Pemkab Getol Ajak Anak-Anak Putus Sekolah Kembali Sekolah
Selasa, 06 Juni 2017 11:00 WIBOleh Heriyanto
Oleh Heriyanto
Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro getol mengajak anak-anak usia sekolah yang putus sekolah agar kembali ke bangku sekolah. Pada 02 Mei lalu, tepatnya saat peringatan Hari Pendidikan Nasional misalnya sebanyak 2.000 anak putus sekolah diajak mengikuti upacara dan membulatkan tekad agar kembali sekolah. Pemkab Bojonegoro juga membuat gerakan,”Ayo sekolah.”
Ajakan agar anak-anak usia sekolah kembali sekolah itu mulai membuahkan hasil. Soni Bagus Saputra, 17, warga RT 09 Gang Makam Sedeng, Kelurahan Kepatihan, Kota Bojonegoro, misalnya setelah sekian lama putus sekolah akhirnya kembali bersekolah.
Soni dijemput Lurah Kepatihan Kecamatan Kota Bojonegoro, Djoko Tricahyono. Remaja ini menyiapkan beberapa berkas mulai akte kelahiran, kartu keluarga dan nomor induk siswa nasional. Djoko mengantar sendiri Soni Bagus Saputra dan ayahnya Agus mendaftarkan diri di salah satu sekolah menengah kejuruan yang beralamat di Jalan Dokter Suharso. Setibanya di sekolah Djoko langsung mendaftarkan Soni di salah satu guru dengan menyerahkan berkas kelengkapan yang menjadi syarat mendaftarkan.
Lurah Kepatihan, Djoko Tricahyono menuturkan bahwa dirinya sengaja mengawal sendiri soni untuk mendaftarkan sekolah karena dari tiga anak putus sekolah di wilayahnya, Soni yang memiliki tekad untuk melanjutkan pendidikannya kembali. Setelah mendengar langsung keinginan putra Sulung Sunarsih dan Agus ini, Djoko, langsung mendaftarkan di salah satu sekolah. Tak hanya itu, ia juga mulai menguruskan segala kelengkapan untuk mendapatkan pencairan DAK Pendidikan. Karena syarat mendapatkan DAK pendidikan ini adalah anak-anak tersebut bersekolah. Soni akan mengulang di kelas 1 SMK karena dia dulu putus sekolah juga di kelas 1 SMK dan Soni memilih jurusan multimedia.
Djoko menuturkan, setelah adanya edaran agar seluruh anak usia sekolah kembali bersekolah, pihaknya langsung melakukan pendataan. Dari data itu ada 3 anak yang putus sekolah, salah satunya Soni. Sedangkan dua remaja putri yang putus sekolah sampai saat ini masih diajak untuk kembali sekolah. Tak hanya itu pihaknya juga akan membantu mengurus administrasi jika memang dari keluarga kurang mampu. Yang terpenting anak-anak ini mau kembali bersekolah.
Wajah sumringah terpancar di raut muka Sunarsih ibu Soni Bagus Saputro yang melihat anaknya kembali mau bersekolah. Sunarsih tadinya sangat cemas anaknya akan bersekolah dimana lalu adakah sekolah yang mau menerima sang buang hati yang sudah setahun ini memilih meninggalkan bangku sekolah.
“Tadinya saya bingung, anak ini mau sekolah di mana?. Dan apakah ada sekolah yang mau menerima “ tuturnya. Namun kedatangan Lurah Kepatihan membuatnya bahagia. Perempuan yang setiap hari berjualan kue keliling ini sangat bahagia karena pihak kelurahan mau repot-repot untuk datang dan mengantar Soni mendaftarkan sekolah. Kini dia mengharapkan agar Soni kembali melanjutkan sekolah. Kebahagian senada juga dirasakan oleh kakek-nenek dan Paman Soni yang melihat cucu dan keponakannya mendaftar sekolah. Bahkan sang kakek berpesan agar cucunya serius sekolah dan tidak lagi drop out.
Sementara itu Camat Kota Bojonegoro, Yusnita Lia mengatakan, dirinya memerintahkan seluruh jajaran agar berupaya mendorong anak-anak kembali bersekolah. Jangan adalagi anak usia sekolah yang tak bersekolah. Terkait DAK pendidikan di jenjang SMA/SMK ini sudah dicairkan untuk anak anak SMA kelas 3 atau kelas XII. Sedangkan untuk anak anak yang duduk di bangku SMA kelas X masih dalam proses pembuatan rekening, sedangkan untuk kelas XI sudah ditransfer di rekening masing-masing.
“Untuk anak SMA kelas X kan baru kali ini menerima dan belum memiliki rekening, jadi masih dibuatkan rekening. Kami juga akan melakukan pemantauan agar DAK ini dipergunakan untuk kebutuhan anak anak sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkab Bojonegoro akan mengurangi Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan tahun ini dari tahun lalu sebesar Rp 98,4 miliar, menjadi Rp 50 miliar, atau alokasinya dikepras sebesar Rp 48 miliar.
Kepala Dinas Pengelolaan Kekayaan dan Aset Daerah (DPKAD) Bojonegoro Ibnu Soeyuthi menjelaskan, penerima DAK Pendidikan dibedakan antara siswa miskin dan siswa tidak miskin, sehingga besaran dana yang diterima siswa tidak sama rata. “Hal itu dilakukan untuk efesiensi anggaran yang dimiliki Pemkab Bojonegoro,” ujarnya.
Tahun ini Pemkab mengalokasikan dana APBD senilai Rp 50 miliar untuk DAK Pendidikan. Dana tersebut lebih kecil dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 98,4 miliar. ‘’Tahun ini dana yang dialokasikan memang lebih kecil,’’ tandas Ibnu. (her/kik)











































.md.jpg)






