penampilan Keroncong Menang Gondrong.
"Aksi solidaritas untuk kendeng memang sudah banyak dilakukan. Dan di Bojonegoro, saya ingin memulainya. Nah yang saya bisa adalah menyuarakan permasalahan-permasalahan ini melalui lukisan. Maka inilah yang saya lakukan," kata Puguh.
Salah satu lukisannya, tentang permasalahan yang terjadi di sektor pertanian juag telah dipamerkan di galeri nasional Jakarta. Lukisan yang lolos seleksi nasional itu mampu mengantarkan kita pada kenyataan bahwa tanah pertanian terus saja terkikis oleh pembangunan-pembanguna seperti perumahan.
Salah satu pengunjung pameran, Chusnul mengatakan bahwa pameran ini sangat keren. Bahwa ada seorang seniman muda yang berani melakukan pameran tunggal, terlebih tema yang diangkat adalah isu nasional terkait pertanian.
Hal serupa disampaikan oleh Eko Peye, perupa senior di Bojonegoro menyatakan apresiasinya terhadap Puguh.
"Sebuah keberanian yang perlu diapresiasi, bahwa pameran itu ternyata tidak perlu di gedung. tetapi juga di rumah biasa seperti ini," ungkapnya.
Meski demikian, Eko juga menyampaikan beberapa hal yang perlu dibenahi dari pameran tunggal pertama ini. Seperti membangun suasana Kendeng, agar lebih bisa menghipnotis pengunjung. (ver/inc)












































.md.jpg)






