Kejadian Kesurupan Biasanya Disebabkan Stres
Rabu, 30 September 2015 17:00 WIBOleh Mujamil E. Wahyudi
Oleh Mujamil E Wahyudi
Kota – Kejadian lima siswa SMP Negeri 1 Padangan yang diduga kesurupan saat sedang belajar di sekolah mendapat perhatian dari konselor yang ada di Bojonegoro. Salah satunya yaitu seorang konselor, Abdul Muchit S Kom I. Ia mengatakan biasanya yang menjadi penyebab utama kejadian kesurupan adalah stres atau sedang mengalami banyak persoalan.
Gejala-gejala yang ditimbulkan orang yang diduga kesurupan di antaranya kepala terasa berat, selanjutnya badan dan kaki terasa lemas, pandangan kabur atau tidak jelas dan mengantuk. Bahkan, ia bisa pingsan. Namun biasanya gejala itu masih disadari oleh korban yang diduga mengalami kesurupan, tetapi setelah itu ia tiba-tiba tidak mampu mengendalikan dirinya.
"Orang yang kesurupan akan melakukan sesuatu di luar kemampuan dan keinginannya, namun ia merasakan seperti ada kekuatan yang mengendalikan dirinya itu," ujar Abdul Muchit S Kom I, pada BBC, sapaan beritabojonegoro.com, Rabu (30/09).
Ia menambahkan, mereka yang mengalami kesurupan merasakan dirinya bukanlah dirinya lagi, tetapi ada sesuatu yang mengendalikan dari luar. Namun keadaan kesurupan ini ada juga yang menyadari sepenuhnya, ada yang menyadari sebagian dan ada pula yang tidak menyadari sama sekali.
"Saat kesurupan, korban akan melakukan gerakan-gerakan yang terjadi secara otomatis, tidak ada beban mental dan dengan bebasnya ia akan bergerak. Saat seperti itu adalah merupakan kesempatan untuk mengekspresikan hal-hal yang terpendam melalui jeritan, teriakan, gerakan menari seperti keadaan hipnotis diri," jelas Muchit sapaan akrab Abdul Mucit.
Dalam hal ini, kemampuan yang perlu ditingkatkan pada para korban kesurupan yang terjadi di SMP Negeri 1 Padangan Bojonegoro adalah mengajari dan melatih korban untuk bagaimana mengelola stres dan konflik dengan cara yang baik dan benar, supaya mereka tidak mudah kesurupan.
Pagi tadi, sekitar lima siswa SMP Negeri 1 Padangan, diduga mengalami kesurupan. Salah satu siswa yang mengalami kesurupan paling parah yaitu Berlian Septia Fananti, siswa kelas tujuh. Ia sempat meronta-ronta dan tidak sadarkan diri beberapa kali. Ia juga seperti bicara ngelantur. Ia kemudian dipulangkan ke rumahnya di Dukuh Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam.
Saat pulang di rumah, ia tidak mau masuk ke rumah. Ia masih berpakaian seragam batik dan rok berwarna putih. Ia dipegangi oleh kerabat dan tetangganya. Ia meronta di halaman rumah. Beberapa petugas polisi dari Polsek Gayam juga datang ke rumah korban. Namun, setelah ditenangkan oleh keluarga dan kerabatnya, Berlian akhirnya tenang. Namun, ia tetap tidak mau masuk rumah.
Menurut Izmi, keluarga korban, kejadian kesurupan yang dialami oleh Berlian saat di sekolah ini sudah kedua kalinya. Sebelumnya, kejadian serupa juga pernah terjadi. “Dia seperti bukan Berlian. Dia berlaku seperti orang lain,” ungkap Izmi.
Menurut Hamdan, salah satu guru SMP Negeri 1 Padangan, mengatakan, sejak dua tahun terakhir ini kejadian kesurupan sering terjadi pada siswa di sekolah. Pihak sekolah, kata dia, kini sedang mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah itu. Sebab, kejadian kesurupan mengganggu proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah. (yud/kik)
Foto siswa SMP Negeri 1 Padangan saat diduga mengalami kesurupan











































.md.jpg)






