Pemkab Bojonegoro Perkuat Kapasitas Aparatur Desa Melalui Mitigasi Kekeringan dan Akurasi Data Sosial
Jumat, 24 April 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggelar agenda Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa, Pendamping Desa, serta Pegiat Desa tahun 2026 yang memasuki hari kedua di Ruang Angling Dharmo, Gedung Pemkab Bojonegoro, Kamis (23/04/2026). Fokus utama dalam pertemuan ini adalah sinkronisasi data bantuan sosial serta langkah konkret dalam mitigasi risiko kekeringan dan pengelolaan lingkungan hidup di tingkat desa.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menekankan pentingnya pemetaan wilayah yang rawan mengalami krisis air bersih. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana agar kebijakan yang diambil pemerintah daerah sejalan dengan kondisi riil di lapangan.
"Data ini kemudian akan dikoordinasikan dengan BPBD dan Dinas PU SDA. Selain itu terkait DTSEN untuk benar-benar mendata sesuai kriteria," pungkas Nurul Azizah saat memberikan arahan kepada para peserta yang hadir.
Mengenai akurasi penyaluran bantuan, Kabid Pemberdayaan Sosial Dinsos Bojonegoro Endah Retnoningroem memaparkan materi terkait Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN. Ia menjelaskan bahwa validitas data individu dan keluarga sangat krusial agar program pembangunan nasional bisa berjalan secara terpadu.
"DTSEN adalah basis data tunggal individu dan/atau keluarga yang memuat kondisi sosial ekonomi penduduk Indonesia dan telah dipadankan dengan data kependudukan," jelas Endah saat menerangkan prosedur pembaruan data desil bagi para aparatur desa.
Sektor lingkungan hidup juga menjadi perhatian serius dalam kegiatan ini. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro Achmad Syoleh Fatoni mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai mengelola sampah dari tingkat rumah tangga sebagai aksi nyata pelestarian alam.
"Jika kita merawat alam, alam merawat kita," tandas Syoleh Fatoni di hadapan para pegiat desa.
Ia juga menyarankan setiap kecamatan memiliki tempat peluruhan sampah organik yang terpisah dari sampah plastik untuk mempercepat proses penguraian. Menurutnya, pemanfaatan halaman belakang rumah di pedesaan bisa menjadi solusi efektif agar tempat pembuangan tidak cepat penuh. Melalui kolaborasi antara edukasi rutin dan konservasi lahan, diharapkan tercipta kemandirian desa dalam menjaga ekosistem lingkungan secara berkelanjutan.(red/toh)






































