Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Tekanan Global dan Domestik Picu Kekhawatiran Pasar
Rabu, 13 Mei 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadi titik terlemah sepanjang sejarah. Angka tersebut bahkan melampaui pelemahan yang terjadi saat puncak Krisis Keuangan Asia 1997–1998.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Kebuntuan perundingan damai antara AS dan Iran mendorong harga minyak dunia tetap tinggi serta meningkatkan minat investor terhadap aset aman atau safe haven seperti dolar AS.
Sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu, rupiah tercatat melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
“Kerentanan Indonesia diperparah oleh cadangan minyak mentah yang relatif rendah, sebagian besar karena keterbatasan kapasitas penyimpanan,” ujar analis mata uang senior MUFG, Lloyd Chan, dikutip dari The Star.
Pelemahan rupiah sebenarnya telah berlangsung bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Setelah menembus level Rp17.000 per dolar AS pada pekan lalu, mata uang Garuda kini kembali mencatatkan rekor terendah baru di posisi Rp17.500.
Tidak hanya rupiah, mata uang Asia lainnya juga mengalami tekanan. Peso Filipina misalnya, tercatat melemah sekitar 5 persen sejak konflik Timur Tengah berlangsung, meski penurunannya masih lebih kecil dibanding rupiah.
Sementara itu di Amerika Serikat, penguatan dolar dipicu meningkatnya ketidakpastian global. The Wall Street Journal melaporkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,429 persen, sedangkan indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 98,274.
“Ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas mendorong harga minyak lebih tinggi, memperkuat kekhawatiran atas tekanan inflasi yang persisten,” kata Abdelaziz Albogdady, manajer riset pasar dan strategi fintech FXEM.
Analis ING, Francesco Pesole, menilai pergerakan dolar saat ini juga sangat dipengaruhi kondisi pasar saham global.
“Hari-hari baik bagi dolar pada umumnya bertepatan dengan hari-hari buruk bagi pasar saham belakangan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, data inflasi AS yang akan segera dirilis berpotensi lebih tinggi dari perkiraan pasar. Jika hal itu terjadi, Federal Reserve kemungkinan mempertimbangkan kembali kenaikan suku bunga, yang dapat semakin memperkuat posisi dolar AS.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi dalam negeri. Indonesia masih menghadapi defisit neraca berjalan yang membuat nilai tukar rentan terhadap gejolak global. Meski sempat mencatat surplus pada 2021 dan 2022 berkat lonjakan ekspor komoditas, kondisi tersebut belum sepenuhnya stabil.
Pasar kini mengantisipasi pelebaran defisit transaksi berjalan akibat naiknya harga impor energi. Di sisi lain, pemerintah masih menanggung sebagian biaya subsidi energi sambil tetap menjalankan agenda belanja fiskal yang besar.
Situasi semakin berat setelah lembaga pemeringkat Moody’s dan Fitch menurunkan peringkat Indonesia karena ketidakpastian kebijakan. MSCI juga memperingatkan perlunya reformasi di pasar modal Indonesia atau berisiko menghadapi penurunan status pasar.
Tekanan tersebut berdampak pada pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan sempat turun hingga 2,1 persen ke level terendah sejak Juni 2025, dipicu pelemahan sejumlah saham unggulan.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai kondisi saat ini masih berbeda dibanding krisis 1998. Salah satu perbedaannya terletak pada sistem kurs rupiah yang kini mengambang bebas mengikuti mekanisme pasar, bukan dipatok seperti era 1990-an.
Pada masa krisis Asia, pelepasan kurs tetap memicu devaluasi tajam hingga lebih dari 500 persen terhadap dolar AS. Sementara pelemahan rupiah saat ini dinilai masih lebih terkendali.
Struktur utang luar negeri Indonesia juga dianggap lebih sehat. Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2025, total utang luar negeri pemerintah dan swasta berada di kisaran 30 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan mayoritas berjangka panjang.
Selain itu, Bank Indonesia dinilai memiliki kapasitas lebih kuat untuk menjaga stabilitas rupiah. Cadangan devisa Indonesia disebut telah melampaui US$150 miliar, sehingga memberi ruang intervensi bagi bank sentral jika tekanan pasar terus meningkat.
The Diplomat menilai pelemahan mata uang secara bertahap tidak selalu berdampak negatif, terutama bila mampu meningkatkan daya saing ekspor. Namun, yang perlu diwaspadai adalah depresiasi tajam dan tidak terkendali yang dapat memicu kepanikan pasar seperti yang terjadi pada krisis 1997–1998.






































