Musim Hujan, Embung-Embung Belum Terisi Air
Senin, 18 Januari 2016 08:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Purwosari – Sejumlah embung di Bojonegoro hingga kini masih belum terisi air meskipun saat ini sudah memasuki musim hujan. Penyebabnya, curah hujan selama Desember 2015 hingga Januari 2016 ini belum tinggi. Padahal biasanya pada Januari curah hujan sudah tinggi dan embung mulai terisi penuh air.
Embung Blibis di Dusun Glagah, Desa/Kecamatan Purwosari, misalnya kondisinya kini masih kosong. Air hanya terlihat di dasar embung. Itu pun debit airnya masih sedikit. Embung Blibis ini mengalami pendangkalan parah sehingga tidak bisa menampung persediaan air cukup selama musim hujan untuk keperluan pengairan selama musim kemarau.
Menurut Rakiman, 57, petani di Dusun Glagah, musim hujan tahun ini tidak seperti biasanya. Curah hujan, kata dia, tidak terlalu tinggi. Padahal, kata dia, biasanya memasuki Januari kondisi embung biasanya sudah penuh terisi air. Begitu pula kondisi Sungai Bengawan Solo dan anak sungainya biasanya juga mulai naik atau bahkan banjir.
“Curah hujan sampai Januari ini masih rendah. Akibatnya, embung-embung tidak terisi air,” ujarnya.
Ia menuturkan, para petani sudah menanam padi di lahan sawah. Namun, karena kondisi curah hujan yang masih rendah tanaman padi tidak bisa tumbuh dengan baik. Sementara itu, banyak petani yang memilih menanam jagung dan kacang hijau.
Kondisi serupa juga terjadi di embung Sonorejo, Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan. Embung seluas tiga hektare ini airnya terlihat masih sedikit. Embung ini juga mengalami pendangkalan parah.
Menurut Wakiran, 52, petani di Desa Sonorejo, daya tampung embung Sonorejo terus menyusut karena mengalami pendangkalan parah. Seharusnya, kata dia, embung Sonorejo dikeduk sehingga bisa berfungsi seperti sedia kala. “Cadangan air yang bisa disimpan di Waduk Sonorejo selama musim hujan sedikit sekali, kurang dari separuh dari daya tampung waduk,” ujarnya.
Ia menuturkan, kondisi itu diperparah dengan bangunan embung yang mengalami kerusakan. Bangunan plengsengan di sisi timur embung jebol dan rusak sepanjang 15 meter. Begitu pula bangunan pengatur air di sisi utara rusak. Selain itu, dinding embung juga bocor. Akibatnya, air tampungan banyak yang bocor keluar sehingga mengakibatkan air tampungan terus menyusut.
Padahal Waduk Sonorejo ini menjadi penyuplai air irigasi untuk 200 hektare areal persawahan di Desa Sonorejo, Donan, Ngradin, Ngasinan, Cendono dan Purworejo di Kecamatan Padangan.
Kondisi serupa juga terjadi di embung Ngradin di Desa Ngradin, embung Juwet di Desa Ngradin dan embung Mulus di Desa Ngasinan, semuanya di wilayah Kecamatan Padangan. Ketiga embung itu juga mengalami pendangkalan parah sehingga tidak bisa menampung cadangan air secara optimal selama musim hujan. (rul/kik)












































.md.jpg)






