Panen, Harga Gabah di Tingkat Petani Jeblok
Jumat, 18 Maret 2016 08:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Gayam – Para petani yang mempunyai lahan sawah di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro kini panen kedua tanaman padi. Hasil panen padi pada musim hujan tahun ini cukup berhasil. Namun, petani mengeluhkan jebloknya harga jual gabah di pasaran.
Petani di sepanjang bantaran Bengawan Solo terlihat menebas batang padi. Ada pula yang merontokkan bulir padi dengan mesin penggiling sederhana. Selain itu, ada pula yang mengangkut gabah yang telah dimasukkan karung lalu dijejerkan di tepi jalan raya Bojonegoro-Cepu.
Menurut Waras, 62, warga Desa Cengungklung, Kecamatan Gayam, hasil panen padi pada musim hujan tahun ini cukup bagus. Ia mempunyai lahan sawah seluas satu hektare. Pada panen padi yang pertama dulu yaitu pada November 2015, ia berhasil memanen padi sebanyak 11 ton dari luas lahan sawah seluas satu hektare. Namun, pada panenan yang kedua ini lahan sawahnya hanya menghasilkan gabah sebanyak 5 ton.
“Tetapi, panen padi pada musim tanam tahun ini cukup berhasil,” ujarnya saat panen padi di sawahnya, Jumat (18/03).
Menurutnya, harga gabah jeblok sejak memasuki masa panen padi raya. Saat ini, kata dia, harga gabah hasil panen sekitar Rp3.200 per kilogram hingga Rp3.300 per kilogram. Padahal, kata dia, harga gabah hasil panen pada musim tanam tahun 2015 bisa mencapai Rp4.500 hingga Rp4.700 per kilogram.
“Saat memasuki musim panen padi harga gabah sering jeblok. Ini karena mungkin ada permainan harga oleh para tengkulak,” ujarnya.
Sementara itu menurut Kepala Desa Cengungklung, Kecamatan Gayam, Totok Hariyanto, hasil panen padi di daerah bantaran Bengawan Solo memang cukup bagus pada musim hujan ini. Sebab, kata dia, lahan sawah tidak sampai tergenang banjir luapan Bengawan Solo.
“Hasil panen padinya cukup bagus. Satu hektare lahan bisa menghasilkan 10-12 ton gabah,” ujarnya.
Ia mengatakan, lahan sawah di daerah bantaran mendapatkan suplai air dari Sungai Bengawan Solo. Air itu disuplai oleh himpunan kelompok tani pemakai air. Kemudian, pada saat panen pemilik lahan membagikan hasil panen seperempat atau seperlima dengan himpunan kelompok tani pemakai air.
Totok mengungkapkan, hasil panen padi di tingkat petani memang banyak ditebas oleh para tengkulak dari luar Bojonegoro. Para tengkulak kebanyakan dari daerah Pati, Rembang, dan Blora, Jawa Tengah. Sementara itu, pihak Bulog Bojonegoro sejauh ini biasanya tidak langsung menyerap gabah dari petani melainkan melalui pihak ketiga.
Sementara itu menurut Wakil Kepala Bulog Sub Divre III Bojonegoro, Omar Sharif, mengatakan saat ini memang banyak tengkulak dari luar Bojonegoro seperti dari Pati, Rembang, Blora, Jawa Tengah yang masuk ke Bojonegoro dan memborong gabah hasil panen. Selain itu, banyak pula tengkulak dari wilayah Jawa Timur seperti Kediri, Lamongan, dan Gresik.
Para tengkulak itu, kata dia, memang biasanya menebas gabah langsung dari persawahan saat panen padi. Tengkulak memborong gabah yang sudah dimasukkan karung selanjutnya gabah itu dikirim ke luar daerah dengan menggunakan truk.
“Tengkulak ini memang sedikit banyak ikut menentukan harga gabah di tingkat petani saat panen raya seperti sekarang,” ujarnya. (rul/kik)












































.md.jpg)






