Dinsos Bojonegoro dan BI Jatim Edukasi CBP Rupiah untuk Penyandang Tunanetra
Rabu, 27 Mei 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menggelar sosialisasi Edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah atau CBP Rupiah. Kegiatan berlangsung di Aula SLB Negeri Sumbang, Bojonegoro, pada Selasa 26 Mei 2026 dengan suasana interaktif dan diikuti puluhan anggota DPC Pertuni Bojonegoro.
Mewakili Kepala Dinas Sosial, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Nafiatin Ni'mah hadir membuka acara. Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya edukasi inklusif tersebut dan menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kesetaraan hak informasi serta kemandirian bagi seluruh warga.
"Memahami Rupiah adalah hak sekaligus kewajiban seluruh warga negara. Kami sangat mendukung program ini agar rekan-rekan kita memiliki akses informasi yang setara untuk mengenali dan menjaga uang Rupiah, sehingga terhindar dari risiko kejahatan keuangan seperti peredaran uang palsu," ujar Nafiatin Ni'mah. Suasana aula sempat cair ketika ia menyelingi sambutan dengan humor ringan yang membuat peserta tertawa.
Materi utama disampaikan oleh perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur yang menjelaskan gerakan CBP Rupiah secara rinci. Pada bagian Cinta Rupiah, peserta dikenalkan cara mengenali uang melalui kode khusus berupa garis timbul atau tactile bando di tepi uang kertas. BI juga mengingatkan gerakan 5 Jangan, yaitu Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distapler, dan Jangan Dibasahi, karena kondisi uang yang tidak layak dapat merusak tekstur kode rabaan.
Untuk aspek Bangga dan Paham Rupiah, peserta diajak menggunakan mata uang nasional sebagai simbol kedaulatan negara serta membelanjakannya secara bijak. Sesi kemudian dilanjutkan dengan game edukatif yang menantang peserta Pertuni menyusun lembaran uang dari nominal terbesar hingga terkecil hanya dengan mengandalkan indra peraba. Peserta tercepat dan paling tepat dalam menyusun uang mendapat hadiah langsung dari panitia.
Kegiatan ini juga menyisipkan edukasi mengenai penggunaan bahasa yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. Kepala SLB Negeri Sumbang Muslihati menjelaskan perkembangan istilah yang digunakan masyarakat dari waktu ke waktu.
“Namun, untuk penggunaan kalimat yang paling tepat, santun, dan dianjurkan saat ini adalah menggunakan kata 'Hambatan', seperti Hambatan Penglihatan, Hambatan Pendengaran, dan hambatan lainnya," jelasnya.
Reporter Tim Redaksi
Editor Mohamad Tohir






.sm.jpg)






























