News Ticker
  • Cara Para Pendidik di Bojonegoro Tumbuhkan Budaya Memilah Sampah Sejak Dini
  • Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Bojonegoro Bertabur Penghargaan Prestasi Pemuda
  • Sunaryo Resmi Dilantik Jadi Sekda Blora Bertepatan Peringatan Hari Sumpah Pemuda
  • Pemkab Bojonegoro Sosialisasi Perbup Nomor 36 Tahun 2026 tentang Sistem Kerja ASN, Hapus Jabatan Subkoordinator
  • Pemkab Bojonegoro Salurkan CSR PT ADS untuk 161 Pedagang Pasar Kota Lama
  • Anda Suka Makan Telur Mentah dan Setengah Matang? Ini Bahayanya Menurut Ahli Gizi
  •   28 Oktober dalam Catatan Sejarah 
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 28 Oktober 2026
  • Mengabdi 31 Tahun, Emy Edi Susanto Raih Penghargaan Adhi Bhakti Pratama dari TP PKK Pusat
  • Lepas 345 Kontingen POPDA XV dan PEPARPEDA III Jatim 2026, Bupati Bojonegoro Targetkan Masuk 10 Besar
  • Operasi Modifikasi Cuaca BNPB dan BMKG Mulai Membuah Hasil, Hujan Ringan Guyur Surabaya
  • Operasi Modifikasi Cuaca BNPB dan BMKG Mulai Membuah Hasil, Hujan Ringan Guyur Surabaya
  • Dampak Buruk Kurang Tidur Lebih Berbahaya Dibanding Jarang Makan Nasi
  • PMI Bojonegoro Kumpulkan 178 Kantong Darah dari Pendonor di Lokasi Wisata GoFun
  • Dorong Transparansi Hingga Pelosok, Pemkab Bojonegoro Perkuat Keterbukaan Informasi Publik Desa Jelang Wawancara E-Monev KIP 2026
  • 27 Oktober dalam Catatan Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 27 Oktober 2026
  • Polres Bojonegoro Kembalikan Motor Hasil Ungkap Kasus Operasi Sikat Semeru 2026 ke Pemiliknya
  • Gelar Operasi Sikat Semeru 2026, Polres Bojonegoro Ringkus 11 Tersangka dan Pengungkapan Tuntas 100 Persen
  • Dorong Promosi Geopark, Pemkab Bojonegoro Resmikan Wisata TEKAD Banyu Kuning di Krondonan Gondang
  • Pemkab Bojonegoro dan Perhutani Siapkan Reboisasi 2.300 Hektare, Satu Juta Bibit Ditanam pada 2027
  • Usai Sukseskan Hari Santri, Kemenag Bojonegoro Siapkan Peringatan HAB
  • RSUD Sosodoro Bojonegoro Buktikan Mutu Layanan Jantung dan Saraf dengan Penghargaan Tingkat Nasional
  • 26 Oktober dalam Catatan Sejarah
Petani Belimbing Ingin Naik Haji

Menyapa Mbah Nur, Perintis Kebun Belimbing Ringinrejo

Petani Belimbing Ingin Naik Haji

Oleh Mulyanto

Kalitidu-Pada mulanya adalah Jaenuri. Biasa disapa Mbah Nur. Lahir tahun 1954 di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Tanggal dan bulan dia tak ingat. Dia punya satu anak perempuan yang sekarang sudah memberinya seorang cucu.

Desa tempat dia tinggal dikenal di mana-mana lantaran deretan ribuan tanaman blimbing yang saat ini sedang direncanakan menjadi Agro Wisata oleh pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Daunnya hijau dan buahnya besar-besar dan segar. Tapi jarang ada yang tahu bagaimana kiprah Mbah Nur pada keberadaan tanaman blimbing itu. BBC, sebutan BeritaBojonegoro.com, beruntung dan bahagia bisa bertemu dengan dia. BBC menemuinya saat dia tengah makan siang di bawah pohon-pohon miliknya bersama keluarga dan para pekerjanya.

Ya, Mbah Nur adalah sang pemula. Dialah yang pertama kali menanam belimbing di lahan di desanya saat semua orang menertawakannya.

Berawal dari kumpulan di balai desa tentang pemberdayaan ekonomi pada tahun 1984. Saat itu dia mendengar ada orang di Kanor yang bisa naik haji berdua setelah menunggu 6 tahun karena tanaman belimbingnya. Mbah Nur kaget dan terobsesi. Dia punya niatan kuat untuk bisa naik haji yang pada saat itu dirasakannya mustahil.

"Apa benar ada orang dalam 6 tahun bisa naik haji berdua dengan nanam belimbing?" kata Mbah Nur mengenang. Ekspresinya serius tetapi ramah. Itu pertanyaan yang mengganjal di kepalanya saat itu dan akan segera terjawab nantinya.

Mbah Nur mengaku bahwa selesai itu, dia langsung berkunjung ke Kanor menemui H Suhadak. H. Suhadak inilah yang dikabarkan bisa naik haji karena belilmbing. Kepada Mbah Nur, H. Suhadak mengaku bahwa kabar itu benar. Bahwa dia bisa naik haji dalam 6 tahun dengan menanam belimbing sekitar 60 pohon.

Kepada H. Suhadak lah kemudian Mbah Nur belajar dan memantapkan diri untuk menanam belimbing di Ringinrejo. Setelah beberapa kali bertemu, suatu kali Mbah Nura pulang membawa 800 bibit pohon belimbing.

"Harganya saat itu 5 Rupiah. Tapi tidak semua bisa hidup," katanya.

Karena tidak bisa hidup semua itu, Mbah Nur kembali kepada H. Suhadak dan membeli lagi bibit asli dari buahnya.

Saat itu Mbah Nur mengaku menemui kendala. Ternyata bibit belimbing itu membutuhkan pupuk kandang. Dan dia tidak memilikinya.

"Saya menukarkan beberapa bibit pohon belimbing dengan pupuk kandang tetangga," terang Mbah Nur.

Saat itu adalah bulan april 1984, kenang Mbah Nur, pertama tanam. "Kemudian kena banjir. Namun bisa hidup," katanya. Saat itu Mbah Nur, aku dia sendiri, mendapat cibiran dari para tetangga.

"Mereka manertawakan saya. Lha wong menanam jagung saja susah panen kok nanam belimbing. Nggak umum. Aneh-aneh," ujarnya.

Mbah Nur tak gentar. Dengan semangat 45, dia tak bergeming. tekadnya bulat sebagaimana pepatah walau anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Meski harus menunggu 3 tahun, akhirnya Mbah Nur bisa memanen buah belimbing tanamannya.

"Saya bingung mau jual ke mana. Saya tanya lagi pada H. Suhadak. Saya diminta menjualnya ke pasar kota saja. Saya turuti. Sedikit-sedikit, hingga akhirnya pembeli membludak. Sampai kuwalahan," katanya.

Pada panen pertama itu, Mbah Nur mengantongi untung cukup tinggi, mencapai rp 50 juta. "Akhirnya tetangga tahu dan mulai ikut nanam," kenangnya.

Sejak kebun miliknya dan semua warga lainnya dikelola dengan rapi oleh pemerintah desa setempat, kebun milik Mbah Nur ternyata jarang dikunjungi orang. Itu karena letaknya memang berada cukup jauh masuk ke dalam.

Kini, selain belimbing, Mbah Nur juga memelihara beberapa tanaman lainnya, seperti jambu merah tanpa isi dan jati putih Selain itu, Mbah Nur juga membudidayakan ikan lele dan ayam cemani. Semua ditempatkan di kebun belimbing miliknya.

Pada Festival belimbing beberapa pekan lalu, Mbah Nur sempat menjadi perhatian. Orang-orang, para petani belimbing Desa Ringinrejo, merubungnya untuk meminta daun kelapa muda (janur).

Tentang itu Mbah Nur mengaku, memang setiap tahun dia mengikatkan selembar janur pada pohon belimbing miliknya. Tanpa diminta, semua mengikuti apa yang dia lakukan.

Mbah Nur mengaku itu sebagai doa dan simbol keselamatan. "Tujuannya untuk meminta kepada Tuhan agar memberi cahaya (sebagaimana namanya. Nur artinya cahaya), supaya panen bisa maksimal," terangnya.

Hanya saja, niat kuat Mbah Nur untuk bisa naik haji hingga saat ini belum kesampaian. Dia masih berkeinginan untuk bisa naik haji seperti H. Suhadak yang selang 6 tahun menanam belimbing, bisa berangkat ke Tanah Suci. Meski demikian, dia sudah mendaftar. Tinggal menunggu waktu. (mol/moha)

 

Foto Mbah Nur sedang makan siang

Banner Ucapan HJB ADS
Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani, Pemkab Bojonegoro Gelar Gutanbo Fest 2026

Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani, Pemkab Bojonegoro Gelar Gutanbo Fest 2026

Bojonegoro Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) 2026 di Alun-Alun Bojonegoro pada Jumat (16/10/2026). Perhelatan dibuka ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Cara Kafein "Menipu" Otak Kita

Opini

Cara Kafein "Menipu" Otak Kita

Menghadapi tumpukan materi kuliah, kejaran tenggat tugas, dan jadwal kelas pagi yang tak kompromi sering kali memaksa mahasiswa mencari jalan ...

Sosok

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional

Bojonegoro - Di tengah gempuran arus budaya modern, kepedulian terhadap pelestarian kesenian tradisional ditunjukkan oleh Ki Ngesti Adi Anggoro, seorang ...

Infotorial

Dari Sukoharjo ke Milan: Kisah Sukses Perempuan Desa Sekitar Lapangan Kedung Keris Bojonegoro

Dari Sukoharjo ke Milan: Kisah Sukses Perempuan Desa Sekitar Lapangan Kedung Keris Bojonegoro

Berbekal kedisiplinan dan keuletannya, Unanik kini bisa membantu ekonomi keluarga. Perempuan asal Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro ini mampu membiayai ...

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Berita Foto

Foto Evakuasi Serpihan Pesawat T-50i Golden Eagle TNI AU yang Jatuh di Blora

Blora - Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan warga sekitar terus melakukan pencarian terhadap serpihan pesawat tempur T-50i Golden ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Merawat Warisan Geologi di Kedung Lantung, Bojonegoro, dari Perut Bumi untuk Masa Depan

Wisata

Merawat Warisan Geologi di Kedung Lantung, Bojonegoro, dari Perut Bumi untuk Masa Depan

Bojonegoro - Bukan sekadar destinasi wisata anyar, Geosite Kedung Lantung di Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi ...

Hiburan

Film Digger,  Komedi Satir tentang Kekuatan Konspirasi Pengancam Lingkungan

Film Digger, Komedi Satir tentang Kekuatan Konspirasi Pengancam Lingkungan

Bojonegoro Sutradara kenamaan Alejandro Gonz lez I rritu kembali menggebrak dunia perfilman lewat karya terbarunya berjudul Digger. Mengusung genre komedi ...

1793182081.1549 at start, 1793182083.4757 at end, 2.3208010196686 sec elapsed