Kegiatan Ngopi Sastra di Kopinem Bojonegoro
Membaca Manusia Melalui Sastra
Jumat, 10 Februari 2017 14:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Bojonegoro - Sastra menjadi bagian yang penting bagi perkembangan zaman. Di mana banyak kejadian kejadian yang terlewat oleh media dan diabadikan dalam sastra. Karena itu membaca sastra seperti membaca manusia. Hal ini disampaikan oleh Tengsoe Tjahjono dalam acara Ngopi Sastra di Kopinem Jalan Rajekwesi Kabupaten Bojonegoro pada Kamis (09/02/2017).
"Faktanya sastrawan itu gila, menulis puisi sendiri, dibaca sendiri didengarkan teman-teman penulis sendiri," ujar penyair yang pernah menerima penghargaan di bidang sastra dari Gubernur Jawa Timur itu.
Tengsoe menyebutkan bahwa membaca sastra bukan hanya membaca keindahan saja, tetapi mengambil saripati yang terkandung dalam teks tersebut. Kenapa Wiji Tukul dicari-cari aparat? Kenapa Pramudya harus dipenjara di pulau buru?
"Semuanya karena gagasan-gagasan yang terkandung dalam sastra yang mereka tulis," tegas lelaki paruh baya yang saat ini menjadi dosen di Unesa.
Karena itu menurut Tengsoe membaca sastra itu perlu digerakkan. Di Malang, Tengsoe menyebutkan bahwa jumlah komunitas literasi ada seratus lebih. Didukung dengan perpustakaan dan taman baca yang jumlahnya sekitar 80an. Di Malang sangat tidak asing, menjumpai pemandangan buku-buku digelar di alun-alun. Para pegiat literasi ini mengundang para siapapun untuk ikut membaca.
"Kata siapa menulis puisi bagus harus ada irama, ada majas, dan lainnya? Dan lagi kata siapa yang suka membaca puisi adalah perempuan?" tekannya.
Masih menurut Tengsoe, menulis puisi itu mudah. Bukanlah hanya tentang keindahan, apakah dia berirama atau memenuhi majas atau selalu berhubungan dengan perasaan. Tengsoe menyebutkan puisi Wiji Thukul sangat fenomenal bukan karena perasaan atau keindahan dalam puisinya. Tetapi karena gagasan yang terkandung dalam puisi Thukul.
Sementara itu Anas Abdul Ghofur, Pimred Jawa Pos Radar Bojonegoro menekankan bahwa pentingnya membaca karya-karya bermutu. Terutama karena Bojonegoro sendiri memiliki sejarah literasi yang panjang. Anas bahkan menyindir sistem sekolah yang hanya menekankan sisi teori dalam sastra. (ver/moha)












































.md.jpg)






