Nikmat Tapi Bisa Bikin 'Panas' Dalam, Ini Manfaat Makanan Pedas dan Risikonya bagi Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Siapa yang bisa menolak sensasi pedas menggigit di lidah? Makanan pedas memang jadi favorit banyak orang, terutama di Indonesia yang kaya akan sambal dan hidangan berbumbu cabai. Namun, di balik kenikmatannya, ada senyawa bernama capsaicin yang bertanggung jawab atas rasa terbakar itu—dan sekaligus memengaruhi tubuh secara unik.
Menurut berbagai sumber kesehatan terpercaya, konsumsi makanan pedas dalam jumlah wajar bisa memberikan sejumlah keuntungan bagi tubuh. Berikut beberapa manfaat utamanya:
- Meningkatkan daya tahan tubuh — Cabai kaya akan vitamin C dan A yang berfungsi sebagai antioksidan kuat, membantu melindungi sel dari kerusakan dan menjaga sistem imun tetap prima.
- Membantu program penurunan berat badan — Capsaicin mampu meningkatkan suhu tubuh dan mempercepat metabolisme, sehingga kalori terbakar lebih efisien. Selain itu, rasa pedas juga bisa menekan nafsu makan dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
- Menjaga kesehatan jantung — Senyawa ini membantu mengurangi peradangan serta mencegah pembekuan darah berlebih, yang berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
- Potensi pencegahan kanker — Beberapa penelitian menunjukkan capsaicin dapat menghambat pertumbuhan sel kanker tanpa merusak sel sehat di sekitarnya, meski masih memerlukan bukti lebih lanjut.
Di sisi lain, makan pedas secara berlebihan juga bisa menimbulkan masalah, terutama bagi pencernaan. Beberapa risiko yang sering muncul antara lain:
- Memicu maag atau sakit lambung — Rasa pedas dapat mengiritasi lapisan lambung, menyebabkan peradangan, mual, diare, bahkan sakit kepala pada sebagian orang.
- Meningkatkan asam lambung dan GERD — Bagi penderita refluks asam, makanan pedas sering membuat tenggorokan terasa panas, dada terbakar, dan memperburuk iritasi dinding lambung.
- Mengganggu usus — Konsumsi berlebih bisa mengiritasi saluran pencernaan bawah, terutama pada orang dengan kondisi sensitif seperti IBS.
Para ahli menyarankan agar kita tetap menikmati makanan pedas, tapi dengan porsi bijak—idealnya tidak setiap hari dan tidak terlalu ekstrem. Mulailah secara bertahap jika belum terbiasa, karena toleransi terhadap pedas biasanya akan meningkat seiring waktu. Kombinasikan dengan sayuran segar, protein seimbang, dan minum air putih cukup untuk meminimalkan efek negatif.
Jadi, pedas boleh jadi sahabat lidah, asal tidak jadi musuh perut. Nikmati secukupnya, dan tubuh pun tetap sehat!









.sm.jpg)





















.md.jpg)






