Harga Cabai Rawit Setan Jeblok, Petani di Jepon Merugi
Jumat, 08 September 2017 16:00 WIBOleh Priyo Spd
Oleh Priyo Spd
Blora – Panen cabai rawit setan yang melimpah tak membuat para petani tersenyum. Sebab, harga cabai saat musim panen cenderung tak menguntungkan bagi para petani. Seperti yang terjadi di Desa Kemiri Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Para petani mengeluh lantaran harga cabai yang semakin turun.
Cabai rawit setan yang dulu terkenal mahal dan memiliki tingkat kepedasan tinggi ternyata saat ini harganya justru rendah. Banyak petani cabai rawit mengeluh anjloknya harga ketika musim panen tiba seperti yang terjadi saat ini.
Wasito, salah satu petani yang ditemui sedang memanen cabai merah setan di lahan sawah dekat embung Desa Kemiri, mengaku saat panen kali ini harga di pasaran hanya Rp 10 ribu per kilogram. Padahal harganya pernah sampai Rp 50 ribu per kilogram.
“Susah ini mas, di pasaran cabainya hanya laku Rp 10 ribu per kilogram. Tidak sepadan dengan ongkos penanaman dan perawatannya,” ujar Wasito Jumat (08/09/2017).
Hal senada juga disampaikan Ahmad Siman yang sedang memanen cabai rawit setan di tengah kebunnya. Menurutnya saat ini merupakan panen ketiga setelah ditanam pada bulan Mei lalu. Hasilnya meningkat daripada panen pertama dan kedua, namun harganya justru anjlok di pasaran.
“Ini sudah petik petiga, tapi harganya tak bagus. Di pasar lakunya sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogramnya. Petani susah kalau begini mas,” ujarnya.
Begitu juga dengan Muhammad Asnawi, pria paruh baya yang sedang memanen cabai rawit setan di lahan garapannya itu berharap harga bisa segera naik. Pasalnya cabai yang ditanamnya sejak akhir Mei lalu kini mulai memasuki musim panen, dan bisa dipanen hingga 10 kali petik.
“Sebenarnya cabai ini ditujukan untuk pengiriman ke pabrik Indofood, namun karena pabriknya belum membuka pengiriman cabai jadi terpaksa kita jual ke pasaran dulu. Harga pabrik Rp 13 ribu per kilogram, kalau di pasaran ini Rp 10 ribu per kilogram. Masih rendah untuk petani,” ungkap Asnawi.
Petani lainnya, Sutapsin mengatakan bahwa cabai rawit setan ini memang lebih cocok untuk konsumsi pabrikan. Karena ukurannya yang relatif lebih besar dan rasanya lebih pedas, jarang diminati untuk konsumsi rumah tangga. Mereka berharap cabai rawit setan bisa segera dikirim ke pabrik dengan harga yang bagus.
Pihaknya menjelaskan dalam satu kali panen atau petik, di lahan seluas sekitar 2 hektar tersebut rata-rata menghasilkan cabai rawit setan sebanyak 5 kwintal.
“Sebenarnya kalau hasilnya bagus, dan banyak juga namun karena ini musim kemarau pengairannya masih tergolong kurang,” terangnya.
Untuk diketahui, di sekitar embung Desa kemiri yang baru saja selesai dibangun itu setidaknya ada lahan sawah sekitar 2 hektar yang ditanami cabai rawit setan. Cabai rawitnya berukuran lebih besar daripada cabai rawit lokal. Yang dipanen pun hanya cabai yang sudah berwarna merah, bukan cabai rawit kuning atau hijau. (teg/kik)












































.md.jpg)






