News Ticker
  • Sehari Naik 2 Kali, Harga Emas Antam Tembus Rp 3.003.000 per Gram, Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
  • Dengan Spirit Kayangan Api, Bupati Setyo Wahono Lantik 201 Pejabat Pemkab Bojonegoro dengan Filosofi Obor Sewu
  • Kandungan Nutrisi pada Ikan Sapu-sapu dan Ikan Kembung, Mana yang Lebih Tinggi
  • Menelusuri Jejak Tembakau di Nusantara, dari Tradisi Klobot hingga Era Industrialisasi
  • Dukung Infrastruktur Pertanian, Pemkab Bojonegoro Siap Bangun 163 Titik JUT Tahun 2026
  • Rayakan Harlah Satu Abad, RS dan Klinik NU Se-Jawa Timur Gelar Pengobatan Gratis di 100 Titik
  • Harga Emas Antam Naik jadi Rp 2.968.000 per Gram, Kembali Pecahkan Rekor Tertinggi
  • 28 Januari dalam Sejarah
  • Pemkab Bojonegoro Terima Penghargaan Kategori Madya di UHC Awards 2026
  • FKH Unair Dampingi Desa Palembon, Bojonegoro sebagai Desa Binaan Ternak Bebek
  • Meski Gaji UMR dan Rupiah Melemah, Anda Tetap Bisa Punya Rumah
  • Misteri Umur Manusia di Masa Kuno, Fakta Sejarah atau Sekadar Simbolisme?
  • Latsar CPNS Pemkab Bojonegoro 2026 Resmi Dibuka: Fokus Tingkatkan Integritas dan Sinergi Pelayanan Publik
  • Gubernur Khofifah Dorong Sekolah Jadi Laboratorium Ketahanan Pangan: Program SIKAP Raih Dua Rekor MURI
  • Longsor Bantaran Sungai Bengawan Solo, Tujuh Rumah Warga Sarirejo Rawan Ambruk
  • 27 Januari Dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Kabupaten Bojonegoro, Selasa, 27 Januari 2026
  • Menteri Purbaya Bakal Rombak Susunan Pejabat Dirjen Pajak dan Bea Cukai
  • Pemkab Bojonegoro Pastikan Perbaikan Pelindung Tebing Rusak di Baureno Ikuti Prosedur, Biaya Ditanggung Kontraktor
  • Kolaborasi Literasi di CFD Bojonegoro Hadirkan Ruang Baca Nyaman dan Menyenangkan untuk Anak-Anak
  • Ini Jadwal dan Besaran THR PNS, TNI, dan Polri Tahun 2026
  • Bus Rajawali Indah Tabrak Truk di Baureno, Bojonegoro, Kenek Bus Luka Ringan
  • Harga Emas Antam Naik Rp 30.000, Kembali Pecahkan Rekor Tertinggi di 2.917.000 per Gram
  • Lima Prioritas Pemkab Bojonegoro Tahun 2027
Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer

Resensi buku

Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer

Oleh Muhammad Roqib

Seorang teman yang baik hati, Andhika Rakhmanda, mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengirimi saya dua buku menarik yang berkisah tentang potensi kelautan kita yang luar biasa. Buku pertama novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Buku kedua kumpulan pemikiran perikanan dan kelautan berjudul Menjala Kesejahteraan karya Andhika Rakhmanda dan kawan-kawan. Kalau buku pertama cerita fiksi tetapi berlatar belakang sejarah kejayaan maritim nusantara. Nah, buku kedua nonfiksi yang berisi gagasan dan pemikiran mahasiswa Perikanan UGM mengenai betapa kayanya sumber kelautan dan perikanan Nusantara. Benar adanya orang bilang nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Negeri kita adalah negeri bahari dengan jajaran pulau-pulau yang memesona.

Baiklah, saya akan mengutip tulisan di buku Menjala Kesejahteraan itu. Indonesia mempunyai 17.508 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Weh sampai Pulau Rote. Hanya 2.000 pulau itu yang berpenghuni dan 1.000 lebih pulau yang belum diberi nama. Garis pantai Indonesia terpanjang di dunia kedua setelah Kanada yakni 80.791 kilometer. Maka tidak heran jauh sebelum Indonesia merdeka, tokoh pergerakan Tan Malaka pernah berucap,”Kalau suatu bangsa seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan,”. Kata-kata itu diungkapkan Tan Malaka di buku Madilog.

Namun sebagaimana kita tahu potensi dan kekayaan laut Indonesia itu tidak terurus. Kehidupan nelayan di pesisir pantai miskin dan tertinggal. Sudah terlalu lama pula bangsa ini memunggungi laut, mengabaikan kekayaan bahari. Sekian tahun kekayaan perikanan kita dicuri oleh nelayan asing. Baru beberapa tahun terakhir ini pemerintah mau menengok laut, sadar kalau kekayaan lautnya dikuras oleh bangsa lain. Tidak heran pula kalau belakangan ini menteri perikanan suka meledakkan kapal-kapal nelayan asing yang tertangkap. Tujuannya ya supaya nelayan asing jera tidak mencuri ikan di perairan Indonesia.

Nah, saya tidak akan bercerita panjang lebar soal kekayaan laut Indonesia itu karena saya bukan mahasiswa perikanan. Saya ingin bercerita tentang buku novel Arus Balik karangan Pramoedya Ananta Toer. Buku setebal 760 halaman itu berkisah tentang sejarah Nusantara setelah kejatuhan kerajaan Majapahit sekitar tahun 1478 masehi (abad keenambelas). Setelah Majapahit runtuh di nusantara muncul raja-raja kecil dengan kekuasan dan wilayahnya sendiri-sendiri di pesisir pantai. Mereka mempunyai bandar dan pelabuhan sebagai tempat berdagang rempah-rempah antar pulau. Bandar yang kuat di Jawa di antaranya bandar Tuban, bandar Jepara, bandar Lao Sam (Lasem sekarang), bandar Gresik, bandar Demak, dan bandar Blambangan. Bandar di luar Pulau Jawa yang kuat di antaranya bandar Malaka, bandar Semenanjung, bandar Aceh, bandar Bugis, dan bandar Maluku.

Setelah Majapahit runtuh tidak ada lagi kapal-kapal besar dari negeri selatan yang singgah ke negeri Atas Angin (utara). Semasa Majapahit, nusantara merupakan kesatuan maritime dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari selatan ke utara. Mulai kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya, dan cita-citanya. Tetapi zaman berubah, arus berbalik. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan nusantara. Perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya.

Tokoh dalam novel Arus Balik itu adalah Galeng dan Idayu. Galeng adalah juara gulat dari Desa Awis Krambil. Sedangkan, Idayu adalah penari tenar dari Desa Awis Krambil. Desa ini berada di wilayah Tuban. Saat itu Tuban berada di bawah kekuasan Adipati Arya Tumenggung Wilwatikta. Ia seorang penguasa bekas kerajaan Majapahit.

Saat itu perdagangan rempah-rempah di bandar Tuban sangat ramai. Bandar Tuban merupakan bandar mandiri. Para pedagang dari negeri Atas Angin selalu singgah di bandar Tuban sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Malaka atau ke Maluku. Kekayaan Tuban cukup melimpah. Sang Adipati Tuban berpikir pragmatis. Ia tidak suka perang, ia lebih suka memilih berdagang. Namun, untuk pertahanan Tuban saat itu dikenal mempunyai pasukan gajah yang disegani. Raja di Jawa berpikir dua kali bila ingin menyerbu atau menguasai Tuban.

Namun saat itu perdagangan juga membawa pengaruh ajaran baru yakni Islam. Di Jawa saat itu telah pula ada penganut Hindu, Budha, Shiwa dan lainnya. Adipati Tuban sendiri penganut ajaran lama tetapi ia menerima pengaruh ajaran baru tersebut. Pertemuan budaya di bandar Tuban berlangsung damai.

Galeng dan Idayu, sepasang kekasih dari Desa Awis Krambil sebenarnya hanya ingin jadi petani biasa. Mempunyai ladang bercocok tanam dan mempunyai keturunan. Tetapi, karena dianggap melakukan kesalahan, Galeng dan Idayu dipaksa mengikuti perlombaan di Tuban. Galeng harus mengikuti lomba gulat dan Idayu mengikuti lomba tari. Perlombaan yang disambut riuh oleh warga Tuban itu digelar beberapa hari. Galeng tidak ada yang mampu menandingi, ia menjuarai gulat. Begitu pula Idayu tak ada yang menandingi kemolekan dan kelenturannya dalam menari. Idayu pun digelari sebagai kamaratih Tuban, yakni pujaan Tuban. Namun, sesuai tradisi saat itu, juara tari akan diselir oleh Adipati Tuban yang berkuasa.

Usai lomba, Idayu menolak dijadikan selir Adipati Tuban. Di hadapan umum, ia mengatakan ingin menjadi istri dari Galeng, sang juara gulat. Mendengar itu, Adipati Tuban murka. Namun, warga mengelu-elukan Idayu dan Galeng. Akhirnya, Adipati Tuban memendam amarahnya dan merestui keduanya menikah. Mengetahui kemampuan gulat Galeng, Adipati Tuban menunjuk sang juara gulat itu sebagai penjaga keamanan di bandar Tuban. Ia pun lalu dijuluki Wira Galeng, tetapi karena sulit mengucapkan orang akhirnya menyebutnya Wiranggaleng.

Wiranggaleng, pemuda desa Awis Krambil, pun memulai pengalaman barunya. Wiranggaleng mengabdi pada Syahbandar Tuban Rangga Iskak, keturunan Arab. Ia pandai berbahasa melayu dan Arab. Idayu dan Wiranggaleng tinggal di kesyahbandaran Tuban.

Namun saat itu bandar-bandar di Jawa dan Nusantara khawatir dengan datangnya kapal-kapal Peranggi (Portugis) dan Ispanya (Spanyol). Kerajaan Goa telah ditaklukan dan dikuasai Peranggi. Kapal Peranggi dipersenjatai meriam mampu meluluhlantakkan kapal dan bandar. Pasukan Peranggi yang terlatih juga dipersenjatai musket, senapan mesiu, yang membuat pribumi merinding mendengarnya saja.

Tetapi, Adipati Tuban, tidak ingin berperang, ia lebih suka berdagang dan mengumpulkan kekayaan. Saat itu, kerajaan Islam di Jawa yakni kerajaan Demak terus berkembang besar. Rajanya yakni Raden Patah. Tahun 1513, kerajaan Demak memimpin penyerbuan ke Malaka yang dikuasai oleh Peranggi. Penyerbuan itu dipimpin oleh Adipati Unus, dikenal juga sebagai pangeran Sabrang Lor. Ia anak Raden Patah. Kerajaan Demak meminta bantuan kapal perang dan tentara Tuban. Tetapi, Adipati Tuban saat itu sebenarnya enggan ikut pertempuran. Karena tidak ingin berurusan perang dengan Demak, akhirnya Adipati Tuban mengirim beberapa kapal perang ke Malaka yang dipimpin Raden Kusnan, salah satu anaknya, dan Wiranggaleng.

Pasukan gabungan Aceh, Demak, Jepara, Bugis, Banten menyerbu Malaka. Kapal-kapal pasukan gabungan itu dipersenjatai dengan cetbang, senjata seperti basoka dengan mesiu peninggalan kerajaan Majapahit. Cetbang itu dibikin oleh orang-orang dari Blambangan, pecahan Majapahit. Tentara pasukan gabungan itu membawa tombak, pedang, dan panah. Mereka menghadapi kapal-kapal Portugis yang kala itu dikenal sebagai lelananging jagad. Kapal Portugis dilengkapi meriam yang mempunyai daya ledak hebat dan mampu menjangkau jarak yang jauh.

Semula pasukan gabungan Demak-Jepara yang dipimpin Unus mampu menguasai bandar Malaka. Bandar direbut dan para prajurit bersukacita merayakan kemenangan. Tetapi, tiba-tiba kapal-kapal Portugis menyerbu, menembaki dengan meriam yang membuat kapal-kapal pasukan gabungan pecah, porak-poranda, dan rusak. Kapal-kapal pasukan gabungan tenggelam di laut. Ribuan prajurit terbunuh. Adipati Unus yang memimpin pasukan luka parah terkena pecahan meriam. Kalah, akhirnya Adipati Unus memerintahkan kapal dan pasukannya yang tersisa mundur dan kembali ke Jawa.

Wiranggaleng ikut dalam perang besar melawan kapal-kapal Portugis itu. Ia juga ikut mundur dan sempat ke Demak sebelum akhirnya pulang ke Tuban dengan hanya beberapa prajurit. Adipati Unus memang kalah, tetapi orang-orang saat itu menyebutnya pahlawan dan pemberani karena sudah berani melawan Portugis, sang lelananging jagad.

Setelah peperangan itu, kondisi Adipati Unus semakin lemah. Ia akhirnya mangkat dan penguasa Demak digantikan oleh Trenggono, adiknya. Namun, Sultan Trenggono tidaklah seperti Unus. Trenggono lebih suka ingin menaklukan dan menguasai bandar-bandar di Jawa ketimbang mengusir Portugis. Pasukan kuda kerajaan Demak saat itu cukup disegani.

Adipati Tuban masih suka bersenang-senang di harem. Untuk urusan kesyahbandaran ia serahkan sepenuhnya pada Rangga Iskak. Namun, ia kemudian menginginkan seorang syahbandar yang mampu menguasai bahasa Portugis. Tujuannya, ia ingin berhubungan dagang dengan Portugis, bukan berperang. Adipati Tuban lalu memilih syahbandar baru bernama Sayid Habibullah Almasawa, seorang keturunan Moro. Disebut juga Ulasawa. Kemudian, Rangga Iskak dipecat tanpa alasan jelas.

Merasa disingkirkan, Rangga Iskak lalu memilih menghimpun kekuatan di pedalaman Tuban. Ia kemudian memberontak pada Adipati Tuban. Namun, pemberontakan itu dapat dilumpuhkan oleh Wiranggaleng bersama pasukan gajahnya.

Kerajaan Demak terus berkembang dan menguasai bandar-bandar lain di Jawa. Bandar Sunda Kelapa berhasil ditaklukan dan dikuasai Demak. Penyerbuan ke bandar Sunda Kelapa itu dipimpin oleh Fathillah. Selanjutnya Banten dan Pajajaran juga berhasil dikuasai Demak. Portugis terusir dari bandar Sunda Kelapa itu. Setiap kali Portugis kalah di satu bandar, mereka tidak akan datang lagi ke tempat itu.

Terusir dari Sunda Kelapa, kapal-kapal Portugis membutuhkan bandar baru untuk berlabuh. Mereka akhirnya menyerang bandar Tuban yang kondisinya sudah lemah. Penyerbuan dan penaklukan bandar Tuban oleh pasukan Portugis berhasil dengan mudah. Adipati Tuban yang sudah tua dan tanpa daya itu sudah meninggal saat terjadi penyerbuan oleh Portugis.

Kepala pasukan Tuban, Kala Cuwil, Banteng Wareng melarikan diri ke pedalaman dan menghimpun kekuatan. Saat itu Wiranggaleng memimpin ekspedisi ke Semenanjung. Namun, ekspedisi Wiranggaleng itu gagal. Para prajuritnya berubah menjadi petani menggarap ladang dan memilih tinggal di Semenanjung. Wiranggaleng dengan sisa pasukan memilih kembali ke Tuban. Namun, Tuban sudah dikuasai oleh Peranggi.

Wiranggaleng, Kala Cuwil, Banteng Wareng menyusun strategi penyerbuan ke Tuban yang dikuasai Peranggi. Wiranggaleng memilih penyerangan serentak malam hari. Untuk penyerangan itu, ia memerintahkan pasukannya mengambil minyak mentah dari pegunungan Kendeng di daerah Bojonegoro (sekarang sumur tua Kedewan). Minyak-minyak itu ditaruh di gendi-gendi lalu dibawa oleh pasukan menyerbu ke benteng yang dibangun Portugis di Tuban. Pertempuran dahsyat yang berlangsung malam hari itu berhasil mengusir Portugis dari Tuban. Pasukan Portugis yang selamat berlayar ke timur ke Blambangan, Maluku dan lainnya.

Setelah pertempuran itu, Wiranggaleng memilih berhenti dari tentara. Kekuasaan Tuban ia serahkan pada Kala Cuwil dan Banteng Wareng. Ia memilih kembali ke Desa Awis Krambil. Hidup menjadi petani ditemani istrinya, Idayu, dan anaknya, Kumbang. Anak sulungnya, Gelar, ikut bergabung dengan pasukan Tuban.

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Berita Video

Global Geoparks Network Association Kunjungi Sejumlah Geosite di Bojonegoro

Berita Video

Global Geoparks Network Association Kunjungi Sejumlah Geosite di Bojonegoro

Bojonegoro - Tim dari Global Geoparks Network (GGN) Association, selaku assessor UNESCO Global Geoparks (UGGp), laksanakan kunjungan atau verifikasi lapangan ...

Teras

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

Menyoroti Konsep Penanggulangan Bencana di Bojonegoro

Memasukkan Pendidikan Mitigasi Bencana dalam Kurikulum Sekolah di Bojonegoro

"Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. ...

Opini

Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka ?

Trump Naikkan Tarif China: Perang Dagang Dimulai Lagi, Siapa yang Akan Paling Terluka ?

Surabaya - Ketegangan perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat dan China kembali memanas pada tahun 2025. Situasi ini seperti ...

Quote

Bagaimana Ucapan Idulfitri yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah

Bagaimana Ucapan Idulfitri yang Benar Sesuai Sunah Rasulullah

Saat datangnya Hari Raya Idulfitri, sering kita liha atau dengar ucapan: "Mohon Maaf Lahir dan Batin, seolah-olah saat IdulfFitri hanya ...

Sosok

Pratikno, di Mata Mantan Bupati Bojonegoro, Kang Yoto

Sosok

Pratikno, di Mata Mantan Bupati Bojonegoro, Kang Yoto

Bojonegoro - Salah satu putra terbaik asal Bojonegoro, Prof Dr Pratikno MSoc Sc, pada Minggu malam (20/10/2024) kembali dipilih menjadi ...

Eksis

Latihan Serius Berujung Manis, Nyafica Juarai Lomba Bertutur tentang Nilai Hidup Orang Samin

Latihan Serius Berujung Manis, Nyafica Juarai Lomba Bertutur tentang Nilai Hidup Orang Samin

Bojonegoro - Pemkab Bojonegoro menggelar Lomba Bertutur tingkat Kabupaten. Lomba ini berakhir pada Jumat (31/10/2025) kemarin. Sepuluh finalis bersaing memperebutkan ...

Infotorial

Wujudkan Komitmen Berkelanjutan, PEPC JTB Hijaukan Bojonegoro Melalui Aksi Nyata Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia

Wujudkan Komitmen Berkelanjutan, PEPC JTB Hijaukan Bojonegoro Melalui Aksi Nyata Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia

Bojonegoro Memperingati hari menanam pohon indonesia 2025, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) menegaskan komitmennya dalam menjaga ...

Berita Foto

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Berita Video

Bupati Resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, resmikan Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG) Bojonegoro, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, ...

Religi

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Pakaian Ihram saat Haji dan Umrah, antara Syariat dan Hakikat

Judul itu menjadi tema pembekalan sekaligus pengajian Rabu pagi (24/01/2024) di Masjid Nabawi al Munawaroh, Madinah, kepada jemaah umrah dari ...

Wisata

Berikut ini Rangkaian Acara Peringatan Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 Tahun 2025

Hari Jadi Bojonegoro Ke-348

Berikut ini Rangkaian Acara Peringatan Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 Tahun 2025

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, telah mengagendakan sejumlah acara untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-348 yang jatuh ...

Hiburan

Netflix Umumkan Secara Resmi Tayangan Baru Sepanjang Tahun 2026

Netflix Umumkan Secara Resmi Tayangan Baru Sepanjang Tahun 2026

Netflix kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap industri hiburan Indonesia dengan mengumumkan jajaran film dan serial original terbaru yang akan tayang ...

1769642422.0393 at start, 1769642422.2324 at end, 0.19313883781433 sec elapsed