Angka Pengangguran Jawa Timur Menyusut hingga 3,55 Persen
Sabtu, 23 Mei 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur — Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka di wilayah setempat per Februari 2026 mengalami penurunan hingga menyentuh angka 3,55 persen. Capaian positif tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,06 persen poin jika dibandingkan dengan periode Februari 2025, sekaligus berada jauh di bawah rata-rata nasional yang berada pada level 4,68 persen.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan bahwa penurunan angka pengangguran yang konsisten dalam lima tahun terakhir ini menjadi indikator kuat bagi pulihnya aktivitas ekonomi sekaligus meningkatnya daya serap pasar kerja di Bumi Majapahit. Peningkatan ini juga selaras dengan penguatan sektor pendidikan vokasi yang berhasil menekan angka pengangguran di tingkat lulusan SMK menjadi 5,73 persen.
“Alhamdulillah, pengangguran di Jawa Timur semakin terkendali. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus bergerak positif dan mampu menyerap tenaga kerja secara lebih luas,” ujar Khofifah di Surabaya, Sabtu, 23 Mei 2026.
Selain serapan di dalam negeri, Pemprov Jatim juga terus melakukan intervensi strategis lewat program link and match serta pembukaan akses magang kerja ke luar negeri bagi ribuan lulusan SMK dan Lembaga Kursus dan Pelatihan. Di sisi lain, potret ketenagakerjaan Jatim mencatat peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menjadi 74,78 persen dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang masih menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja.
“Ini menunjukkan lulusan SMK dan LKP Jawa Timur semakin kompetitif dan mendapat kepercayaan di pasar kerja internasional,” tegasnya.
Kendati menunjukkan tren yang menggembirakan, struktur pasar kerja di Jawa Timur dinilai masih menghadapi tantangan besar karena didominasi oleh pekerja di sektor informal yang mencapai 64,44 persen, sementara pekerja formal baru berada di angka 35,56 persen. Menanggapi hal tersebut, pemerintah daerah berkomitmen untuk memacu pengembangan industri padat karya modern, penguatan UMKM, serta transformasi ketenagakerjaan yang menyeluruh.
“Persentase pekerja formal di Jawa Timur saat ini baru mencapai 35,56 persen, sedangkan pekerja informal masih mendominasi sebesar 64,44 persen. Ini menjadi tantangan kita bersama untuk mendorong transformasi menuju pekerjaan yang lebih formal, produktif, dan berkelanjutan,” tegasnya.
“Transformasi ketenagakerjaan harus dilakukan secara komprehensif. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan kualitas, perlindungan, dan keberlanjutannya,” imbuh Khofifah.
Langkah strategis ke depan akan difokuskan pada penguatan sinergi antar-pemangku kepentingan demi menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif serta bermutu tinggi guna menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.






































