TBC Masih Jadi Ancaman Serius di Bojonegoro, Dinkes Tekankan Pentingnya Deteksi Dini
Sabtu, 28 Maret 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis ini bukan sekadar batuk biasa, melainkan infeksi menular melalui udara yang menuntut penanganan medis secara tuntas hingga tahun 2030.
Bakteri ini menyerang paru-paru dan menular saat penderita batuk atau bersin tanpa perlindungan. Risiko penularan menjadi sangat tinggi di lingkungan padat penduduk seperti pondok pesantren, asrama, hingga lembaga pemasyarakatan. Kelompok dengan daya tahan tubuh rendah, seperti anak-anak, lansia, penderita diabetes melitus, serta individu dengan malnutrisi, menjadi sasaran paling rentan terhadap serangan bakteri ini.
Gejala klinis yang patut diwaspadai meliputi batuk terus-menerus selama lebih dari dua minggu, penurunan berat badan secara drastis, hilangnya nafsu makan, demam, serta munculnya keringat pada malam hari meski tanpa aktivitas fisik. Diagnosis pasti dilakukan melalui pemeriksaan dahak dan rontgen dada untuk melihat kondisi paru-paru secara langsung.
Dokter Spesialis Paru, dr. Rizki Diah, Sp.P, menegaskan bahwa TBC tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan herbal semata. Penyakit ini membutuhkan pengobatan medis yang tepat dan berkelanjutan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Jika pengobatan terputus atau tidak tuntas, bakteri dapat menjadi kebal dan berisiko menularkan varian yang lebih berbahaya kepada orang lain di sekitar penderita.
Dalam upaya eliminasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro kini menerapkan teknologi terbaru berupa portable X-ray berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk deteksi dini. Alat ini memungkinkan skrining massal dilakukan lebih cepat dan akurat, terutama bagi kelompok berisiko tinggi dan kontak erat pasien.
Target nasional yang dibidik adalah menurunkan angka kejadian TBC menjadi 65 per 100.000 penduduk dengan angka kematian di bawah 6 per 100.000 penduduk. Melalui penemuan kasus secara aktif (active case finding) yang akan digencarkan di 36 puskesmas mulai April 2026, diharapkan tidak ada lagi kasus TBC yang tersembunyi di tengah masyarakat.
“TBC harus ditangani dengan pengobatan medis yang tepat dan tuntas. Jika tidak, bisa menular ke orang lain dan berisiko semakin parah,” tegasnya.
Kesadaran penderita untuk berobat hingga sembuh dan keterbukaan keluarga dalam melaporkan gejala menjadi kunci utama. Eliminasi TBC 2030 adalah target nyata untuk memutus rantai penularan dan menciptakan lingkungan yang bebas dari ancaman bakteri mematikan ini.











































.md.jpg)






