News Ticker
  • Motor Ditabrak Kereta Api di Kapas Bojonegoro, Pengendara Motor Selamat
  • Hendak Putar Balik, Supra Ditabrak Beat di Ngraho Bojonegoro, Pengendara Supra Luka Berat
  • Tukang Kayu Asal Gondang Bojonegoro Meninggal Mendadak, Diduga Serangan Jantung
  • Sasar Peningkatan Produksi Telur, PEPC Gelar Program Pelatihan Terpadu
  • Kapolres Bojonegoro: Jadikan Tribrata dan Catur Prasetya, Sebagai Landasan Dalam Bekerja
  • Ditabrak Bus, Pemotor di Margomulyo Bojonegoro Luka Berat
  • Kecelakaan Motor di Kanor Bojonegoro, Seorang Pengendara Luka Berat
  • Kebakaran Bus Agra Mas di Terminal Bojonegoro Diduga Akibat Korsleting Instalasi AC
  • Bus Agra Mas Hangus Terbakar di Terminal Rajekwesi Bojonegoro
  • Mayat Yang Ditemukan di Kanor Bojonegoro, Dipastikan Warga Tuban yang Terjun ke Bengawan Solo
  • Mayat Diduga Warga Tuban yang Terjun ke Bengawan Solo, Ditemukan di Kanor Bojonegoro
  • Dari Telur Menetas Ekonomi Produktif
  • Kurang Hati-Hati, Innova Tabrak Motor dan Polsek Kalitidu Bojonegoro, 9 Orang Luka-Luka
  • Warga Dander Bojonegoro Tewas Tertabrak Kereta Api, Diduga Bunuh Diri
  • Perhutani KPH Blora Bersama KB-TK Baitunnur, Laksanakan Penanaman Pohon
  • Maraknya Kasus KDRT di Kabupaten Bojonegoro, Bupati Harap Masyarakat Sadar Hukum
  • Ali Mahmudi, Terpilih Sebagai Ketua Umum KONI Bojonegoro Periode 2019 - 2023
  • Wakil Bupati Hadiri dan Buka Musorkablub KONI Bojonegoro
  • Seorang Pemotor di Baureno Bojonegoro Luka Berat Akibat Kecelakaan Tabrak Lari
  • Tabrakan Motor dan Isuzu Elf di Padangan Bojonegoro, Seorang Pemotor Luka Berat  
  • KONI Bojonegoro Akan Gelar Musorkablub, Kamis 14 Februari 2019
  • Tersengat Listrik Saat Perbaiki Pompa Air, Warga Tambakrejo Bojonegoro Meninggal Dunia
  • Bupati Bersama Forpimda Bojonegoro Serahkan Sertifikat Program PTSL di Bubulan
  • Kapolres Blora Harap Pers Ikut Jaga Situasi Wilayah Agar Tetap Kondusif
  • Pejalan Kaki di Ngraho Bojonegoro, Meninggal Dunia Tertabrak Motor

Dahlan, Sebuah Novel

Oleh Muhammad Roqib

Buku yang mengulas tentang tokoh Kiai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, sangat jarang. Padahal, pengaruh KH Ahmad Dahlan masih kita rasakan hingga sekarang. Nah, buku Dahlan Sebuah Novel karya Haidar Musyafa, ini bisa menjadi rujukan untuk mengetahui jejak dan teladan KH Ahmad Dahlan.

KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, kawasan Kasultanan Ngayogyakarta, pada 1 Agustus 1868 Masehi. Semasa kecil ia bernama Muhammad Darwis. Ayahnya, Kiai Abu Bakar, seorang Ketib Amin di Masjid Gede Yogyakarta. Jabatan ketib ini diangkat oleh Ngarso Dalem Sultan Yogyakarta. Jabatan tertinggi dalam struktur abdi dalem pamethakan adalah Kiai Penghulu yang saat itu dijabat Kiai HM Kholil Kamaludiningrat.

Kauman merupakan kampung yang padat. Kauman dikenal sebagai kampung santri. Menurut peraturan Kasultanan Ngayogyakarta hanya orang Islam yang diperbolehkan tinggal di Kauman ini. Ayah Muhammad Darwis mempunyai langgar kecil di pekarangan rumah yang disebut Langgar Kidul. Darwis dididik oleh ayahnya, Kiai Abu Bakar dengan ilmu agama yang sangat ketat. Ia mendapatkan ilmu agama dari sang ayah dan kakak kakaknya. Darwis tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Sejak kecil Darwis dikenal pemberani, berkemauan keras, dan kritis. Ia sempat protes pada ayahnya mengapa tidak boleh sekolah umum bikinan Belanda waktu itu. Namun, setelah diberi pemahaman oleh sang ayah, dia pun paham. Sehari-hari Darwis mengaji kebetan kitab dan bermain layaknya seorang bocah. Darwis juga mengaji di pondok Kiai Hamid di daerah Lempuyangan.

Selain seorang ketib amin, Kiai Abu Bakar juga dikenal sebagai pedagang batik. Ia berdagang batik sampai di Magelang, Semarang, Solo. Kiai Abu Bakar juga belajar ilmu agama pada Kiai Shaleh Darat, seorang tokoh ulama yang karismatik dan berwawasan luas. Kiai Shaleh Darat mampu menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Juga pencipta huruf-huruf pegon, tulisan Arab-Jawa.

Menginjak remaja, Darwis tumbuh menjadi seorang yang santun, hati peka, dan perasaan lembut. Darwis juga kritis. Ia menilai umat Islam saat itu sangat terpuruk. Ia juga melihat banyak ritual umat Islam yang tidak sesuai dengan tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad. Bahkan, ia sering beradu pendapat dengan sang ayah soal ritual tradisi yang ada di lingkungan Kauman saat itu. Darwis gelisah. Sebab, masyarakat Kauman banyak yang terjerumus dalam ritual tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Pada usia 20 tahun, Darwis menikah dengan Siti Walidah. Siti Walidah adalah putri dari Kiai Fadlil, yang juga masih Pakdenya sendiri. Siti Walidah seorang yang cerdas, pengetahuannya luas soal ilmu agama, dan pengertian.

Pada saat Siti Walidah hamil, Darwis diminta oleh ayahnya berangkat haji ke Tanah Suci, Mekkah. Di sana Darwis sekaligus menimba ilmu agama dari ulama di Mekkah. Darwis banyak belajar ilmu agama dari ulama asal Hindia Belanda yang tinggal di Mekkah. Darwis belajar ilmu agama dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, ulama dari Minangkabau. Ia mendapatkan pemahaman baru soal ajaran Islam. Ia dikenalkan dengan pemikiran Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Jamaludin Al Afghany. Keduanya tokoh pembaharuan Islam. Sedikit demi sedikit pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghany meresap dalam pikiran Darwis.

Saat belahar di Khatib Al Minangkabawi ini pula Darwis bertemu dengan Hasyim Asyari, seorang pemuda yang cerdas. Hasyim Asyari memanggil Darwis dengan sebutan Kang Mas karena memang Darwis usianya lebih tua. Darwis dan Hasyim Asyari berasal dari masyarakat yang berbeda. Darwis biasa hidup di kota, Hasyim Asyari di alam pedesaan dan pesantren.

Usai belajar dan mendalami ilmu agama dari para ulama, Darwis menunaikan jamaah haji. Usai menunaikan ibadah haji itu, Muhammad Darwis mendapatkan sertifikat haji dan diberi nama Ahmad Dahlan. Sejak saat itu, ia memakai nama Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Sepeninggal ayahnya, Ahmad Dahlan menggantikan posisinya sebagai ketib amin Masjid Agung Gede Yogyakarta. Ahmad Dahlan juga berdagang batik keliling beberapa daerah. Pada akhir 1897, KH Ahmad Dahlan mulai memikirkan memperbaiki arah kiblat masjid-masjid di Yogya sesuai ilmu falak. Saat itu kebanyakan arah kiblat masjid di Yogya mengarah ke barat daya. Padahal, sesuai ilmu falak yang diyakini oleh KH Ahmad Dahlan, arah kiblat semestinya mengarah ke barat laut atau bergeser kurang lebih 24 derajat dari posisi semula.

KH Ahmad Dahlan juga melanjutkan perjuangan ayahnya menghidupkan Langgar Kidul. Ia mengajak umat Islam menjalankan ajaran agama secara benar. Arah kibat Langgar Kidul juga disesuaikan mengarah barat laut. Namun, pemikiran dan dakwah KH Ahmad Dahlan sering bertentangan dengan Kiai Penghulu Kamaludiningrat. Ia dianggap merusak tradisi leluhur. Langgar Kidul pun dirobohkan orang-orang atas perintah Kiai Penghulu.

KH Ahmad Dahlan hampir putus asa. Usaha dan dakwahnya seolah sia-sia. Ia sempat ingin kabur dari Kauman, namun dicegah oleh kakaknya, Kang Mas Nur dan Kang Mas Saleh. Ngarsa Dalem mengetahui ketegangan itu. Ia pun memanggil KH Ahmad Dahlan. Dalam pertemuan itu, KH Ahmad Dahlan diminta belajar lagi ilmu agama dan berhaji di Mekkah. KH Ahmad Dahlan kembali ke Tanah Suci pada tahun 1903-1904. Ia semakin memperdalam ilmu agama dan pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghany dan Rasyid Rida. Ia banyak membaca majalah Al Manar.

Sepulang dari Mekkah, KH Ahmad Dahlan melanjutkan dakwah. Ia bergabung dengan Jamiatul Khoir, perkumpulan keturunan Arab yang ada di Batavia. Ia juga mendidik para santrinya dengan ilmu agama sesuai tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad. Namun, pertentangan antara KH Ahmad Dahlan dengan Kiai Penghulu juga tak reda. Pemikiran dan dakwah KH Ahmad Dahlan dianggap mengancam eksisteni ritual tradisi leluhur. Padahal, KH Ahmad Dahlan ingin umat Islam menjalankan ajaran agama sesuai Al Quran dan Sunnah dan tidak mencampurkan ajaran kejawen dalam beribadah.

KH Ahmad Dahlan mulai memperluas dakwahnya. Ia masuk bergabung dengan perkumpulan Budi Utomo pada 1907-1910. Ia mulai kenal dengan beberapa tokoh Budi Utomo cabang Yogyakarta. Ia juga mulai mengenal sistem pendidikan umum. Ia banyak bergaul dengan kalangan pelajar pribumi. KH Ahmad Dahlan juga diminta berdakwah di kalangan terpelajar pribumi. Ia juga diminta menjadi guru agama di sekolah Kweekschool.

KH Ahmad Dahlan mulai memikirkan pendidikan bagi masyarakat Kauman. Ia lalu mendirikan Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ia memanfaatkan salah satu ruangan di rumahnya untuk sekolah itu. Saat itu ada delapan murid yang belajar di sekolah itu. Seiring berjalan waktu muridnya terus bertambah.

Pada 1912, KH Ahmad Dahlan mulai memikirkan mendirikan persyarikatan. Bersama para santrinya, ia mendirikan persyarikatan yang diberi nama Muhammadiyah atau pengikut Muhammad. Pada 18 November 1912 Masehi atau bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah, persyarikatan Muhammadiyah mendapatkan surat persetujuan pendirian dari Governemen Hindia Belanda. Usai mendapatkan pengesahan itu, pengurus Muhammadiyah melakukan rapat pertama di Kauman. Rapat dihadiri pengurus Muhammadiyah dan pengurus Budi Utomo. Rapat terbuka Muhammadiyah digelar di Loodge Gebouw Malioboro.

Pada masa awal Persyarikatan Muhammadiyah masih kecil. Gerakan yang dilakukan Muhammadiyah yakni bidang tabligh, bidang taman pustaka, bidang penolong kesengsaraan umum. Selain itu, ibu-ibu yang dimotori Siti Walidah mendirikan Aisyiah yang berawal dari pengajian sopo tresno.

Namun saat itu, persyarikatan Muhammadiyah hanya boleh berdiri di Yogyakarta. Untuk menyiasatinya, pengikut Ahmad Dahlan di luar Yogya mendirikan perkumpulan dengan nama berbeda-beda. Setelah Persyarikatan Muhammadiyah boleh membuka cabang di luar kota, namanya semuanya diubah menjadi cabang persyarikatan Muhammadiyah.

Seiring berjalannya waktu, Persyarikatan Muhammadiyah berkembang pesat. Bidang tabligh, bidang taman pustaka, bidang sekolah, dan bidang penolong kesengsaraan umum, mampu mengembangkan diri dan diterima luas oleh masyarakat. KH Ahmad Dahlan juga dengan gigih melakukan dakwah dari daerah ke daerah sambil berdagang batik. Namun, selama sepuluh tahun berdakwah tak kenal lelah, kondisi kesehatan Ahmad Dahlan mulai menurun. Pada 23 Februari 1923 di usianya yang ke-54 tahun, KH Ahmad Dahlan meninggal. Posisinya sebagai ketua persyarikatan Muhammadiyah digantikan oleh adik iparnya, Kiai Ibrahim. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Ahmad Dahlan berpesan,”Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah.”. (kik)

 

Berita Terkait

Videotorial

Festival Banyu Urip 2018, Destinasi Wisata Hiburan di Bojonegoro

Festival Banyu Urip 2018, Destinasi Wisata Hiburan di Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Ribuan warga memadati jalan-jalan, warung-warung dan lapangan sepakbola Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro saat digelar perhelatan ...

Teras

Gantung Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Gantung Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Kejadian bunuh diri atau gantung diri di wilayah Kabupaten Bojonegoro selama tahun 2018, menunjukkan angka yang relatif cukup tinggi. Lantas ...

Opini

Lukman Wafi: Saya Mengundurkan Diri Sebagai Ketua KONI Bojonegoro

Lukman Wafi: Saya Mengundurkan Diri Sebagai Ketua KONI Bojonegoro

"Dengan ini saya Lukman Wafi, menyatakan mengundurkan diri sebagai ketua KONI Kabupaten Bojonegoro, periode 2015 - 2019." PERTAMA, Begitu saya ...

Quote

Kehormatan

Kehormatan

Ada berbagai cara yang digunakan oleh manusia untuk mempertahankan atau mendapatkan kehormatan, diantaranya dengan bertutur kata dan berbusana, hal ini ...

Sosok

Sari Koeswoyo, Antara Seorang Ibu dan Pelaku Seni

Sosok

Sari Koeswoyo, Antara Seorang Ibu dan Pelaku Seni

Oleh Muliyanto Tanggal 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Hari di mana perempuan-perempuan Indonesia menyelenggarakan Kongres Perempuan Pertama pada 22 ...

Eksis

Sepasang Kakak-Adik di Blora Ciptakan Lampu Emergency Hemat Listrik

Sepasang Kakak-Adik di Blora Ciptakan Lampu Emergency Hemat Listrik

Oleh Priyo Spd Blora- Sering terjadinya listrik padam di wilayah Blora, membuat sepasang kakak-adik, warga Kelurahan Jetis Kecamatan Blora, menciptakan ...

Religi

Hukum Nikah Sirri

Hukum Nikah Sirri

*Oleh Drs H Sholikin Jamik SH MHes. Istilah nikah sirri atau nikah yang dirahasiakan memang dikenal di kalangan para ulama, ...

Infotorial

Ibu Inspiratif, Mengubah “Limbah” Menjadi Berkah

Ibu Inspiratif, Mengubah “Limbah” Menjadi Berkah

Oleh Imam Nurcahyo Ngaisah namanya. Perempuan kelahiran 44 tahun lalu ini ibu rumah tangga biasa, layaknya perempuan desa di sekitarnya. ...

Berita Foto

Festival Perahu Hias, Bengawan Solo Bojonegoro

Festival Perahu Hias, Bengawan Solo Bojonegoro

Festival Perahu Hias merupakan rangkaian dari Festival Bengawan Bojonegoro 2018, digelar Minggu, 30 Desember 2018. Festival Bengawan Bojonegoro 2018, digelar ...

Feature

Budidaya Jamur Jenggel Jagung di Blora Terkendala Pemasaran

Budidaya Jamur Jenggel Jagung di Blora Terkendala Pemasaran

Blora- Usaha budidaya jamur janggel (bonggol) jagung yang dilakukan warga Dusun Mojo Kulon Desa Banjarejo Kecamatan Banjerejo Kabupaten Blora, Jawa ...

Resensi

Alice in Cheongdam Dong 2

Alice in Cheongdam Dong 2

Oleh Delfariza Amaliya Penulis : Ahn Jae Kyung Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas Tahun : 2014 Penerbit : Qanita, PT ...

Pelesir

Waduk Selo Parang di Blora Pikat Pengunjung Wisata

Waduk Selo Parang di Blora Pikat Pengunjung Wisata

Blora- Masyarakat Desa Tempel Lemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah memanfaatkan kawasan waduk Selo Parang menjadi tempat wisata baru ...

Hiburan

Barista Asal Mojokerto Juarai Latte Art Battle di Bojonegoro

Barista Asal Mojokerto Juarai Latte Art Battle di Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Dalam partai final Latte Art Battle di KDS Toserba Bojonegoro yang digelar pada Sabtu (01/12/2018) ...

Statistik

Hari ini

405 kunjungan

673 halaman dibuka

74 pengunjung online

Bulan ini

140.532 kunjungan

230.909 halaman dibuka

Tahun ini

326.817 kunjungan

548.710 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 724.988

Indonesia: 10.938

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015