Anak-Anak yang Tinggal di Seberang Utara Bengawan Solo
Tetap Pergi ke Sekolah Demi Menuntut Ilmu
Jumat, 02 Desember 2016 10:00 WIBOleh Heriyanto
Oleh Heriyanto
Bojonegoro Kota - Banjir luapan Sungai Bengawan Solo tidak menyurutkan anak-anak sekolah dari seberang utara sungai pergi ke sekolah demi menuntut ilmu. Pagi buta mereka menyeberangi sungai terpanjang di Pulau Jawa yang sedang meluap itu dengan naik perahu penyeberangan. Ilmu adalah segala-galanya bagi mereka meski risikonya cukup tinggi.
Seperti halnya anak-anak dari Desa Dukoh Lor Kecamatan Malo dan Desa Tembeling Kecamatan Kasiman. Mereka menyeberangi Sungai Bengawan Solo dengan naik perahu kayu berukuran 3 meter x 10 meter. Mereka ada yang naik sepeda motor dan ada pula yang jalan kaki. Mereka berangkat ke sekolah di SMP Negeri 1 Padangan, SMK Negeri Purwosari, dan Madrasah Aliyah Nurul Ulum Purwosari.
Khoirul Umah (18), siswi Madrasah Aliyah Nurul Ulum Purwosari, mengaku meski Bengawan Solo sedang meluap ia tetap berangkat ke sekolah naik perahu penyeberangan. Meski ada perasaan ngeri dan khawatir saat menyeberangi sungai yang sedang penuh itu, namun perasaannya itu ia tepiskan.
"Mau bagaimana lagi, pergi ke sekolah cuma lewat Bengawan Solo ini yang paling mudah dan paling cepat. Meski resikonya juga besar," ungkapnya.
Menurut Tarmuji (56), awak perahu penyeberangan, ia setiap pagi menyeberangkan anak-anak sekolah dari titik di Dukoh Lor Kecamatan Malo, ke titik Dukuh Korgan, Desa/Kecamatan Purwosari. Saat air Bengawan Solo sedang meluap, kata dia, ia harus ekstra hati-hati mengemudikan perahu.
"Arusnya cukup deras dan kuat. Belum lagi kalau ada bongkahan kayu yang ikut terseret banjir. Jadi, harus ekstra hati-hati saat seperti ini," ungkapnya. (her/kik)












































.md.jpg)






