Muhammad Chamdan, Guru Matematika SMP Negeri 1 Padangan, Korban Minibus vs KA
Chamdan Sang Guru Teladan. Dikenal Penyabar dan Perhatian Terhadap Muridnya
Senin, 19 Oktober 2015 06:30 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Padangan – Suasana duka menyelimuti lingkungan SMP Negeri 1 Padangan di Kecamatan Padangan. Salah satu guru teladan di sekolah ini yaitu Muhammad Chamdan (47), warga Dusun Petak, Desa Beged, Kecamatan Gayam, ikut menjadi korban tabrakan minibus elf nopol S 7536 AA dengan kereta api barang nomor CC 2061381 di palang pintu kereta api kawasan Kelurahan Jetak, Kota Bojonegoro, Minggu (18/10) kemarin.
Kabar ikut terenggutnya nyawa Muhammad Chamdan, sang guru teladan, itu sudah terdengar dari mulut ke mulut di lingkungan sekolah favorit di wilayah barat Bojonegoro tersebut. Pagi ini, Senin (20/10) kabar meninggalnya Muhammad Chamdan, sang guru teladan, itu disampaikan oleh Kepala Sekolah (Kasek) SMP Negeri Padangan, Nur Kholis, pada para guru dan murid. Ia meminta agar para guru dan murid mendoakan agar sang guru teladan itu diterima segala amal baiknya dan diampuni segala dosanya. Nur Kholis sendiri ikut ke Blitar, ke rumah duka. Sebab, Pak Chamdan, sapaan Muhammad Chamdan, pagi ini dimakamkan di tempat kelahirannya, Blitar.
Di mata murid-muridnya, Muhammad Chamdan, dikenal sebagai guru yang penyabar dan telaten. Ia mengajar matematika di kelas 8 A dan 8 B. Anaknya, Sania, yang turut menjadi korban tabrakan dan mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Wahyu Tutuko Bojonegoro, juga menjadi murid di sekolah ini. Sania duduk di kelas 8. Setiap pagi, bapak dan anak itu selalu berangkat sekolah bersamaan. Muhamamd Chamdan memboncengkan anaknya, Sania, dari Dusun Petak ke SMP Negeri Padangan yang berjarak sekitar sepuluh kilometer.
Kabar meninggalnya sang guru teladan itu menyisakan kesedihan mendalam bagi rekan sesame guru dan murid-muridnya. “Beliau (Muhammad Chamdan, red) mengajar matematika. Orangnya sangat penyabar dan perhatian terhadap muridnya. Kalau ada muridnya yang tidak bisa, beliau akan mengajarinya sampai bisa,” ujar Ananda Silvia, salah satu siswi SMP Negeri 1 Padangan, pada BBC, sapaan BeritaBojonegoro, Senin (19/10).
Silvi, sapaan siswi itu, menuturkan, di mata murid-muridnya Muhammad Chamdan dikenal sebagai guru teladan, perhatian dan penyayang. Ia jarang sekali terlihat marah. “Orangnya sangat baik. Dan salah satu guru terbaik di sekolah ini,” tuturnya.
Sementara itu menurut Amalia Qoriah, bekas murid SMP Negeri 1 Padangan, yang kini sudah kuliah di IKIP PGRI Bojonegoro, menuturkan, jasa Muhammad Chamdan tidak terlupakan. Amalia yang kini mengambil jurusan matematika di IKIP PGRI Bojonegoro itu mengaku, ia bisa menyukai dan menguasai ilmu matematika yang dikenal sulit itu berkat jasa guru teladannya itu, Muhammad Chamdan.
‘Saya hampir tidak percaya beliau (Muhammad Chamdan, red) ikut menjadi korban tabrakan itu,” ujarnya pada BBC.
Lia, sapaannya, mengungkapkan, Muhammad Chamdan telah mengabdi cukup lama di SMP Negeri 1 Padangan. Ia merupakan salah satu guru yang disukai oleh murid-muridnya. Sebab, ia dikenal penyabar, perhatian, dan jarang terlihat marah pada murid-muridnya.
“Meskipun saat mengajar beliau tidak didengarkan oleh murid-muridnya. Ia tidak marah. Ia tetap saja mengajar. Anak-anak yang tidak bisa pelajaran matematika diajari sampai bisa. Jarang ada guru seperti pak Chamdan,” ungkapnya.
Muhammad Chamdan sebenarnya juga menjadi salah satu kandidat kepala sekolah SMP Negeri 1 Padangan. Ia menjadi salah satu calon kasek bersama guru lainnya yaitu Nur Khalim. Menjadi guru, apalagi kepala sekolah di sekolah favorit ini sungguh membanggakan. Bagaimana tidak, dulu Pratikno, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, juga sekolah di SMP Negeri 1 Padangan ini. Sekolah ini diminati oleh siswa dari daerah Padangan, Purwosari, Gayam, Ngraho, dan juga bahkan, Cepu. Masuk ke sekolah ini juga sulit karena persaingan untuk masuk juga berat. (rul/kik)
foto SMP Negeri 1 Padangan











































.md.jpg)






