Harga Bawang Merah Naik, Berkah Bagi Petani di Kedungadem
Sabtu, 16 April 2016 20:00 WIBOleh Linda Estiyanti
Oleh Linda Estiyanti
Kedungadem – Panen kali kedua bawang merah di Kecamatan Kedungadem membawa berkah bagi petani. Curah hujan yang cukup dan panas matahari yang berhasil dijangkau oleh tanaman bawang merah di Kecamatan ini membuat hasil panen melimpah . Yang menggembirakan harga bawang merah melambung di pasaran, sebab tak banyak daerah yang panen.
Salah satu petani, Doni Irawan (22), asal Kecamatan Kedungadem ini mengungkapkan bahwa harga bawang merah yang sempat turun drastis pada panen pertama, sekitaran bulan Februari lalu. Pada panen kali kedua ini, bulan April, harganya melambung tinggi. “Bawang merah sekarang harga mulai Rp 25-27 ribu dijual ke pasar,” kata Doni kepada beritabojonegoro.com (BBC).
Pernyataan pemuda yang juga tengah menempuh pendidikan tinggi di salah satu kampus Bojonegoro itu dibenarkan oleh Sutrisno (52), petani sekaligus penebas bawang merah asal Dukuh Jintel Desa Megale Kecamatan Kedungadem. Hasil panen yang melimpah membuat dia tidak henti-hentinya menerima pesanan dari pelanggan. “Kalau saya menyuplai di pasar Pabean, Surabaya. Dahulu hanya Rp 14-20 ribu, sekarang mencapai Rp 20-30 ribu,” ujar Sutrisno BBC di halaman rumahnya, Sabtu (16/04) sore.
Untuk dropping di pasar kota Bojonegoro, lanjut Sutrisno, harganya juga sama rata. Namun pesanan bawang merah ke luar daerah lebih banyak. Sutrisno yang lebih memilih menjual keluar bawang merah miliknya mengaku sudah punya pelanggan tetap di berbagai daerah seperti di Pabean Surabaya dan Mojosari Mojokerto. "Untuk seluruh daerah rata-rata sama di panen kedua ini," lanjutnya.
Kenaikan tersebut, kata Sutrisno, terjadi karena tidak banyak daerah penghasil bawang merah yang panen pada bulan April ini. Kalau pada kali pertama panen pada Februari lalu ada banyak daerah yang panen, bulan April ini hanya daerah tertentu yang bisa panen. Salah satu adalah Kecamatan Kedungadem. Cuaca yang bersahabat meningkatkan hasil panen kedua dalam kalender tahun 2016 ini.
“Ya kalau daerah sini minimal dua kali panen itu sudah pasti. Biasanya bulan dua (Februari), dan bulan empat (April), bahkan bisa sampai bulan lima (Mei),” ujar Sutrisno.
Kenaikan dua kali lipat yang terjadi ini sempat membuat petani girang. Selain petani, pegawai dadakan yang pekerjaannya membersihkan sisa-sisa akar dan tanah yang masih menempel pada bawang merah tersebut juga melonjak jumlahnya.
“Ya pesenan yang banyak, sehingga harus ngedrop berton-ton bawang merah ke rumah penduduk untuk dibersihkan,” ujar Sutrisno yang juga penebas bawang merah terbesar di Kecamatan Kedungadem. (lyn/moha)
Foto Sutrisno saat memilah bawang merah yang sudah dibersihkan bersama para pekerjanya.












































.md.jpg)






