Komunitas Al-Anam Beri Bantuan Air Bersih pada Warga di Kecamatan Kedungadem Bojonegoro
Sabtu, 26 Oktober 2019 12:00 WIBOleh Dan Kuswan SPd Editor Imam Nurcahyo
Bojonegoro - Komunitas Alumni At-Tanwir 2006 (Al-Anam) pada Sabtu (26/10/2019) laksanakan bakti sosial, dengan memberikan bantuan satu tangki air bersih, kepada warga di Dusun Donggi Desa Ngrandu Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro, yang alami krisis air bersih.
Dalam kegiatan tersebut, tampak warga setempat langsung berlarian, dengan membawa bak atau jriken menuju truk tangki yang membawa bantuan air bersih tersebut. Aksi berebut air bersihpun tak terhindarkan, lantaran warga sama-sama ingin mendapatkan air bersih lebih dulu.
Nur Hayati, salah satu warga dusun setempat mengatakan, bahwa di Dusun Donggi Desa Ngrandu Kecamatan Kedungadem, atau yang lebih di kenal dengan Mbabrik, selama musim kemarau ini baru ada dua kali bantuan air bersih. Yang pertama dari kelompok mahasiswa dan kedua adalah dari alumni At-Tanwir ini.
"Baru dua kali ini ada bantuan, kalau ada bantuan selalu di bawa ke Donggi bagian selatan," tuturnya dalam bahasa Jawa.
Suasana pemberian batuan air besih di Dusun Donggi Desa Ngrandu Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro, oleh Komunitas Alumni At Tanwir 2006 (Al-Anam). Sabtu (26/10/2019)
Muhammad Rozikin, perwakilan Alumni At-Tanwir 2006 (Al-Anam) mengatakan, saat ini kekeringan masih terus terjadi, sementara droping air dari pemerintah ataupun pihak swasta belum merata, sehingga pihaknya ikut andil melakukan bakti sosial, guna meringankan beban warga yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
"Kami sudah droping 18 tangki air bersih di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Baureno, Kepohbaru, Sumberrejo dan Kecamatan Kedungadem," tutur Muhammad Rozikin.
Muhammad Rozikin, juga menuturkan bahwa di Dusun Donggi ada sekitar 40 kepala keluarga. Selama musim kemarau ini, untuk mendapatkan air bersih warga harus menempuh hingga satu kilo meter untuk mengambil aid di sumur yang letaknya di tengah sawah atau di rumah desa tetangga.
"Ada yang mengambil dengan dipikul dan berjalan kaki. Ada juga yang menggunakan sepedah motor." katanya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa berdsarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menyebutkan bahwa hingga minggu ketiga bulan Oktober 2019, terdapat 71 desa yang tersebar di 20 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, alami krisis krisi air bersih akibat dampak musim kemarau yang berkepanjangan.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui BPBD, mulai tanggal 23 Juli 2019 sampai dengan tanggal 21 Oktober 2019 sebanyak 1.010 rit atau tangki (@ 6.000 liter) air bersih untuk daerah terdampak kekeringan yang telah mengajukan permohonan.
"Sumber dana untuk distribusi air bersih tersebut dari APBD Pemkab Bojonegoro sejumlah 500 rit dan dari APBD Pemprov Jatim sejumlah 510 rit," tutur Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro, Drs Umar Ghoni MM, melalui keterangan pers, Senin (21/10/2019) lalu. (dan/imm)