Kenali Pemicu dan Tahapan Stadium Kanker Usus Besar sejak Dini
Minggu, 24 Mei 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Penyakit kanker usus besar atau kolorektal kini tidak lagi identik sebagai gangguan kesehatan yang hanya menyerang kelompok lanjut usia. Kasus medis menunjukkan adanya pergeseran tren di mana keganasan yang tumbuh pada jaringan dalam usus besar serta rektum ini mulai ditemukan pada pasien produktif di bawah usia 40 tahun, bahkan merambah remaja pada rentang usia 20-an. Penyakit ini umumnya diakibatkan oleh perkembangan polip atau benjolan kecil secara lambat, yang memakan waktu hingga satu dekade bagi sel prakanker untuk bermutasi penuh menjadi kanker aktif yang memicu gejala klinis.
Merujuk pada data medis Cleveland Clinic, proses terjadinya keganasan ini dipicu oleh mutasi genetik yang merusak sel-sel sehat di area pencernaan. Sel abnormal tersebut kemudian tumbuh secara agresif, menembus dinding otot serta jaringan pelapis usus, hingga akhirnya menyebar luas ke organ tubuh luar lainnya. Faktor risiko eksternal dan internal memegang peranan krusial dalam mempercepat kerusakan sel tersebut pada tubuh pasien.
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Sulpiana, MBiomed, memaparkan bahwa ancaman kolorektal ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor keturunan dan kebiasaan hidup harian yang kurang ideal. Risiko dari faktor genetika akan meningkat signifikan apabila seseorang memiliki garis keturunan atau riwayat keluarga yang pernah mengidap jenis kanker serupa. Di sisi lain, penurunan kualitas gaya hidup masyarakat modern turut andil menjadi pemicu utama keganasan pencernaan pada generasi baru.
"Hal itu yang berkontribusi signifikan dalam meningkatkan risiko kanker kolorektal pada usia muda," ujar dia dalam keterangan tertulis.
Secara klinis, tubuh akan mengirimkan beberapa sinyal peringatan berupa rasa sakit pada abdomen, perut kembung, hingga munculnya bercak darah pada feses. Pasien juga kerap mengalami perubahan warna serta bentuk kotoran yang cenderung mengecil atau menyempit, masalah sembelit berkepanjangan, hingga munculnya sensasi belum tuntas setelah buang air besar. Gejala fisik luar yang menyertai kondisi ini biasanya meliputi rasa lelah ekstrem tanpa alasan yang jelas serta penurunan berat badan secara drastis.
Dalam dunia medis, tingkat keparahan penyakit ini diklasifikasikan ke dalam empat tingkatan stadium utama. Pada stadium pertama, massa sel kanker baru menginvasi area dinding bagian dalam usus dan belum menyentuh kelenjar getah bening sekitarnya. Memasuki stadium kedua, tingkat keparahan dibagi menjadi tiga bagian yakni fase dua A saat sel menyerang sebagian besar dinding, fase dua B saat kanker menembus total dinding luar, serta fase dua C ketika penyebaran mulai menyentuh area organ terdekat.
Kondisi akan semakin kompleks ketika memasuki stadium ketiga, di mana sel kanker secara masif mulai menginfeksi jaringan getah bening. Tingkatan ini kembali dikelompokkan menjadi tiga sub-stadium, mulai dari fase tiga A yang menyerang satu hingga empat kelenjar di lapisan awal, fase tiga B yang merusak lebih banyak lapisan dinding usus, hingga fase tiga C yang telah mengamankan cengkeraman kanker pada organ sekitar beserta jaringan getah bening. Sementara itu, stadium keempat menandakan fase akhir di mana sel kanker telah bermetastasis jauh menuju organ vital lain seperti paru-paru, hati, ovarium, hingga merusak seluruh jaringan perut.
Oleh karena itu, deteksi dini dan perubahan pola konsumsi menjadi langkah preventif yang paling disarankan oleh para ahli medis guna menekan angka kasus kolorektal pada usia muda.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Mohamad Tohir
Publisher: Mohamad Tohir





































