News Ticker
  • Bupati Bojonegoro dan Bupati Blora Tinjau Lokasi Pembangunan Jembatan Penghubung
  • Pelajar di Bojonegoro Ikuti Edukasi Tosan Aji pada Gelaran Festival Pusaka Nusantara 2018
  • Usia Hujan Deras Disertai Angin, Aparat dan Warga di Blora Lakukan Kerja-bakti
  • Memperingati
  • YKIB Tampilkan Program Magang di Festival Banyu Urip 2018
  • Diduga Korupsi Alokasi Dana Desa, Kades Sukosewu Bojonegoro Ditahan Polisi
  • Ditabrak Motor, Seorang Pejalan Kaki di Malo Bojonegoro Luka Berat
  • Hujan Deras Disertai Angin dan Petir Landa Sejumlah Wilayah di Blora
  • Festival Pusaka Nusantara 2018 Digelar di Bojonegoro
  • Festival Banyu Urip Digelar Mulai Hari Ini
  • BPBD Bojonegoro Imbau Masyarakat Waspadai Potensi Banjir, Longsor, dan Angin Kencang
  • Berhasil Dorong UMKM, Pemkab Tuban Raih Penghargaan Natamukti
  • KUPP Brondong Gelar Sosialisasi Keselamatan dan Keamanan Pelayaran pada Nelayan
  • Kopi Biji Secang, Minuman Herbal Produk Pondok Pesantren
  • Kepemimpinan Perempuan Bojonegoro dalam Usaha Kecil dan Mikro
  • Job Fair Bojonegoro 2018 Diharapkan Tekan Angka Pengangguran
  • 3 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Kalitidu Bojonegoro
  • Seorang Perempuan Asal Kedungadem Bojonegoro Dilaporkan Hilang
  • Ribuan Guru TPQ Tuban Geruduk Pendapa Kridho Manunggal
Slilit Sang Kiai, Emha Ainun Nadjib

Slilit Sang Kiai, Emha Ainun Nadjib

*Oleh Muhammad Roqib

Dulu sewaktu masih bertugas meliput di Malang, pimpinan surat kabar tempat saya bekerja menugasi liputan di salah satu hotel ternama. Katanya dia ada pembicara yang layak dijadikan narasumber sebagai berita. Kebetulan pimpinan saya itu pengagum sang pembicara itu tetapi dia tidak bisa hadir karena ada acara penting lainnya yang harus dia ikuti. Seingatku saat itu bulan Puasa. Tema dialog yang digelar di hotel itu kalau tidak salah tentang konsep perbankan syariah. Nah itu dia pembicaranya ternyata Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Wah, saya senang sekali karena biasanya melihat Cak Nun di televisi, kini bisa bertemu langsung dan sekaligus bisa wawancara dengannya.

Cak Nun muncul dengan gaya khasnya yang santai. Ia memakai celana hitam, baju koko, dan memakai sandal jepit. Rambutnya seperti biasa agak panjang sebahu. Tetapi, ia tidak memakai peci. Gaya bicaranya tenang, kalem, dan setiap kata-katanya penuh makna mendalam. Ia berbicara tentang syariah Islam, konsep perbankan syariah, dan diselingi guyonan-guyonan khasnya. Saya dan mungkin para pegawai bank syariah yang mendengarkan cerita Cak Nun mendapatkan pemahaman baru dan sudut pandang baru. Selama satu jam Cak Nun berbicara seolah tidak terasa. Setelah mengutip beberapa pembicaraannya dan wawancara sebentar, saya langsung balik ke kantor dan mengetik beritanya.

Selalu ada kesan mendalam ketika bertemu dengan Cak Nun, sang kiai yang multitalenta itu. Ia seorang budayawan, penyair, esais, pegiat teater, pemusik, dan sering jadi penengah konflik di tengah masyarakat. Cak Nun juga menjadi motor penggerak di balik kelompok musik Kiai Kanjeng dan pengajian komunitas Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Suami Novia Kolopaking, artis pemeran Siti Nurbaya, itu minatnya cukup luas mencakup berbagai masalah hangat di bidang sosial, budaya, dan politik.

Dalam dunia menulis Cak Nun cukup produktif. Di antara karya emasnya yang cukup terkenal yaitu Dari Pojok Sejarah (1985), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), Markesot Bertutur (1993), Markesot Bertutur Lagi (1994), Slilit sang Kiai, dan Surat kepada Kanjeng Nabi.

Tulisan-tulisannya sangat kritis, ide-idenya segar, dan terkadang mengejutkan. Ia menyibak berbagai persoalan di tengah masyarakat dengan sudut pandang yang sangat berbeda, tidak biasa tetapi masih dalam konteks relijius.

Karya emasnya banyak lahir pada masa kekuasaan Orde Baru yang cenderung otoriter. Tetapi dengan gaya dan pendekatan kebudayaan yang dilakukannya Cak Nun bisa menulis dengan sangat kritis dan spontan. Dulu Pak Harto kabarnya tidak bisa berbuat apa-apa kalau dikritik atau ditegur Cak Nun. Dengan rambut gondrong, Cak Nun dengan seenaknya duduk jigrang di Istana. Tetapi, Pak Harto hanya tersenyum saja melihat tingkah Cak Nun. Pak Harto tahu Cak Nun berjuang dengan tulus dan tidak menginginkan jabatan, kedudukan, apalagi uang.

Di antara karya emasnya, saya menyukai bukunya yang berjudul Slilit sang Kiai. Buku itu merupakan kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun pada kisaran tahun 1980-an. Salah satu tulisannya yang kemudian dijadikan judul buku adalah Slilit sang Kiai. Ia bercerita suatu ketika sang Kiai telah meninggal dan memasuki alam kubur. Sang Kiai sebenarnya tinggal sedikit saja akan masuk surga. Namun, ada sedikit yang mengganjal sehingga ia tidak segera masuk surga. Masalahnya adalah semasa hidup sang Kiai usai mengikuti kenduren dan makan bersama ia pulang melalui jalan kampung. Namun, ada slilit yang nyangkut di giginya. Ia pun mengambil sepotong kayu dari pagar tetangganya tetapi ia tidak bilang terlebih dulu pada yang punya. Kelamaan kalau harus bilang dulu pikirnya. Tetapi ternyata perbuatan itulah yang kini mengganjalnya masuk surga karena itu dosa.

Para santri yang dulu diajari mengaji oleh sang Kiai bermimpi aneh. Sang Kiai menemui mereka dan meminta agar masalah mengambil potongan kayu di pagar tetangga itu diselesaikan. Sang Kiai meminta agar para santrinya mau meminta maafkan perbuatannya itu pada tetangganya itu. Cerita yang lucu tetapi pesannya dalam. Sekecil apapun dosa akan diperhitungkan kelak di akhirat.

Ada pula cerita kebiasaan orang Madura yang suka bilang dak tentu. Judul tulisannya makan-minum dan tentu. Setiap kali berbicara orang Madura itu selalu bilang dak tentu, maksudnya tidak tentu. Dak tentu itu maksudnya relatif, tidak pasti. Dalam pandangan orang Madura, tidak ada yang pasti dalam kehidupan ini. Kesadaran dak tentu ini membuat orang-orang Madura tidak terlalu mabuk gembira jika memperoleh rezeki, dan tidak stress serius kalau ditimpa kemalangan.

Ada juga tulisan tentang Gontor, Shaolin, dan Trimurti. Cak Nun bercerita, Pondok Gontor yang dikenal sebagai pondok modern itu berasal dari kata Nggon Kotor (tempat kotor, red). Iya dulu di kawasan sekitar pondok pesantren itu berdiri yaitu di pinggiran Kota Ponorogo maksiat merajalela, judi, mabuk-mabukan, dan hiburan malam. Nah kemudian tiga orang yang disebut Trimurti merintis pendirian pondok Gontor itu yaitu KH Sahal, KH Zaenudin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi. Ketiga orang kiai ini cukup brilian. Mereka mendirikan pondok pesantren dengan konsep 100 persen pelajaran Islam dan 100 persen pelajaran umum. Menurut pandangan mereka, Islam dan umum tidak karena materinya, tetapi karena perlakuan terhadap materi itu. Karena itu, seorang mikrobiolog adalah juga seorang ulul albab atau ulama selama dia meletakkan penghayatan dan pemfungsian ilmunya dalam kerangka tauhid. Pondok Gontor ini bukan pondok NU atau Muhammadiyah. Para santri digodok dalam suasana tumbuh menjadi perekat umat. Untuk tidak tawar menawar akidah, tetapi toleran dalam khilafiah hukum dan aliran. Santri tidak mencium tangan siapa pun, iklim budaya mereka egaliter dan universal. Penghormatan tidak pada atasan dalam konteks hierarki feodalisme tetapi pada kesalehan, ilmu, dan perjanjian fungsi.

Tulisan lainnya yang menarik berjudul Islam itu Islam. Cak Nun menyoroti tentang tulisan Salman Rushdie tentang Ayat-Ayat Setan. Ia memakai tokoh bernama Kiai Sudrun untuk menyampaikan pandangannya. Kiai Sudrun dalam dialog dengan seorang wartawan yang mewawancarainya mengatakan, akhir-akhir ini memang dunia makin tidak beriktikad baik terhadap Islam. Iklim ini juga menaburi kaum Muslim sendiri. Tetapi, kata Kiai Sudrun, itu tidak apa. Itu bukan urusan Islam. Islam itu tetap Islam. Tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silakan orang di seluruh bumi ini membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Tetapi hasilnya Islam ya tetap Islam. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan juga tak menjadi lebih rendah karena dibenci. La raiba fih, tak ada keraguan padanya. Islam tak rugi, Islam bebas dari untung rugi. Islam tak pernah tertawa karrena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tidak punya kepentingan terhadap manusia, tetapi manusialah yang berkepentingan terhadapnya.

Ada juga tulisan yang menggelitik dan segar judulnya paha itu, cahaya itu. Kali ini ia memakai nama tokoh Kiai Bodrin. Sang Kiai ini blak-blakan kalau ditanya soal hubungan laki-laki dan perempuan. Kiai Bodrin berucap dari paha wanita, katanya, memancar cahaya Alloh. Cuma harus dibedakan antara cahaya sebagai raga dengan cahaya jiwa. Cahaya jasmani dan cahaya ruhani. Namun, cahaya yang dijatahkan pada tubuh dan hakikat wanita hanya boleh dipancarkan melalui surat nikah. Kalau tanpa tarekat pernikahan, cahaya itu menjadi mudarat alias malapetaka.

Pornografis itu, kata Kiai Bodrin, ketika engkau melakukan kekeliruan dalam meramu antara syariat dan hakikatnya. Hakikat adalah realitas alam, syariah adalah realitas sosial. Alloh bikin kenyataan-kenyataan alam itu termasuk manusia di dalamnya sambil menyodorkan rangka aturan main bagaimana membangun kenyataan sosial. Paha wanita adalah realitas sosial. Kalau seorang suami mengelus-elus dan mengendus-endus paha istrinya di kamar pengantin sampai sesak napas, tidak terjadi peristiwa pornografis apa pun. Pornografi baru terjadi kalau engkau mengintip mereka, sebab syariat mengintipmu itu melanggar hakikat ketelanjangan kasih mereka.

Cak Nun juga menulis tentang kehidupan anak-anak muda yang beragama Islam dari Indonesia yang tinggal di Berlin, Jerman. Ia menulis dengan judul pesantren di ketiak Berlin. Ia menggambarkan bagaimana anak-anak muda yang beragama Islam di sana berusaha tetap menjaga imannya ketika dikepung oleh berbagai godaan kemaksiatan dan hiburan yang nonstop.

Cak Nun juga terpanggil hatinya ketika melihat kasus Kedungombo. Iya pembebasan lahan Waduk Kedungombo di Jawa Tengah itu pernah menjadi isu nasional yang hangat ketika itu. Para petani pemilik lahan tidak mau tanahnya dibebaskan dengan dalih pembangunan oleh penguasa Orde Baru ketika itu. Ia mengkritik cara-cara aparat pemerintah yang suka mendekati penyelesaian dengan kekuataan dan kekuasaan. Ia mendorong agar aparat dan masyarakat mau membuka diri, berdialog dari hati ke hati, dan berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang tenang dan damai.

Ia juga menulis soal kebiasaan penguasa Orde Baru yang suka mengucapkan kata daripada. Apa pun dan di mana pun tempatnya penguasa Orde Baru senang sekali memakai kata-kata daripada untuk menjelaskan sesuatu. Kata daripada itu terkadang dipakai tidak pada tempatnya sehingga merusak kaidah bahasa. Ironisnya, kata daripada juga mewabah dan dipakai oleh para pejabat di daerah dan desa-desa. Pemakaian kata daripada itu seolah sudah masuk ke dalam alam bawah sadar pemakainya. Kata daripada itu ungkapan dari kepatuhan, loyalitas yang berlebihan pada penguasa pada saat itu.

Sumber foto bukubekas.wordpress.com

 

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Teras

Kesultanan Melaka dan Konstitusi Malaysia

Kesultanan Melaka dan Konstitusi Malaysia

Oleh Muhammad Roqib Kuliah tamu bersama Dr Norazlina binti Abdul Azis dari Faculty Law UITM Malaysia di Pascasarjana Ilmu Hukum ...

Opini

Generasi Muda dalam Jeratan Kapitalisme Liberal

Opini

Generasi Muda dalam Jeratan Kapitalisme Liberal

*Oleh Rizki Amelia Kurnia Dewi SIKom PEMUDA adalah tonggak perubahan bangsa. Di pundak-pundak merekalah masa depan bangsa digantungkan. Pemuda sejatinya ...

Quote

Memperingati

Memperingati

Oleh Dr Hj Sri Minarti, M.Pd.I Memperingati dapat diartikan mengadakan suatu kegiatan untuk mengenang atau memulyakan suatu peristiwa, mencatat suatu ...

Sosok

Kopi Biji Secang, Minuman Herbal Produk Pondok Pesantren

Kopi Biji Secang, Minuman Herbal Produk Pondok Pesantren

Oleh Nova Andriyanto Bojonegoro - Kopi biji secang, adalah minuman ringan dari olahan biji secang. Leluhur dulu biasa menggunakan kayu ...

Eksis

Warga Kerek Tuban Raup Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Jamur Tiram

Warga Kerek Tuban Raup Puluhan Juta Rupiah dari Budidaya Jamur Tiram

Oleh Achmad Junaidi Tuban (Kerek) Salah satu warga Desa Tlogowaru Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban, Darmaun (39), sukses menjadi pembudidaya jamur ...

Religi

Hukum Nikah Sirri

Hukum Nikah Sirri

*Oleh Drs H Sholikin Jamik SH MHes. Istilah nikah sirri atau nikah yang dirahasiakan memang dikenal di kalangan para ulama, ...

Infotorial

Program Peningkatan Literasi Siswa

Program Peningkatan Literasi Siswa

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Universitas Bojonegoro (Unigoro) bekerjasama dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) gelar kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah ...

Berita Foto

Inilah Prosesi Kegiatan Menuju Grebeg Berkah Jonegaran, HJB ke 341

Berita Foto

Inilah Prosesi Kegiatan Menuju Grebeg Berkah Jonegaran, HJB ke 341

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 341 tahun 2018, telah dilaksanakan pada Jumat ...

Feature

Udek, Tradisi Unik Masyarakat Desa Turigede Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro

Udek, Tradisi Unik Masyarakat Desa Turigede Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro

Oleh Muliyanto Bojonegoro (Kepohbaru) - Lain ladang, lain belalang. lain lubuk, lain ikannya. barangkali ibarat pepatah itulah yang dilakukan masyarakat ...

Resensi

Alice in Cheongdam Dong 2

Alice in Cheongdam Dong 2

Oleh Delfariza Amaliya Penulis : Ahn Jae Kyung Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas Tahun : 2014 Penerbit : Qanita, PT ...

Pelesir

Bukit Kunci di Blora, Jadi Tempat Pemburu Sunrise

Bukit Kunci di Blora, Jadi Tempat Pemburu Sunrise

Oleh Priyo Spd Blora - Panorama indah matahari pagi (sunrise) dan pemandangan Gunung Lawu di pagi hari menjadikan salah suasana ...

Statistik

Hari ini

179 kunjungan

310 halaman dibuka

37 pengunjung online

Bulan ini

63.700 kunjungan

112.748 halaman dibuka

Tahun ini

1.193.300 kunjungan

2.098.626 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 640.776

Indonesia: 12.085

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015