Dampak Kekeringan di Bojonegoro
Demi Air, Warga Rela Berjalan Jauh dan Antri 6 Jam
Selasa, 22 September 2015 14:00 WIBOleh Ahmad Bukhori dan Khoirul Anam
Oleh Ahmad Bukhori dan Khoirul Anam
Sumberrejo - Kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro pada musim kemarau saat ini dirasakan semakin parah. Warga mulai kebingungan memenuhi kebutuhan air bersih. Sementara bantuan air bersih yang dikirim pemerintah kabupaten masih kurang dari cukup. Bahkan belakangan dirasakan bantuan itu kurang merata. Akibatnya, warga desa yang krisis air harus rela berebut membeli air.
Kondisi ini dirasakan warga pada sejumlah desa di Kecamatan Sumberrejo dan Kedungadem. Untuk mendapatkan kebutuhan air, mereka harus mengeluarkan biaya hidup tambahan dengan membeli di sumur atau sumber air milik warga desa tetangga. Bahkan mereka setiap hari rela berjalan jauh dan antri selama 5-6 jam.
Seperti yang diungkapkan Herman Susanto (38), warga Desa Balong Cabe, Kecamatan Sumberrejo. Dia mengatakan, droping air yang dilakukan pemerintah kabupaten di desanya sangat kurang. Bantuan air itu belum bisa menjadi solusi bagi warga saat kemarau panjang seperti ini.
"Makanya, yang kami bisa hanya mengurangi hajat penggunaan air bersih tiap hari. Padahal kebutuhan air tidak hanya untuk manusia saja, hewan peliharaan jugu butuh," ujarnya kepada beritabojonegoro.com, saat ditemui di sela-sela mengantre membeli air di sumber air milik warga Desa Ngampal, Kecamatan Sumberrejo, Selasa (22/09).
Warga lain yang turut antri, Dimyati (35), asal Desa Tlogoagung, menambahkan, bantuan air dari pemerintah itu hanya untuk kebutuhan air minum saja. Itupun kadang masih kurang. "Normal kebutuhan air setiap kepala keluarga itu 6 sampai 8 jerigen kapasitas 30 liter per hari. Air itu untuk keperluan mandi, masak, mencuci, dan minum," tuturnya.
Karena sumur di rumahnya sudah kering, imbuh Dimyati, kini untuk memperoleh air bersih dirinya harus membeli. Selain itu dia juga harus rela menempuh perjalanan cukup jauh. Ditambah pula harus antri di sumur milik Puguh, warga RT 04 RW 01 Desa Ngampal, Kecamatan Sumberrejo. "Banyak warga yang membeli air di sini. Saya harus antri menunggu 5-6 jam," ucapnya.
Situasi yang sama juga terjadi di wilayah Kecamatan Kedungadem. Istianah (40), warga Desa/Kecamatan Kedungadem, mengungkapkan, warga desanya saat ini resah terkait pemenuhan kebutuhan air. Bantuan air dari pemerintah belum bisa memberi rasa aman bagi warga.
Menurutnya, adanya bantuan air bersih malah merugikan masyarakat karena tidak semua masyarakat bisa menerima air bersih, terutama warga ekonomi menengah ke bawah. Droping air dari pemerintah malah membuat masyarakat konflik, karena bantuan tidak merata.
"Saya harap jika ada bantuan air dari pemerintah harus bisa memberi solusi untuk masyarakat, agar kekeringan seperti saat ini tidak terjadi lagi," ucapnya. (ori/nam/tap)
*) Foto warga berjalan ambil air































.md.jpg)






