Inilah Cara Menjemput Rezeki Pedagang di Jembatan Padangan-Kasiman
Jumat, 11 Maret 2016 08:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Padangan - Meski belum diresmikan, jembatan Padangan-Kasiman kini sudah mulai difungsikan. Namun ternyata fungsinya tidak hanya untuk melintas saja. Tiap hari, terutama sore, banyak masyarakat yang menghabiskan waktu di sana. Sebab itu banyak pedagang dadakan yang buka lapak di tepi kanan-kiri jalan, mulai pedagang makanan, minuman hingga mainan anak-anak.
Membuka lapak di tepi badan jalan jembatan sebenarnya membahayakan. Apalagi jembatan yang panjangnya 200 meter dan lebar 7 meter itu sekarang menjadi akses utama warga Kecamatan Padangan dan Kasiman. Volume kendaraan cenderung meningkat. Tiap menit kendaraan yang melintasi jembatan rata-rata mencapai 10 hingga 17 kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Meskipun sebenarnya membahayakan, makin padatnya kendaraan yang lewat tak membuat pedagang di jembatan Padangan-Kasiman takut. Kebanyakan mereka malah mengaku senang dengan padatnya orang lewat. Paling tidak, menurut mereka, calon pembelinya makin banyak. Dan, peluang dagangannya laku juga semakin besar.
Karena alasan itulah para pedagang tidak khawatir terjadi kecelakaan. Misalnya, tahu-tahu ada kendaraan yang nyelonong melanggar lapaknya dan mengancam nyawa pedagang beserta pembelinya.
Seorang penjaja jagung bakar, Kunainah (43), mengatakan, dirinya tidak pernah berpikiran sampai kemungkinan terjadi kecelakaan. Sehingga dia dan suaminya, tak pernah merasa khawatir dengan lalu lalang kendaraan. Sebab, dia dan pedagang lainnya, buka lapak di tepi jalan jembatan Padangan-Kasiman hanyalah ingin mencari rezeki yang halal.
"Kita sudah dipinggir kok mas. Masak masih mau ditabrak juga," ujar perempuan dari Dusun Bandar, Desa Batokan, Kecamatan Kasiman itu kepada beritabojonegoro.com (BBC), dua hari lalu.
Perempuan berjilbab itu mengaku, dalam sehari bisa meraup keuntungan senilai Rp 100.000 hingga Rp 150.000 dari berjualan jagung bakar. Tiap hari rata-rata dia dapat menjual 1 glangsing jagung. Dalam satu glansing berisi sekitar 80 hingga 100 tongkol jagung. Per tongkolnya dijual seharga Rp 2.000, untuk jagung manis dijual seharga Rp 3.000.
Mbak Kun, sapaan akrabnya, mengaku, tidak keberatan jika suatu saat digusur atau diminta pindah tempat jualan. Tapi dia masih berharap diberi tempat berjualan di sekitar jembatan Padangan-Kasiman. Sebab, menurutnya, peluang usaha di lokasi jembatan tersebut cukup menjanjikan.
"Kalau bisa ada tempat khusus bagi para pedagang. Kalaupun sewa, pedagang tidak merasa keberatan, karena peluangnya cukup bagus," harapnya.
Menurut informasi yang diterima BBC, jembatan yang dibangun oleh perusahaan plat merah, PT Hutama Karya, itu akan diresmikan pada April mendatang. Namun saat dikonfirmasi terkait jadwal peresmian itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bojonegoro Andi Tjandra, mengatakan, pihaknya masih menunggu waktu yang tepat.
"Kita ingin melakukan peresmiannya, satu paket dengan pekerjaan yang lain," ujar Andi Tjandra, Kamis (10/03) kemarin. (rul/tap)












































.md.jpg)






