News Ticker
  • Mas Jenggot Sulap Limbah Kayu Menjadi Miniatur Keren
  • Kang Yoto Ajak Siswa Berpikir Cerdas dan Terus Berusaha
  • Korban Tenggelam di Sungai Bengawan Solo Kalitidu Berhasil Ditemukan
  • Hingga Petang ini Warga Kalitidu Korban Tenggelam di Bengawan Solo Belum Ditemukan
  • Tim SAR Terus Lakukan Pencarian Korban Tenggelam di Sungai Bengawan Solo Kalitidu
  • Warga Kalitidu Dilaporkan Tenggelam di Sungai Bengawan Solo
  • Lagi-Lagi, Gudang Oven Tembakau Milik Warga Temayang Terbakar
  • Pembukaan Bojonegoro Fashion And Art Award 2017 Berlangsung Meriah
  • Mayat Bayi Laki-Laki Ditemukan Warga Kedungbondo Balen, Mengapung di Bengawan Solo
  • Agar Masyarakat Tak Kesulitan Membangun Jamban
  • Aneka Makanan dan Kerajinan Meriahkan Bojonegoro Fashion and Art Award
  • Kang Yoto Hadiri Seminar dan Pelantikan Pengurus LPA Bojonegoro
  • Sempat Menyentuh Siaga Hijau, Siang ini Bojonegoro Kota Kembali Normal
  • Sambil Berbagi Nasi, Sat Lantas Polres Bojonegoro Sampaikan Imbauan Tertib Berlalu Lintas
  • Market Day SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro Meriah
  • Kapolres Bojonegoro Ajak Semua Pihak Berkomitmen Laksanakan Pemilu Damai
  • Kapolres Tegaskan Akan Proses Semua Kasus Penipuan Pengisian Perangkat Desa
  • Bojonegoro Kota Pagi ini Masuk Status Siaga Hijau
  • Pesan Bupati Suyoto untuk Tim Robotic SMAN 1 Baureno
  • Masuki Masa Perbaikan, Parpol Diminta Lebih Cermati Data Keanggotaan

Dahlan, Sebuah Novel

Dahlan, Sebuah Novel

Oleh Muhammad Roqib

Buku yang mengulas tentang tokoh Kiai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, sangat jarang. Padahal, pengaruh KH Ahmad Dahlan masih kita rasakan hingga sekarang. Nah, buku Dahlan Sebuah Novel karya Haidar Musyafa, ini bisa menjadi rujukan untuk mengetahui jejak dan teladan KH Ahmad Dahlan.

KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, kawasan Kasultanan Ngayogyakarta, pada 1 Agustus 1868 Masehi. Semasa kecil ia bernama Muhammad Darwis. Ayahnya, Kiai Abu Bakar, seorang Ketib Amin di Masjid Gede Yogyakarta. Jabatan ketib ini diangkat oleh Ngarso Dalem Sultan Yogyakarta. Jabatan tertinggi dalam struktur abdi dalem pamethakan adalah Kiai Penghulu yang saat itu dijabat Kiai HM Kholil Kamaludiningrat.

Kauman merupakan kampung yang padat. Kauman dikenal sebagai kampung santri. Menurut peraturan Kasultanan Ngayogyakarta hanya orang Islam yang diperbolehkan tinggal di Kauman ini. Ayah Muhammad Darwis mempunyai langgar kecil di pekarangan rumah yang disebut Langgar Kidul. Darwis dididik oleh ayahnya, Kiai Abu Bakar dengan ilmu agama yang sangat ketat. Ia mendapatkan ilmu agama dari sang ayah dan kakak kakaknya. Darwis tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Sejak kecil Darwis dikenal pemberani, berkemauan keras, dan kritis. Ia sempat protes pada ayahnya mengapa tidak boleh sekolah umum bikinan Belanda waktu itu. Namun, setelah diberi pemahaman oleh sang ayah, dia pun paham. Sehari-hari Darwis mengaji kebetan kitab dan bermain layaknya seorang bocah. Darwis juga mengaji di pondok Kiai Hamid di daerah Lempuyangan.

Selain seorang ketib amin, Kiai Abu Bakar juga dikenal sebagai pedagang batik. Ia berdagang batik sampai di Magelang, Semarang, Solo. Kiai Abu Bakar juga belajar ilmu agama pada Kiai Shaleh Darat, seorang tokoh ulama yang karismatik dan berwawasan luas. Kiai Shaleh Darat mampu menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Juga pencipta huruf-huruf pegon, tulisan Arab-Jawa.

Menginjak remaja, Darwis tumbuh menjadi seorang yang santun, hati peka, dan perasaan lembut. Darwis juga kritis. Ia menilai umat Islam saat itu sangat terpuruk. Ia juga melihat banyak ritual umat Islam yang tidak sesuai dengan tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad. Bahkan, ia sering beradu pendapat dengan sang ayah soal ritual tradisi yang ada di lingkungan Kauman saat itu. Darwis gelisah. Sebab, masyarakat Kauman banyak yang terjerumus dalam ritual tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Pada usia 20 tahun, Darwis menikah dengan Siti Walidah. Siti Walidah adalah putri dari Kiai Fadlil, yang juga masih Pakdenya sendiri. Siti Walidah seorang yang cerdas, pengetahuannya luas soal ilmu agama, dan pengertian.

Pada saat Siti Walidah hamil, Darwis diminta oleh ayahnya berangkat haji ke Tanah Suci, Mekkah. Di sana Darwis sekaligus menimba ilmu agama dari ulama di Mekkah. Darwis banyak belajar ilmu agama dari ulama asal Hindia Belanda yang tinggal di Mekkah. Darwis belajar ilmu agama dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, ulama dari Minangkabau. Ia mendapatkan pemahaman baru soal ajaran Islam. Ia dikenalkan dengan pemikiran Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Jamaludin Al Afghany. Keduanya tokoh pembaharuan Islam. Sedikit demi sedikit pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghany meresap dalam pikiran Darwis.

Saat belahar di Khatib Al Minangkabawi ini pula Darwis bertemu dengan Hasyim Asyari, seorang pemuda yang cerdas. Hasyim Asyari memanggil Darwis dengan sebutan Kang Mas karena memang Darwis usianya lebih tua. Darwis dan Hasyim Asyari berasal dari masyarakat yang berbeda. Darwis biasa hidup di kota, Hasyim Asyari di alam pedesaan dan pesantren.

Usai belajar dan mendalami ilmu agama dari para ulama, Darwis menunaikan jamaah haji. Usai menunaikan ibadah haji itu, Muhammad Darwis mendapatkan sertifikat haji dan diberi nama Ahmad Dahlan. Sejak saat itu, ia memakai nama Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Sepeninggal ayahnya, Ahmad Dahlan menggantikan posisinya sebagai ketib amin Masjid Agung Gede Yogyakarta. Ahmad Dahlan juga berdagang batik keliling beberapa daerah. Pada akhir 1897, KH Ahmad Dahlan mulai memikirkan memperbaiki arah kiblat masjid-masjid di Yogya sesuai ilmu falak. Saat itu kebanyakan arah kiblat masjid di Yogya mengarah ke barat daya. Padahal, sesuai ilmu falak yang diyakini oleh KH Ahmad Dahlan, arah kiblat semestinya mengarah ke barat laut atau bergeser kurang lebih 24 derajat dari posisi semula.

KH Ahmad Dahlan juga melanjutkan perjuangan ayahnya menghidupkan Langgar Kidul. Ia mengajak umat Islam menjalankan ajaran agama secara benar. Arah kibat Langgar Kidul juga disesuaikan mengarah barat laut. Namun, pemikiran dan dakwah KH Ahmad Dahlan sering bertentangan dengan Kiai Penghulu Kamaludiningrat. Ia dianggap merusak tradisi leluhur. Langgar Kidul pun dirobohkan orang-orang atas perintah Kiai Penghulu.

KH Ahmad Dahlan hampir putus asa. Usaha dan dakwahnya seolah sia-sia. Ia sempat ingin kabur dari Kauman, namun dicegah oleh kakaknya, Kang Mas Nur dan Kang Mas Saleh. Ngarsa Dalem mengetahui ketegangan itu. Ia pun memanggil KH Ahmad Dahlan. Dalam pertemuan itu, KH Ahmad Dahlan diminta belajar lagi ilmu agama dan berhaji di Mekkah. KH Ahmad Dahlan kembali ke Tanah Suci pada tahun 1903-1904. Ia semakin memperdalam ilmu agama dan pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghany dan Rasyid Rida. Ia banyak membaca majalah Al Manar.

Sepulang dari Mekkah, KH Ahmad Dahlan melanjutkan dakwah. Ia bergabung dengan Jamiatul Khoir, perkumpulan keturunan Arab yang ada di Batavia. Ia juga mendidik para santrinya dengan ilmu agama sesuai tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad. Namun, pertentangan antara KH Ahmad Dahlan dengan Kiai Penghulu juga tak reda. Pemikiran dan dakwah KH Ahmad Dahlan dianggap mengancam eksisteni ritual tradisi leluhur. Padahal, KH Ahmad Dahlan ingin umat Islam menjalankan ajaran agama sesuai Al Quran dan Sunnah dan tidak mencampurkan ajaran kejawen dalam beribadah.

KH Ahmad Dahlan mulai memperluas dakwahnya. Ia masuk bergabung dengan perkumpulan Budi Utomo pada 1907-1910. Ia mulai kenal dengan beberapa tokoh Budi Utomo cabang Yogyakarta. Ia juga mulai mengenal sistem pendidikan umum. Ia banyak bergaul dengan kalangan pelajar pribumi. KH Ahmad Dahlan juga diminta berdakwah di kalangan terpelajar pribumi. Ia juga diminta menjadi guru agama di sekolah Kweekschool.

KH Ahmad Dahlan mulai memikirkan pendidikan bagi masyarakat Kauman. Ia lalu mendirikan Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ia memanfaatkan salah satu ruangan di rumahnya untuk sekolah itu. Saat itu ada delapan murid yang belajar di sekolah itu. Seiring berjalan waktu muridnya terus bertambah.

Pada 1912, KH Ahmad Dahlan mulai memikirkan mendirikan persyarikatan. Bersama para santrinya, ia mendirikan persyarikatan yang diberi nama Muhammadiyah atau pengikut Muhammad. Pada 18 November 1912 Masehi atau bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah, persyarikatan Muhammadiyah mendapatkan surat persetujuan pendirian dari Governemen Hindia Belanda. Usai mendapatkan pengesahan itu, pengurus Muhammadiyah melakukan rapat pertama di Kauman. Rapat dihadiri pengurus Muhammadiyah dan pengurus Budi Utomo. Rapat terbuka Muhammadiyah digelar di Loodge Gebouw Malioboro.

Pada masa awal Persyarikatan Muhammadiyah masih kecil. Gerakan yang dilakukan Muhammadiyah yakni bidang tabligh, bidang taman pustaka, bidang penolong kesengsaraan umum. Selain itu, ibu-ibu yang dimotori Siti Walidah mendirikan Aisyiah yang berawal dari pengajian sopo tresno.

Namun saat itu, persyarikatan Muhammadiyah hanya boleh berdiri di Yogyakarta. Untuk menyiasatinya, pengikut Ahmad Dahlan di luar Yogya mendirikan perkumpulan dengan nama berbeda-beda. Setelah Persyarikatan Muhammadiyah boleh membuka cabang di luar kota, namanya semuanya diubah menjadi cabang persyarikatan Muhammadiyah.

Seiring berjalannya waktu, Persyarikatan Muhammadiyah berkembang pesat. Bidang tabligh, bidang taman pustaka, bidang sekolah, dan bidang penolong kesengsaraan umum, mampu mengembangkan diri dan diterima luas oleh masyarakat. KH Ahmad Dahlan juga dengan gigih melakukan dakwah dari daerah ke daerah sambil berdagang batik. Namun, selama sepuluh tahun berdakwah tak kenal lelah, kondisi kesehatan Ahmad Dahlan mulai menurun. Pada 23 Februari 1923 di usianya yang ke-54 tahun, KH Ahmad Dahlan meninggal. Posisinya sebagai ketua persyarikatan Muhammadiyah digantikan oleh adik iparnya, Kiai Ibrahim. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Ahmad Dahlan berpesan,”Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah.”. (kik)

 

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Sosok

Tidak Menyangka Terima Penghargaan Langsung dari Kapolri

Aiptu Sholeh, Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Kanor

Tidak Menyangka Terima Penghargaan Langsung dari Kapolri

Oleh Muhammad Roqib Bojonegoro - Karena jasa-jasa serta pengabdiannya yang melebihi panggilan tugas semestinya, Aiptu Sholeh Bhabinkamtibmas Desa Sroyo Polsek ...

Quote

Sambutan Bupati Bojonegoro pada Idul Adha 1438 H

Berkorban Untuk Masa Depan Bersama Yang Lebih Baik!

Sambutan Bupati Bojonegoro pada Idul Adha 1438 H

Berkorban Untuk Masa Depan Bersama Yang Lebih Baik! Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarakaatuh Yang saya cintai, ...

Opini

Kegaduhan DPRD Bojonegoro Persoalkan Ujian Perangkat Desa

Kegaduhan DPRD Bojonegoro Persoalkan Ujian Perangkat Desa

*Oleh Mumamad Nur Khozin KABUPATEN Bojonegoro telah sukses menyelengarakan ujian perangkat desa secara serentak. Ujian perangkat desa yang diikuti oleh ...

Eksis

Perayaan di Bulan Agustus

Perayaan di Bulan Agustus

Oleh Naura Deazzura Kirana Agustus adalah bulan yang biasa kita ramaikan bersama-sama. Pada bulan Agustus kita merayakan hari Kemerdekaan Indonesia. ...

Pelesir

Warung Semok Iwak Gloso Mbak Sumi yang Fenomenal

Warung Semok Iwak Gloso Mbak Sumi yang Fenomenal

Oleh Angga Reza Bojonegoro (Temayang) Sebuah warung sederhana berdiri di ujung selatan Kabupatan Bojonegoro di dekat jembatan Kedungjati turut Desa ...

Religi

Hadiri Pengajian di Sukosewu, Kapolres Ajak Jamaah Untuk Tidak Ikut Aksi di Jakarta

Hadiri Pengajian di Sukosewu, Kapolres Ajak Jamaah Untuk Tidak Ikut Aksi di Jakarta

*Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro (Sukosewu) - Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu S Bintoro SH SIK MSi menghadiri pengajian umum Jamaah Tahlil, ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Selasa, 21 November 2017

Berita Foto

Sejumlah Kepala Desa Laksanakan Pelantikan Perangkat Desa Baru

Pelantikan Perangkat Desa

Sejumlah Kepala Desa Laksanakan Pelantikan Perangkat Desa Baru

Oleh Muliyanto Bojonegoro - Usai pelaksanaan tes tulis seleksi pengisian perangkat desa Kabupaten Bojonegoro, yang dilaksanakan secara serentak pada Kamis ...

Infotorial

Optimisme, Sinergi dan Pelestarian Budaya dalam Festival Banyu Urip

Hari Jadi Ke-340 Kabupaten Bojonegoro dan Hari Jadi Ke-5 Kecamatan Gayam

Optimisme, Sinergi dan Pelestarian Budaya dalam Festival Banyu Urip

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Menginjak usia ke-340, Bojonegoro dan masyarakatnya sudah semakin bertumbuh. Nama Kabupaten Bojonegoro kini sudah sangat ...

Resensi

Kisah Pi yang Inspiratif

Kisah Pi yang Inspiratif

Oleh Vera Astanti Ini adalah kisah petualangan Piscine Molitor Patel, biasa di panggil Pi, si tokoh utama, anak keturunan India ...

Feature

Mas Jenggot Sulap Limbah Kayu Menjadi Miniatur Keren

Mas Jenggot Sulap Limbah Kayu Menjadi Miniatur Keren

Oleh Angga Reza Bojonegoro (Kota) Meracik limbah menjadi sesuatu produk yang bernilai tinggi tentu saja tidak mudah. Tapi bagi M ...

Teras

Ada Konten Gambar Gerak (GIF) Pornografi di WhatsApp

Ada Konten Gambar Gerak (GIF) Pornografi di WhatsApp

*Oleh Imam Nurcahyo Lindungi anak-anak dari pornografi! SEJUMLAH media pada Minggu (05/11/2017) ramai memberitakan adanya unsur pornografi yang terdapat pada ...

Statistik

Hari ini

1.223 pengunjung

2.533 halaman dibuka

167 pengunjung online

Bulan ini

62.614 pengunjung

213.645 halaman dibuka

Tahun ini

949.136 pengunjung

3.781.899 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 581.382

Indonesia: 11.442

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015