Rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 338
Seblak Sampur, Lestarikan Kesenian Langen Tayub
Minggu, 22 November 2015 09:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kota - Stadion Letjend Soedirman Bojonegoro Sabtu (21/11) malam dipenuhi oleh ratusan warga Bojonegoro. Warga yang hanya berjumlah ratusan tersebut rupanya tengah berkumpul untuk menyaksikan pertunjukkan kesenian langen tayub.
Dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 338, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan acara Seblak Sampur, yakni lomba beksan yang dalam pelaksanaanya didapuk oleh panitia Paprabo (Persatuan Pramugari Bojonegoro).
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Amir Syahid, kepada BBC mengungkapkan bahwa acara Seblak Sampur ini diadakan kedua kalinya dalam rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB).
"Sepatutnya diberikan apresiasi kepada Paprabo dan masyarakat pecinta langen tayub, karena dengan cara semacam ini, lomba beksan, miding kita telah melestarikan budaya kita," ujar Amir, Kadisbudpar.
Amir berharap kepada seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, agar terus melestarikan budaya tayub di Bojonegoro. "Disbudpar siap memfasilitasi apa saja budaya yang akan dilestarikan oleh masyarakat agar sampai pada anak cucu kita," imbuhnya.
Acara Seblak Sampur dalam rangka HJB ke 338 tersebut dibuka oleh Asisten I Pemerintahan, Joko Lukito, mewakili Bupati Bojonegoro. Sebelum membuka acara tersebut, Joko mengungkapkan bahwa kesenian tayub merupakan kesenian yang positif dan harus dilestarikan.
Kalau selama ini, kata Joko, tayub masih diidentikan dengan minum dan mabuk-mabukan, hal tersebut harus ditepis. "Tayub itu budayanya yang harus dilestarikan, sementara minum itu perilaku masyarakat yang harus diarahkan," ujarnya kepada BeritaBojonegoro.com (BBC).
Ia berpesan kepada pembeso (yang menari mengikuti waranggono), agar bisa dengan tertib menikmati keindahan budaya tayub tersebut. "Dengan ini, berarti kita telah melestarikan tayub agar tetap terjaga. Semoga kedepan seblak sampur ini bisa diadakan tiap tahun oleh disbudpar," harapnya.
Bak warisan leluhur, semenjak acara dibuka hingga setiap penampilan berganti, seblak sampur tampak sakral diiring oleh lembut gamelan khas Jawa. Tentunya, para pendahulu menciptakan kesenian langen tayub tersebut pasti mempunyai makna yang dalam. Sebaiknya kita bisa menikmati dengan baik. (lyn/moha)





































