News Ticker
  • Pemkab Bojonegoro Bersama GenRe Gelar Pelatihan Konselor Sebaya PIK-R, Siapkan Remaja Optimis Raih Masa Depan
  • Harga emas Antam di Pegadaian hari ini Minggu 1 Februari 2026
  • Prakiraan Cuaca Kabupaten Bojonegoro, Minggu 01 Faberuari 2026
  • 01 Januari Dalam Sejarah
  • Konser Kpop di Tahun 2026! Sudah Siap War Ticket?
  • Pemkab Bojonegoro Lakukan Inventarisasi Data untuk Penguatan Tata Kelola Data Terpadu dan Berkelanjutan
  • Menaga di Al-Azhar Kairo: Merusak Lingkungan Menyimpang dari Tujuan Ibadah
  • Kisah di Balik Layar Agak Laen 2, Naskah Sempat Hilang Jelang Deadline
  • Mempersiapkan Generasi Muda Penuh Optimisme
  • Kenali Tanda Minum Air Putih Terlalu Banyak, Jangan Sampai Berujung Masalah Kesehatan
  • Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp 260.000 menjadi Rp 2.860.000 per Gram
  • 31 Januari dalam Sejarah
  • DKPP Bojonegoro Ajak Petani Manfaatkan Alsintan Gratis untuk Dorong Produktivitas Pertanian
  • Bekatul Tak Lagi Terbuang, Kreasi Crepe Roll Cake Jadi Inovasi Pangan Lokal Bernilai Gizi dan Ekonomi
  • Bupati Bojonegoro Buka Langsung Operasi Pasar Murah Perdana di Tahun 2026
  • Cukupi Minum Air Putih, Langkah Sederhana Jaga Kesehatan Tubuh
  • Bupati Bojonegoro Hadirkan Semangat Petani Lewat Medhayoh di Balen, Dorong Produktivitas Pertanian
  • Pemkab Bojonegoro Gelar Penguatan Kompetensi CPNS, Tanamkan Integritas Anti Korupsi
  • Tenggelam di Sungai Pacal, 2 Anak Kembar di Temayang, Bojonegoro Ditemukan Meninggal
  • Jalan Cor Persawahan di Balen Indah Membentang
  • Khofifah Lantik Tujuh Pejabat Eselon II Pemprov Jatim, Ada Bakorwil Bojonegoro
  • 30 Januari dalam Sejarah
  • Turun Rp 48.000, Harga Emas Antam Hari Ini Rp 3.120.000 per Gram
  • Sejumlah Jabatan Strategis di Pemkab Bojonegoro Belum Terisi
Menjadi Guru Gokil di Generasi Alay

Buku Guru Gokil Murid Unyu Karya J. Sumardianta

Menjadi Guru Gokil di Generasi Alay

Oleh Mulyanto

"Yang memalukan bukanlah ketidaktahuan. Yang memalukan adalah ketidakmauan untuk belajar"

(Plato, 427 - 347 SM)

BUKU ini selesai saya baca dalam waktu semalam. Bukan karena tidak menarik sehingga akhirnya harus cepat-cepat saya selesaikan, tetapi karena ini ringan. Ya, buku setebal 303 halaman ini adalah kolom-kolom yang ringan sekali. Membacanya seperti mengunyah keripik, gurih dan tidak mau berhenti. Itulah yang saya suka dari J. Sumardianta dari buku-buku dan kolom-kolomnya yang beberapa saya ikuti di media massa. Serius tapi tidak berat.

Kesan ringan tersebut sudah terpampang jelas sejak awal sebenarnya, sejak orang membaca judulnya: Guru Gokil Murid Unyu. Secara keseluruhan, kolom-kolom yang terbagi menjadi beberapa bagian pembahasan ini memaparkan dengan sangat santai bagaimana persoalan pendidikan tidak hanya di Indonesia, karena persoalan pendidikan adalah bukan persoalan di mana atau kapan. Persoalan pendidikan adalah persoalan yang dihadapai oleh seluruh umat manusia sejak awal keberadaannya di dunia hingga kapanpun dan di manapun berada. Meskipun terkesan sebagai curhat, karena memang semuanya berasal dari pengalaman pribadi, kita tetap bisa mengambil banyak pelajaran dan makna dari buku ini.

Sebagai kumpulan kolom, buku ini terbagi menjadi beberapa bagian, yakni  Kacamata Sang Pendidik, Alam adalah Guru, Hidup untuk Menghidupi, Jendela Ilmu, Sekolah Bukan Rumah Kaca, dan Berkah Guru Kecanduan Buku. Akan terlalu panjang kalau membahas semua bagiannya. Catatan ini hanya ingin membuat semacam apresiasi ala kadarnya atas usaha J. Sumardianta sekaligus menabalkan bahwa buku ini layak dan rocomended untuk dibaca.

Ada satu kisah tentang pentingnya memandang tidak hanya berdasar penampilan saja. Orang yang sepintas lalu kita pandang bodoh, belum tentu sepenuhnya bodoh. Bisa jadi dia lebih pintar dan terhormat ketimbang kita, meskipun sepintas lalu nampak lusuh dan cupu. J. Sumardianta bercerita menarik tentang itu. Suatu ketika datang sepasang suami istri menemui rektor universitas Harvard. Karena orang penting, mereka harus antre sampai berjam-jam lamanya, sampai 14 jam. Ketika tiba antrean, merekapun masuk ke ruang rektor dan berbincang. Mereka adalah sepasang suami istri yang berpakaian lusuh dan terlihat miskin, tidak berpendidikan dan kampungan. Tetapi mereka bilang kepada sang rektor bahwa mereka ingin menyumbang sebuah gedung untuk Universitas Harvard. Bukannya menyambut dengan hangat, sang rektor malah pongah.

“Sebuah gedung? Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard," begitu kata sang rektor. Sepasang suami istri itu tidak menunjukkan reaksi kaget, marah atau melawan. Mereka diam saja dan melanjutkan perjalanan ke California. Di sanalah kemudian berdiri sebuah universitas yang tak kalah hebat dengan Harvard, Stanford University. Sepasang suami istri tersebut tidak lain adalah Mr. dan Mrs. Leland Stanford.

Banyak orang yang silau dengan penampilan yang sepintas lalu necis, rapi, wah dan meyakinkan. Sebaliknya penampilan yang lusuh dipandang buruk dan rendah. rektor Harvard tergolong manusia seperti itu. Banyak sekali kisah-kisah tentang hal senada dalam buku ini. Dikisahkan dengan gaya tutur yang lihai dan gurih, setiap ceritanya membuat pembaca terhibur sekaligus tercerahkan.

Ada kisah lain mengenai pengalaman Sumardianta bersama muridnya saat magang kerja sosial di sebuah panti jompo. Sekolah tempat Sumardianta mengajar, SMA Kolose de Britto, memang mewajibkan muridnya untuk magang sosial di tempat-tempat tertentu. Murid tersebut bernama Alung. Dia magang di sebuah panti Jompo Pasar Senin di Jakarta. Alung harus berjuang menghadapi kamar penghuni panti yang bukan main baunya, aroma tinja bercampur air seni mengaduk-aduk perut Alung. Namun Alung tak menyerah. Dia bekerja keras mengatasi rasa jijik dan mual tersebut. Dengan telaten dia merawat dan membersihkan seorang kakek penghuni panti itu. Dia merawat mulai memandikan, memakaikan baju, dan menyuapi makan lelaki tua di panti itu. Saat itulah Alung menemukan semacam kesadaran atau breaktrough (titik balik) yang mengubah jalan hidupnya.

Alung memang memiliki sejarah hidup yang kelam. Dia sejak kecil sudah hidup tanpa ayah. Ayahnya meninggalkan ibunya tanpa kejelasan tatkala Alung masih kecil. Dia mnyimpan kebencian terhadap sang ayah. Ketika magang itulah dia menemukan kesadaran dan rasa benci terhadap sang ayah menguap. Alung berkata, "Kalau bapak saya kembali ke rumah Ibu, akan saya terima. Andaipun tidak, karena beliau sudah punya keluarga baru, beliau tetap bapak saya,” sungguh suatu sikap yang bijaksana dari seorang bocah muda bernama Alung.

Sebagai pembimbing kelas magang tersebut, J. Sumardianta kerap menjadi tempat berbagi keresahan dan masalah para muridnya. Dia adalah guru yang membaktikan diri untuk mendekat dan menyelami citra dan pribadi para muridnya. Menurut Sumardianta, seorang guru harus menjadi pendamping para murid. Dan untuk menjadi pendamping ini, seorang guru harus berani menyaru ibarat kapal selam. Sehingga nantinya ia mampu bergerak mengantar dan menemani murid menyelam dan memasuki kedalaman makna. Banyak sekali kisah-kisah magang para muridnya serupa Alung tersebut.

Buku ini adalah satu-satunya karya J. Sumardianta yang saya punya. Saya berkenalan dengan Sumardianta lewat resensi-resensinya yang sering saya baca di sebuah media cetak nasional. Tulisan-tulisannya enak dibaca memang. Saya juga menyimak kisah-kisah serupa di atas ketika Sumardianta menjadi pembicara tentang Pendidikan ala Ki Hajar Dewantara pada sebuah diskusi di Komunitas Salihara sekitar tahun 2012 silam. Begitu buku ini diluncurkan di pasaran, saya segera mencarinya di toko buku di Bojonegoro. Namun sayang, empat bulan semenjak buku terbit, saya baru bisa mendapatkannya.

Bagian akhir buku adalah kisah Sumardianta tentang buku, "Berkah Guru Kecanduan Buku". J. Sumardianta adalah pelahap buku yang hebat. Inilah yang membuat saya, lagi-lagi, nyambung. Misalnya saya akan jelas-jelas nyambung dengan orang kalau dia punya pengalaman membaca Pramoedya, Seno Gumira Ajidarma, Frans Kafka, Gabriel Garcia Marques, dan lain-lain. Saya kerap nyambung dengan seseorang karena apa yang dia baca. Nah, termasuk Sumardianta. Dia mengaku sebagai seorang yang mengawali menulis dengan resensi. Tulisan pertama dia yang dimuat media massa adalah resensi buku kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari, Senyum Karyamin. Saya juga seorang pelahap karya Ahmad Tohari. Saya jadi merasa seperguruan dengan J. Sumardianta. Meskipun itu hanya angan-angan, tapi itu penting untuk membuat semacam semangat dalam membaca buku. J. Sumardianta juga demikian tentang buku-buku yang dia baca.

Pada bagian itu, Sumardianta bercerita tentang bagaimana membaca buku mampu mengatasi penderitaannya sebagai anak orang miskin. Sumardianta terlahir sebagai anak pertama dari 6 bersaudara. Ibunya seorang pedagang sayur keliling, sedangkan ayahnya hanya pegawai negeri golongan rendah. Sepanjang tahun 1987-1989, ia seolah merasakan siksa kubur. Sebab penghasilan kedua orangtuanya jangankan - untuk membiayai kuliahnya dan SPP sekolah kelima adiknya , untuk makan sehari-hari saja nyaris tak pernah cukup. Untuk mengusir rasa frustasi tersebut, dia menjaldi pelahap buku di sebuah perpustakaan yang punya kolksi buku luar biasa banyak. Yakni, di Perpustakaan Kolese Santo Ignatius (Kolsani). Tepatnya di dekat gereja Kota Baru, Yogyakarta. Di tempat itulah dia menjadi mesin pelahap buku yang hebat.

Terakhir, saya ingin menutup catatan pendek ini dengan yang menjadi inti dari buku ini, sebagaimana yang dipaparkan si penulis di pengantarnya. Bahwa menjadi guru di era ini adalah menjadi guru bagi generasi alay, anak layangan. Anak-anak yang meliuk-liuk di udara, terhempas oleh angin yang tak tentu arah, yang kadang harus putus talinya. Seorang guru harus bisa menjadi guru bagi generasi gadget yang membuat mental pemakaianya seperti speedboat namun dengan kendali yang kadang rapuh. Guru harus mampu mengikuti gerak cepat muridnya. Ringkasnya, kalau murid itu unyu, maka guru harus gokil.

 

  • *Penulis adalah pengelola Bimbel PRESTASI Bojonegoro dan Coffe Book
Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Global Geoparks Network Association Kunjungi Sejumlah Geosite di Bojonegoro

Berita Video

Global Geoparks Network Association Kunjungi Sejumlah Geosite di Bojonegoro

Bojonegoro - Tim dari Global Geoparks Network (GGN) Association, selaku assessor UNESCO Global Geoparks (UGGp), laksanakan kunjungan atau verifikasi lapangan ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka ?

Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka ?

Surabaya - Ketegangan perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat dan China kembali memanas pada tahun 2025. Situasi ini seperti ...

Quote

Bagaimana Ucapan Idulfitri yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah

Bagaimana Ucapan Idulfitri yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah

Saat datangnya Hari Raya Idulfitri, sering kita liha atau dengar ucapan: "Mohon Maaf Lahir dan Batin, seolah-olah saat IdulfFitri hanya ...

Sosok

Pratikno, di Mata Mantan Bupati Bojonegoro, Kang Yoto

Sosok

Pratikno, di Mata Mantan Bupati Bojonegoro, Kang Yoto

Bojonegoro - Salah satu putra terbaik asal Bojonegoro, Prof Dr Pratikno MSoc Sc, pada Minggu malam (20/10/2024) kembali dipilih menjadi ...

Eksis

Latihan Serius Berujung Manis, Nyafica Juarai Lomba Bertutur tentang Nilai Hidup Orang Samin

Latihan Serius Berujung Manis, Nyafica Juarai Lomba Bertutur tentang Nilai Hidup Orang Samin

Bojonegoro - Pemkab Bojonegoro menggelar Lomba Bertutur tingkat Kabupaten. Lomba ini berakhir pada Jumat (31/10/2025) kemarin. Sepuluh finalis bersaing memperebutkan ...

Infotorial

Wujudkan Komitmen Berkelanjutan, PEPC JTB Hijaukan Bojonegoro Melalui Aksi Nyata Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia

Wujudkan Komitmen Berkelanjutan, PEPC JTB Hijaukan Bojonegoro Melalui Aksi Nyata Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia

Bojonegoro Memperingati hari menanam pohon indonesia 2025, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) menegaskan komitmennya dalam menjaga ...

Berita Foto

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Berikut ini Rangkaian Acara Peringatan Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 Tahun 2025

Hari Jadi Bojonegoro Ke-348

Berikut ini Rangkaian Acara Peringatan Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 Tahun 2025

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, telah mengagendakan sejumlah acara untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-348 yang jatuh ...

Hiburan

Kisah di Balik Layar Agak Laen 2, Naskah Sempat Hilang Jelang Deadline

Kisah di Balik Layar Agak Laen 2, Naskah Sempat Hilang Jelang Deadline

Film Indonesia fenomenal Agak Laen: Menyala Pantiku! berhasil menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa. Di hari ke 58 penayangan, ...

1769946899.4502 at start, 1769946899.6487 at end, 0.19854998588562 sec elapsed