DPK HKTI Bojonegoro Gelar Muskab
Senin, 23 Oktober 2017 15:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Bojonegoro - Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bojonegoro menyelenggarakan musyawarah kabupaten (Muskab) yang digelar di Hotel Griya Dharma Kusuma (GDK) Bojonegoro pada Minggu, 22 Oktober 2017.
Muskab ini dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus Kecamatan HKTI se-Bojonegoro (28 kecamatan). Musyawarah kabupaten ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum HKTI Jawa Timur, H Ahmad Nawardi, yang juga sebagai Wakil Ketua MPR RI. Muskab ini berjalan antusias dan semarak.
Ketua HKTI Jawa Timur, H. Ahmad Nawardi, menyampaikan banyak persoalan yang dihadapi petani, baik yang berhubungan langsung dengan produksi dan pemasaran hasil pertaniannya maupun yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
"HKTI ini sebagai wadah kerukunan tani, yang bertujuan agar sinergi antar petani dan pemerintah selalu meningkat. Sehingga dari tahun ketahun semakin banyak petani yang sejahtera dan makmur," harapnya saat pembukaan berlangsung.
Konsolidasi pengurus HKTI se-Bojonegoro ini melaksanakan forum tertinggi pemilihan Ketua Umum HKTI definitif dan membentuk kepengurusan HKTI Bojonegoro masa periode 2017-2022 dan rekomendasi program kerja ke depannya.
Dalam Muskab, atau forum tertinggi tersebut, dipilih ketua umum HKTI yang baru untuk 5 tahun ke depan. Yakni Drs H. Soehadi Moeljono, MM, dan terpilih secara aklamasi.
"Masa depan dunia berada di tangan pangan, ke depannya bukan konflik migas, tapi hasil-hasil pangan, serta problem di sektor pertanian mulai dari hulu dan hilir harus menjadi pekerjaan rumah yang kita selesaikan bersama. Sudah saatnya petani di Bojonegoro jaya dan makmur," ucap Drs. H. Soehadi Moeljono, MM atau yang akrab disapa Pak Mul ini dalam pesannya saat memberikan sambutan ketua terpilih.
"Ke depan, tugas kita sekarang adalah mendidik petani untuk menjadi petani-petani tangguh, yang memiliki produktivitas tinggi dan mampu berinovasi untuk meningkatkan nilai tambah petani" pungkasnya dengan mantab.
Tidak sedikit pula petani yang mempunyai lahan sempit, bahkan para petani yang tidak punya lahan dan hanya sebagai buruh tani, maka harus ada pemberdayaan dan cara pandang dan berfikir ketika pasca panen.
"Kita juga harus berfikir lebih ketika pasca panen dengan lebih meningkatkan produksi petani yang bisa diolah menjadi bahan produksi dan sehingga memiliki nilai tambah dan hal ini juga butuh kreatifitas dan inovasi para petani, " pungkas Pak Mul. (mol/kik)












































.md.jpg)






