Jelang Ramadan
Pedagang Janur Andalkan Pasokan dari Luar Bojonegoro
Kamis, 19 Mei 2016 18:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Kota - Mendekati bulan Ramadan 1437 H, awal Juni depan, pedagang janur di pasar daerah Bojonegoro mulai bermunculan. Ada wajah lama, juga ada wajah baru. Ketika ditemui beritabojonegoro.com (BBC), mereka mengaku kesulitan mendapat janur dari Bojonegoro sendiri. Untuk itu mereka lebih mengandalkan pasokan dari luar daerah.
Rata-rata mereka mendapat pasokan janur dari Tuban, Blitar dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Seperti diungkapkan Shohibul Anwar (30), salah satu pedagang janur di pasar Bojonegoro. Dia mendapat janur dari Jenu, Kabupaten Tuban.
"Mendekati Ramadan ini permintaan janur memang meningkat. Makanya saya harus menambah pasokan, meski dapatnya dari luar kota," ujar pemuda dari Banjarsari, Kecamatan Trucuk itu.
Dia menambahkan di hari-hari biasa hanya bisa menjual 2 hingga 3 ikat perhari. Sementara saat ini dia bisa menjual 5 hingga 7 ikat. Tiap 1 ikat dijual seharga Rp 35.000. Pada 1 ikat itu bisa dibuat 120 hingga 150 ketupat.
Kesulitan pasokan janur dari Bojonegoro sendiri juga dialami Moh. Said (34), pedagang janur dari Kecamatan Kapas. Untuk itu dia mendatangkan stok janur dari Babat dan Blitar. Selain berupa janur, dia juga menjual dalam bentuk ketupat.
"Janur sini rata-rata sudah dimakan kwakung. Kalaupun ada harganya biasanya lebih tinggi," katanya pada BBC.
Said mengatakan permintaan janur dan ketupat jelang bulan Ramadan memang tinggi. Sebab itu dia memanfaatkan Ibu-ibu di kampungnya untuk membantu proses pembuatannya. Dengan begitu Ibu-ibu di kampungnya mempunyai pendapatan sampingan, selain menunggu pemberian dari suaminya. (rul/moha)












































.md.jpg)






