Petani Daerah Bantaran Bengawan Solo Terpaksa Panen Dini Tanaman Padi
Sabtu, 04 Februari 2017 08:00 WIBOleh Heriyanto
Oleh Heriyanto
Bojonegoro – Petani yang mempunyai lahan sawah di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo terpaksa panen dini tanaman padinya. Hal itu dilakukan karena banjir luapan Sungai Bengawan Solo mulai menggenangi lahan pertanian di wilayah Bojonegoro. Para petani yang memanen padinya lebih awal menilai jika banjir terus menggenang maka bulir padi akan membusuk.
Salah seorang petani di Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, Munari (54) mengungkapkan, ia terpaksa memanen padinya karena air sudah mulai merendam persawahan. Saat ini, kata dia, ada sekitar 30 hektar tanaman padi yang mulai tergenang. Padi tergenang sekitar setengah meter dan air luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu terus naik.
"Jika tidak dipanen hari ini, besok akan tenggelam dan buahnya busuk," ujarnya, Sabtu (04/02/2017).
Saat ini tinggi muka air Sungai Bengawan Solo yang terpantau di papan duga dekat Pasar Besar Bojonegoro pada pukul 07.00 WIB berada di kisaran 14.32 peilschaal di atas permukaan air laut. Kemudian, tinggi muka air Bengawan Solo pada pukul 08.00 WIB berada di kisaran 14.32 peilschaal. Situasi Sungai Bengawan Solo pada posisi siaga kuning (siaga dua) dengan tren stabil.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro mengimbau kepada seluruh perangkat desa yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo untuk terus menginformasikan kondisi luapan air kepada warganya. "Sehingga ketika banjir datang semua sudah siap," ujar Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Andik Sudjarwo. (her/kik)












































.md.jpg)






