Berkah Imlek, Seniman Ini Kerjakan Logo Keluarga Tionghoa
Minggu, 29 Januari 2017 08:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Bojonegoro - Lelaki berambut gondrong ini sedang asyik dengan perlengkapan perangnya saat beritabojonegoro.com (BBC), Sabtu (28/01/2017). Peralatan perang itu berupa pernak pernik serupa kaca, dan alat-alat yang lain seperti karton, styrofoam, kayu dan lainnya. Semua perelatan itu diletakkan di pinggir dinding kayu.
Dua orang tukang sedang mengerjakan lantai atas di beranda rumahnya. Si pemilik rumah, si rambut gondrong itu, menjelaskan bahwa tukang ini sedang menggarap studio seni rupanya.
Lelaki gondrong itu adalah Ekopeye Fibermans, begitu dia akrab dipanggil di kalangan seniman.
Benar, Ekopeye adalah salah seorang seniman di Bojonegoro. Dia fokus terhadap seni rupa, meskipun juga seringkali mengerjakan ornamen-ornamen lainnya. Di antaranya yang saat ini tengah dia kerjakan, sebuah logo keluarga Tionghoa berbahan styrofoam berukuran cukup besar.
Eko mengaku, logo itu dibuatnya atas pesanan dari seorang keluarga Tionghoa di Bojonegoro.
"Berkah imlek, dapat pesanan dari keluarga Tionghoa," tulisnya dalam status media sosialnya.
Untuk membuat logo ini, Ekopeye hanya membutuhkan waktu selama dua hari. Katanya, membuat ornamen memang sudah jadi pekerjaannya. Apalagi bila hanya dari styrofoam yang designnya sudah ada, maka dia bisa mengerjakannya dengan cepat. Pada logo dari styrofoam ini, Ekopeye menceritakan bahwa dia membuatnya dalam bentuk tiga dimensi, bukan flat.
Logo yang dikerjakan Ekopeye ini berbentuk lingkaran, dengan diameter 1,2 meter. Nantinya logo ini akan digantung di langit-langit rumah keluarga pemesan. Dan di sekeliling logo ini nantinya akan ada kertas yang menghiasinya.
"Kalau dari styrofoam gampang, tinggal memotong sesuai design dan mewarnainya. Berbeda dengan fiber glass," tutur lelaki lulusan Intitut Seni Jogjakarta ini.
Eko menjelaskan bahwa pembuatan ornamen dari fiber glass selain lebih sulit, harganya juga lebih mahal. Dia menuturkan bahwa bahan fiber glass ini juga lebih mahal dibanding styrofoam. Dan membuatnya juga lebih sulit dan lebih lama.
"Tetapi dari fiber glass lebih awet dibanding sterefom. Karena kalau styrofoam hanya digunakan ketika ada even-even saja. Yang mana ketika selesai even tersebut bisa dibuang," jelasnya.
Ada cindera mata berupa patung berada di meja di rumahnya. Dan di bawah patung tersebut beralaskan kayu, seperti piala pada umunya. Eko menerangkan bahwa patung tersebut terbuat dari fiber glass. Dan dia memang sering menerima pesanan-pesanan untuk membuat ornamen ataupun cindera mata. Ekopeye juga pernah mengerjakan ornamen wahana wisata besar di Bojonegoro, juga hiasan panggung saat Natal tiba.
Sejak kecil Ekopeye memang suka menggambar, kemudian ketika dia kuliah di ISI dia lebih fokus pada seni patung. Di sana dia mempelajari patung dari berbagai macam media. Dari semen, styrofoam, fiber glass dan lainnya. Anda bisa melihat patung dari semen berdiri kokoh di depan rumahnya bila berkunjung.
Untuk harga, Eko tidak bisa menyebutkan pastinya, sebab semua ornamen yang dibikin tergantung pada bahan, ukuran dan tingkat kesulitan membuatnya. Itu semua memengaruhi harga. (ver/moha)












































.md.jpg)






