Transformasi Layanan Labkesmas Bojonegoro Fokus pada Akurasi Uji Lingkungan dan Penjaminan Mutu
Senin, 20 April 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mematangkan peran Laboratorium Kesehatan Masyarakat atau Labkesmas sebagai pilar penting dalam sistem layanan kesehatan daerah. Melalui bincang pagi di Radio Malowopati FM Minggu (19/04/2026) kemarin, terungkap bahwa transformasi lembaga ini diarahkan untuk memperkuat fungsi penunjang medis yang lebih optimal bagi masyarakat luas.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr. Lucky Imroah, menjelaskan bahwa keberadaan laboratorium merupakan instrumen krusial dalam menentukan diagnosis medis maupun lingkungan yang tidak bisa dipisahkan dari layanan kesehatan lainnya.
“Laboratorium merupakan salah satu bentuk pelayanan penunjang yang tidak bisa berdiri sendiri, namun menjadi unsur penting dalam menentukan diagnosis, khususnya di bidang kesehatan lingkungan,” jelasnya.
Saat ini, Labkesmas Bojonegoro memegang peran vital dalam memantau kualitas kesehatan lingkungan melalui pengujian sampel air, limbah, hingga deteksi zat berbahaya pada bahan makanan seperti boraks dan formalin. Selain itu, lembaga ini bertugas melakukan verifikasi izin sanitasi dengan metode terjun langsung ke lapangan guna memastikan validitas data.
“Pengambilan sampel dilakukan langsung di lokasi objek yang diperiksa, sehingga hasilnya lebih akurat dan sesuai kondisi sebenarnya,” imbuhnya.
Dari sisi operasional, Kepala UPT Labkesmas Bojonegoro, Rahmawati D.A., menyebutkan bahwa layanan unggulan mereka saat ini terkonsentrasi pada pemeriksaan kualitas air dan makanan. Meski sarana untuk laboratorium klinis sudah tersedia, pengembangannya masih dilakukan secara bertahap seiring dengan rencana penambahan tenaga ahli di masa mendatang.
“Untuk saat ini kami memang belum melayani pemeriksaan klinis seperti darah karena keterbatasan SDM, namun sarana sudah tersedia dan sedang kami kembangkan ke arah tersebut,” ujarnya.
Masyarakat umum maupun pelaku usaha depot air minum dapat memanfaatkan rujukan sampel ke Labkesmas untuk memastikan standar kesehatan produk mereka. Rahmawati memastikan bahwa seluruh proses pengambilan sampel dilakukan sesuai standar operasional prosedur demi menjaga kualitas hasil akhir. Namun, ia tidak menampik adanya tantangan dalam aspek perencanaan yang sering kali bersifat dinamis.
“Terkadang kami menghadapi kendala perencanaan karena adanya lonjakan kasus baru yang membutuhkan penanganan cepat,” ungkapnya.
Menutup pembahasan tersebut, dr. Lucky Imroah menekankan bahwa komitmen peningkatan mutu harus dibuktikan dengan proses akreditasi yang ketat. Hal ini mencakup standarisasi bangunan, ketersediaan peralatan modern, hingga prosedur kerja yang sistematis.
“Laboratorium yang telah memiliki izin operasional selama dua tahun wajib terakreditasi sebagai bentuk penjaminan mutu layanan, mulai dari bangunan, peralatan, hingga prosedur kerja agar hasil pemeriksaan benar-benar valid dan terpercaya,” tegasnya.(red/toh)






































