Bojonegoro Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Percepatan Tanam Serempak dan Inovasi Spiritual
Sabtu, 25 April 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menunjukkan langkah proaktif dalam menghadapi ancaman fenomena iklim El Nino dengan mengikuti Gerakan Percepatan Tanam Serempak se-Jawa Timur pada Kamis 23 April 2026. Kegiatan ini menjadi strategi penting di tengah tren penurunan luas baku sawah nasional guna memastikan stabilitas stok pangan daerah tetap terjaga.
Aksi tanam padi yang berpusat di lahan persawahan Desa Kapas, Kecamatan Kapas ini melibatkan sinergi antara Kelompok Tani Bakti Makmur, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, serta unsur TNI dan Polri. Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya kolektif 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur dalam mengejar target luas tanam padi nasional sebesar 2,8 juta hektar sepanjang tahun 2026.
Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Kementerian Pertanian RI, Yuris Tiyanto, menjelaskan bahwa swasembada pangan kini sangat bergantung pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas, bukan sekadar luas lahan. Hal ini disebabkan adanya penyusutan luas baku sawah di Jawa Timur yang kini berada di angka 1.068.000 hektar.
Sebagai langkah antisipasi masa kritis air yang diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, Yuris memaparkan sejumlah strategi teknis yang mulai diadopsi. Beberapa di antaranya meliputi koordinasi intensif dengan Brigada Alsintan dan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penyediaan pompa air, serta optimalisasi program listrik masuk sawah atau Electricity for Farming guna menekan ketergantungan pada bahan bakar solar.
Selain inovasi teknologi, pemerintah juga mendorong penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).
Itu termasuk penggunaan musuh alami seperti burung hantu untuk mengatasi hama tikus," kata Yuris.
Menariknya, gerakan di Bojonegoro ini juga memadukan pendekatan spiritual melalui konsep Sawah Bersolawat dan program Ngaji Tani. Melalui cara ini, petani diajak mengintegrasikan doa dalam setiap tahapan budidaya untuk membangun optimisme di tengah tantangan alam.
"Gerakan percepatan tanam ini adalah bukti ketangguhan Jawa Timur sebagai produsen padi nomor satu di Indonesia selama empat tahun terakhir," tegas Yuris Tiyanto memberikan apresiasi atas semangat para petani.
Keberhasilan Bojonegoro dalam mempertahankan status sebagai lumbung pangan mandiri dan berkelanjutan sangat bergantung pada kekompakan antara pemerintah, aparat, dan kelompok tani di lapangan. Sinergi ini diharapkan mampu menjawab tantangan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan para produsen pangan lokal.




































