Kekeringan Mengancam Ketahanan Pangan
Senin, 10 Agustus 2015 16:00 WIBOleh Mulyanto
Oleh Mulyanto
Bojonegoro – Kemarau panjang dan kekeringan yang melanda wilayah Bojonegoro mengancam ketersediaan pangan. Sebab, petani yang menanam padi di daerah sawah tadah hujan banyak yang mengalami gagal tanam dan gagal panen.
Saat ini para petani diharapkan tidak menanam padi melainkan menanam palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Bila memaksakan diri menanam padi maka dipastikan tanamannya akan mengering dan mati.
Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro, Ir. Heri Widodo Msi, sebagian lahan pertanian di wilayah Bojonegoro terutama di daerah tadah hujan dan mengandalkan pengairan dari embung saat ini sudah tidak bisa diharapkan lagi. Sebab, air pengairan persawahan dari embung dan waduk banyak yang menyusut drastis.
“Saat ini hanya lahan persawahan di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo yang masih bisa diharapkan karena mendapatkan pengairan dari sungai,” ujarnya.
Namun, pengairan di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo juga membutuhkan biaya tanam dan perawatan yang besar. Sebab, untuk mengambil air dari sungai membutuhkan biaya pompa diesel penyaluran air. Selain itu, untuk daerah bantaran Bengawan Solo di wilayah timur Bojonegoro juga sulit mendapatkan air. Kalau pun menanam padi juga akan rawan gagal panen.
Menurut Heri Widodo, petani saat musim kemarau ini sebaiknya tidak menanam padi melainkan menanam palawija. Saat kondisi sulit, kata dia, para petani di daerah sawah tadah hujan biasa mengkonsumsi nasi jagung dan nasi singkong. (mol/kik)






































