Sejarah Sarapan, dari Larangan Agama hingga Menjadi Tradisi Makan Paling Penting
Rabu, 21 Januari 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bagi masyarakat modern, sarapan dianggap sebagai waktu makan paling penting untuk memulai aktivitas sehari-hari. Namun, menilik kembali catatan sejarah, tradisi makan di pagi hari ternyata memiliki perjalanan yang sangat kontras dengan anggapan saat ini. Berdasarkan catatan sejarah panjang, sarapan pernah dianggap sebagai perilaku yang tidak lazim, bahkan sempat dipandang sebagai sebuah dosa pada masa abad pertengahan.
Pada zaman kuno, pola makan manusia jauh berbeda dengan pola tiga kali sehari seperti sekarang. Masyarakat Romawi kuno, misalnya, sangat jarang menyantap sarapan. Mereka lebih fokus pada satu waktu makan utama di siang hari karena percaya bahwa makan lebih dari satu kali dalam sehari dianggap tidak sehat dan merupakan bentuk kerakusan. Bagi mereka, menjaga pencernaan dengan satu kali makan besar adalah standar gaya hidup yang ideal.
Memasuki abad pertengahan, pandangan terhadap sarapan menjadi lebih ketat karena pengaruh kuat ajaran agama di Eropa. Thomas Aquinas, seorang teolog ternama pada abad ke-13, pernah menyatakan bahwa makan terlalu pagi dianggap sebagai sebuah dosa ringan. Hal ini dikaitkan dengan perilaku tidak disiplin dan kurangnya penguasaan diri. Sarapan hanya diperbolehkan secara terbatas bagi kelompok tertentu, seperti anak-anak, orang lanjut usia, atau para pekerja kasar yang membutuhkan energi fisik besar sejak fajar menyingsing.
Perubahan paradigma mengenai sarapan mulai terjadi seiring dengan datangnya Revolusi Industri di abad ke-19. Saat pabrik-pabrik mulai bermunculan, jam kerja buruh menjadi lebih teratur dan menuntut ketahanan fisik yang stabil sejak pagi hingga sore hari. Kondisi ini memaksa para pekerja untuk mengisi perut sebelum berangkat ke pabrik agar tetap produktif. Di era inilah sarapan mulai diterima secara luas oleh masyarakat sebagai kebutuhan fisiologis yang rasional bagi semua kalangan.
Perkembangan sarapan semakin masif pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 berkat pengaruh industri makanan. Di Amerika Serikat, tokoh seperti John Harvey Kellogg mulai memperkenalkan sereal sebagai alternatif sarapan yang praktis dan sehat. Strategi pemasaran yang gencar di masa itu perlahan mengubah pola pikir dunia, hingga akhirnya muncul slogan populer yang menyebut sarapan sebagai waktu makan terpenting dalam sehari.
Kini, sarapan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup global dengan berbagai variasi menu di tiap negara. Dari yang semula dianggap sebagai bentuk pelanggaran disiplin dan dosa, sarapan telah berevolusi menjadi kebutuhan pokok yang didukung oleh berbagai riset kesehatan modern. Sejarah ini membuktikan bahwa budaya makan manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan kepercayaan yang berkembang pada zamannya.(red/toh)















.sm.jpg)














.md.jpg)






