Warga Pelintas Rel Pertanyakan Kapan Palang Pintu Dioperasikan
Senin, 19 Oktober 2015 22:00 WIBOleh Ahmad Bukhori
Oleh Ahmad Bukhori
Sumberrejo - Dalam dua hari ini kecelakaan tertabrak kereta terjadi di dua perlintasan kereta di wilayah Bojonegoro. Setelah Minggu (18/10) kemarin di perlintasan Jetak, Kota Bojonegoro, Senin (19/10) siang tadi juga terjadi peristiwa yang sama di perlintasan Prayungan Sumberrejo. Dua kecelakaan ini langsung menggugah kegelisahan dan kekhawatiran warga pelintas rel.
Rel kereta api yang membujur dari barat ke timur memang membawa konsekuensi. Apalagi sekarang rel jadi ganda alias double track. Kepadatan lalu lintas kereta semakin meningkat. Tiap hari paling tidak ada 50 kereta yang lewat dengan interval sekitar 15 menit.
Lintasan rel juga memotong beberapa jalan akses utama yang setiap pagi dan sore dipadati para pelintas. Melihat intensitas kereta lewat yang meningkat jelas membuat pelintas rel, baik pejalan kaki, pengendara motor dan mobil harus ekstra hati-hati. Jika hendak lewat perlu tengok kanan dan kiri. Seperti yang dihimbaukan oleh Dinas Perhubungan dan pihak PT Kereta Api Indonesia lewat tulisan yang dipampang di setiap perlintasan.
Selain rambu-rambu, penjaga jalan lintas dan warga pelintas rel berharap pihak berwenang memasang palang pintu di setiap jalur perlintasan kereta. Terutama di titik perlintasan yang rawan kecelakaan. Seperti perlintasan di Medalem dan Talun Kecamatan Sumberrejo, Gampeng dan Balenrejo Kecamatan Balen, serta Proliman dan Kalianyar Kecamatan Kapas.
Kelima titik itu memang rawan terjadi kecelakaan. Dari kelima lintasan itu, empat di antaranya sudah dibangun palang pintu oleh Dinas Perhubungan.
Namun sayangnya, kata Juli Ariyadi (39), seorang penjaga lintasan di Medalem, hingga kini palang pintu elektrik itu belum beroperasi. Sementara ini, beberapa penjaga jalan lintasan berjaga tanpa palang pintu.
"Jika ada kereta yang hendak lewat, saya menghadang orang yang hendak melintas," ujarnya.
Caranya, dia berdiri di tengah jalan dan merentangkan kedua tangan. Sesekali mengibarkan bendera merah yang digenggam. Di tengah jalan itu dia menghadang para pengendara dan pejalan kaki yang hendak melintas.
Panas terik tengah hari dan dinginnya malam tidak menjadi kendala bagi para penjaga jalan lintas. Namun, kadang juga mengeluh. Yang dikeluhkan adalah kapan palang pintu perlintasan kereta itu dioperasikan?
"Dulu katanya setelah lebaran Idul Fitri. Hingga kini kok ya belum juga dioperasikan," tandas Juli.
Dia menjelaskan soal kerawanan di jalan lintasan Medalem. Beberapa warga di sekitar rel setempat juga mengakuinya. Katanya, di lintasan situ sering terjadi pelintas rel tertabrak kereta. "Rawan sekali kecelakaan, pelintasnya juga banyak. Perlu diwaspadai," imbuhnya.
Juli menambahkan, di perlintasan Talun malah sudah ada palang pintu yang dibangun beberapa bulan lalu. Tapi sayangnya masih nganggur. "Ada palang pintu, Mas, tapi masih nganggur. Selain itu di Talun juga rawan kecelakaan, banyak pelintas terutama anak-anak sekolah," ungkapnya.
Di perlintasan Gampeng juga sama. Pelintasnya banyak. Selain itu juga rawan. Pada 2014 lalu, pernah terjadi truk diseruduk kereta di lintasan itu. Perlintasan kereta itu tampak sepi penjaga. Hanya ada satu orang usia setengah tua berjaga di jalan lintasan tersebut. Dialah Mbah Timan, sapaan akrab Sutiman, warga Kedungwaru. Itupun tidak tiap hari dilakukan Sutiman. "Jika nganggur saja, saya baru berjaga di rel," ucapnya.
Karena rawannya di jalan lintasan itu, Sutiman dengan suka rela berjaga. Meskipun tidak ada imbalan secara pasti. "Ya, kalau dikasih baru saya terima, Mas," imbuhnya.
Dia dan beberapa warga setempat sangat mengharapkan jalan lintasan Gampeng itu diperhatikan pemerintah ataupun pihak PT Kereta Api Indonesia. "Kalau tidak bisa dibangun palang pintu, paling tidak ya pos jaga lah. Biar bisa untuk berteduh penjaga," ujar Sidiq, warga setempat.
Potensi rawan kecelakaan juga meliputi perlintasan Balen dan Kapas. Para penjaga jalan lintasan di lokasi tersebut juga berharap palang pintu yang sudah dibangun Dinas Perhubungan segera dioperasikan.
"Paling tidak bisa mengurangi kerawanan terjadinya kecelakaan pelintas rel," ujar Fatikun, penjaga jalan lintas di Balen. (ori/tap)





































