News Ticker
  • Lifter Bojonegoro M Fauzan, Raih Medali Perak pada Kejurnas dan Pra-PON di Bandung
  • UPP Saber Pungli Kabupaten Bojonegoro, Gelar Sosialisasi di Dinas Perhubungan
  • Diduga Akibat Korsleting Listrik, Atap Rumah Milik Warga Gayam Bojonegoro Terbakar
  • Goes to School Polwan Polres Bojonegoro, Ajak Pelajar Lawan Narkoba dan Kenakalan Remaja
  • Rencana Kegiatan Masyarakat Bojonegoro 20 Agustus 2019
  • Pawai Budaya Tingkat Pelajar TK, SD dan SMP di Blora Berjalan Meriah
  • Sat Binmas Polres Bojonegoro Gelar Pembinaan dan Penyuluhan Melalui Police Goes to School
  • Kebakaran Hutan di Kedewan Bojonegoro Satu Rol Kabel Listrik Milik PLN Turut Terbakar
  • Lomba Hari Kemerdekaan di Rumah Belajar Kampung Ilmu Bojonegoro Berlangsung Seru
  • Binaragawan Bojonegoro Raih Medali Emas pada Kejurnas dan Pra-PON di Bandung
  • Rencana Kegiatan Masyarakat Bojonegoro 19 Agustus 2019
  • Kekeringan Masih Landa Sejumlah Wilayah di Bojonegoro, Polisi Beri Bantuan Air Bersih
  • Ngadoellah Warga Campurejo Bojonegoro ini Tekuni Pembibitan Kelengkeng Jenis Diamond River
  • Seorang Warga Bojonegoro Ditemukan Meninggal Dunia di Dalam Kamar Rumahnya
  • Resepsi HUT Kemerdekaan RI, Wakil Bupati Bojonegoro Serahkan Sejumlah Penghargaan
  • Rencana Kegiatan Masyarakat Bojonegoro 18 Agustus 2019
  • Khoirin dari Desa Bandungrejo, Pengibar Bendera Peringatan HUT RI di Lapangan Proyek Gas JTB
  • Ribuan Pekerja Proyek Gas JTB Ikuti Upacara Bendera HUT ke-74 Kemerdekaan RI
  • Upacara Peringatan HUT RI dan Kunduran Pitulasan Karnaval 2019 di Blora Berjalan Meriah
  • 239 Warga Binaan Lapas Bojonegoro Terima Remisi Peringatan HUT Kemerdekaan RI
  • Inilah Warga Masyarakat Bojonegoro Berprestasi, Penerima Penghargaan 2019
  • Anggota Polantas di Bojonegoro Tampil Kenakan Baju Ala Pejuang Kemerdekaan
  • Inilah Pengibar Bendera Dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Bojonegoro
  • Bupati Pimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Alun-Alun Bojonegoro
  • Rencana Kegiatan Masyarakat Bojonegoro 17 Agustus 2019

Slilit Sang Kiai, Emha Ainun Nadjib

*Oleh Muhammad Roqib

Dulu sewaktu masih bertugas meliput di Malang, pimpinan surat kabar tempat saya bekerja menugasi liputan di salah satu hotel ternama. Katanya dia ada pembicara yang layak dijadikan narasumber sebagai berita. Kebetulan pimpinan saya itu pengagum sang pembicara itu tetapi dia tidak bisa hadir karena ada acara penting lainnya yang harus dia ikuti. Seingatku saat itu bulan Puasa. Tema dialog yang digelar di hotel itu kalau tidak salah tentang konsep perbankan syariah. Nah itu dia pembicaranya ternyata Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Wah, saya senang sekali karena biasanya melihat Cak Nun di televisi, kini bisa bertemu langsung dan sekaligus bisa wawancara dengannya.

Cak Nun muncul dengan gaya khasnya yang santai. Ia memakai celana hitam, baju koko, dan memakai sandal jepit. Rambutnya seperti biasa agak panjang sebahu. Tetapi, ia tidak memakai peci. Gaya bicaranya tenang, kalem, dan setiap kata-katanya penuh makna mendalam. Ia berbicara tentang syariah Islam, konsep perbankan syariah, dan diselingi guyonan-guyonan khasnya. Saya dan mungkin para pegawai bank syariah yang mendengarkan cerita Cak Nun mendapatkan pemahaman baru dan sudut pandang baru. Selama satu jam Cak Nun berbicara seolah tidak terasa. Setelah mengutip beberapa pembicaraannya dan wawancara sebentar, saya langsung balik ke kantor dan mengetik beritanya.

Selalu ada kesan mendalam ketika bertemu dengan Cak Nun, sang kiai yang multitalenta itu. Ia seorang budayawan, penyair, esais, pegiat teater, pemusik, dan sering jadi penengah konflik di tengah masyarakat. Cak Nun juga menjadi motor penggerak di balik kelompok musik Kiai Kanjeng dan pengajian komunitas Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Suami Novia Kolopaking, artis pemeran Siti Nurbaya, itu minatnya cukup luas mencakup berbagai masalah hangat di bidang sosial, budaya, dan politik.

Dalam dunia menulis Cak Nun cukup produktif. Di antara karya emasnya yang cukup terkenal yaitu Dari Pojok Sejarah (1985), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), Markesot Bertutur (1993), Markesot Bertutur Lagi (1994), Slilit sang Kiai, dan Surat kepada Kanjeng Nabi.

Tulisan-tulisannya sangat kritis, ide-idenya segar, dan terkadang mengejutkan. Ia menyibak berbagai persoalan di tengah masyarakat dengan sudut pandang yang sangat berbeda, tidak biasa tetapi masih dalam konteks relijius.

Karya emasnya banyak lahir pada masa kekuasaan Orde Baru yang cenderung otoriter. Tetapi dengan gaya dan pendekatan kebudayaan yang dilakukannya Cak Nun bisa menulis dengan sangat kritis dan spontan. Dulu Pak Harto kabarnya tidak bisa berbuat apa-apa kalau dikritik atau ditegur Cak Nun. Dengan rambut gondrong, Cak Nun dengan seenaknya duduk jigrang di Istana. Tetapi, Pak Harto hanya tersenyum saja melihat tingkah Cak Nun. Pak Harto tahu Cak Nun berjuang dengan tulus dan tidak menginginkan jabatan, kedudukan, apalagi uang.

Di antara karya emasnya, saya menyukai bukunya yang berjudul Slilit sang Kiai. Buku itu merupakan kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun pada kisaran tahun 1980-an. Salah satu tulisannya yang kemudian dijadikan judul buku adalah Slilit sang Kiai. Ia bercerita suatu ketika sang Kiai telah meninggal dan memasuki alam kubur. Sang Kiai sebenarnya tinggal sedikit saja akan masuk surga. Namun, ada sedikit yang mengganjal sehingga ia tidak segera masuk surga. Masalahnya adalah semasa hidup sang Kiai usai mengikuti kenduren dan makan bersama ia pulang melalui jalan kampung. Namun, ada slilit yang nyangkut di giginya. Ia pun mengambil sepotong kayu dari pagar tetangganya tetapi ia tidak bilang terlebih dulu pada yang punya. Kelamaan kalau harus bilang dulu pikirnya. Tetapi ternyata perbuatan itulah yang kini mengganjalnya masuk surga karena itu dosa.

Para santri yang dulu diajari mengaji oleh sang Kiai bermimpi aneh. Sang Kiai menemui mereka dan meminta agar masalah mengambil potongan kayu di pagar tetangga itu diselesaikan. Sang Kiai meminta agar para santrinya mau meminta maafkan perbuatannya itu pada tetangganya itu. Cerita yang lucu tetapi pesannya dalam. Sekecil apapun dosa akan diperhitungkan kelak di akhirat.

Ada pula cerita kebiasaan orang Madura yang suka bilang dak tentu. Judul tulisannya makan-minum dan tentu. Setiap kali berbicara orang Madura itu selalu bilang dak tentu, maksudnya tidak tentu. Dak tentu itu maksudnya relatif, tidak pasti. Dalam pandangan orang Madura, tidak ada yang pasti dalam kehidupan ini. Kesadaran dak tentu ini membuat orang-orang Madura tidak terlalu mabuk gembira jika memperoleh rezeki, dan tidak stress serius kalau ditimpa kemalangan.

Ada juga tulisan tentang Gontor, Shaolin, dan Trimurti. Cak Nun bercerita, Pondok Gontor yang dikenal sebagai pondok modern itu berasal dari kata Nggon Kotor (tempat kotor, red). Iya dulu di kawasan sekitar pondok pesantren itu berdiri yaitu di pinggiran Kota Ponorogo maksiat merajalela, judi, mabuk-mabukan, dan hiburan malam. Nah kemudian tiga orang yang disebut Trimurti merintis pendirian pondok Gontor itu yaitu KH Sahal, KH Zaenudin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi. Ketiga orang kiai ini cukup brilian. Mereka mendirikan pondok pesantren dengan konsep 100 persen pelajaran Islam dan 100 persen pelajaran umum. Menurut pandangan mereka, Islam dan umum tidak karena materinya, tetapi karena perlakuan terhadap materi itu. Karena itu, seorang mikrobiolog adalah juga seorang ulul albab atau ulama selama dia meletakkan penghayatan dan pemfungsian ilmunya dalam kerangka tauhid. Pondok Gontor ini bukan pondok NU atau Muhammadiyah. Para santri digodok dalam suasana tumbuh menjadi perekat umat. Untuk tidak tawar menawar akidah, tetapi toleran dalam khilafiah hukum dan aliran. Santri tidak mencium tangan siapa pun, iklim budaya mereka egaliter dan universal. Penghormatan tidak pada atasan dalam konteks hierarki feodalisme tetapi pada kesalehan, ilmu, dan perjanjian fungsi.

Tulisan lainnya yang menarik berjudul Islam itu Islam. Cak Nun menyoroti tentang tulisan Salman Rushdie tentang Ayat-Ayat Setan. Ia memakai tokoh bernama Kiai Sudrun untuk menyampaikan pandangannya. Kiai Sudrun dalam dialog dengan seorang wartawan yang mewawancarainya mengatakan, akhir-akhir ini memang dunia makin tidak beriktikad baik terhadap Islam. Iklim ini juga menaburi kaum Muslim sendiri. Tetapi, kata Kiai Sudrun, itu tidak apa. Itu bukan urusan Islam. Islam itu tetap Islam. Tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silakan orang di seluruh bumi ini membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Tetapi hasilnya Islam ya tetap Islam. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan juga tak menjadi lebih rendah karena dibenci. La raiba fih, tak ada keraguan padanya. Islam tak rugi, Islam bebas dari untung rugi. Islam tak pernah tertawa karrena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tidak punya kepentingan terhadap manusia, tetapi manusialah yang berkepentingan terhadapnya.

Ada juga tulisan yang menggelitik dan segar judulnya paha itu, cahaya itu. Kali ini ia memakai nama tokoh Kiai Bodrin. Sang Kiai ini blak-blakan kalau ditanya soal hubungan laki-laki dan perempuan. Kiai Bodrin berucap dari paha wanita, katanya, memancar cahaya Alloh. Cuma harus dibedakan antara cahaya sebagai raga dengan cahaya jiwa. Cahaya jasmani dan cahaya ruhani. Namun, cahaya yang dijatahkan pada tubuh dan hakikat wanita hanya boleh dipancarkan melalui surat nikah. Kalau tanpa tarekat pernikahan, cahaya itu menjadi mudarat alias malapetaka.

Pornografis itu, kata Kiai Bodrin, ketika engkau melakukan kekeliruan dalam meramu antara syariat dan hakikatnya. Hakikat adalah realitas alam, syariah adalah realitas sosial. Alloh bikin kenyataan-kenyataan alam itu termasuk manusia di dalamnya sambil menyodorkan rangka aturan main bagaimana membangun kenyataan sosial. Paha wanita adalah realitas sosial. Kalau seorang suami mengelus-elus dan mengendus-endus paha istrinya di kamar pengantin sampai sesak napas, tidak terjadi peristiwa pornografis apa pun. Pornografi baru terjadi kalau engkau mengintip mereka, sebab syariat mengintipmu itu melanggar hakikat ketelanjangan kasih mereka.

Cak Nun juga menulis tentang kehidupan anak-anak muda yang beragama Islam dari Indonesia yang tinggal di Berlin, Jerman. Ia menulis dengan judul pesantren di ketiak Berlin. Ia menggambarkan bagaimana anak-anak muda yang beragama Islam di sana berusaha tetap menjaga imannya ketika dikepung oleh berbagai godaan kemaksiatan dan hiburan yang nonstop.

Cak Nun juga terpanggil hatinya ketika melihat kasus Kedungombo. Iya pembebasan lahan Waduk Kedungombo di Jawa Tengah itu pernah menjadi isu nasional yang hangat ketika itu. Para petani pemilik lahan tidak mau tanahnya dibebaskan dengan dalih pembangunan oleh penguasa Orde Baru ketika itu. Ia mengkritik cara-cara aparat pemerintah yang suka mendekati penyelesaian dengan kekuataan dan kekuasaan. Ia mendorong agar aparat dan masyarakat mau membuka diri, berdialog dari hati ke hati, dan berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang tenang dan damai.

Ia juga menulis soal kebiasaan penguasa Orde Baru yang suka mengucapkan kata daripada. Apa pun dan di mana pun tempatnya penguasa Orde Baru senang sekali memakai kata-kata daripada untuk menjelaskan sesuatu. Kata daripada itu terkadang dipakai tidak pada tempatnya sehingga merusak kaidah bahasa. Ironisnya, kata daripada juga mewabah dan dipakai oleh para pejabat di daerah dan desa-desa. Pemakaian kata daripada itu seolah sudah masuk ke dalam alam bawah sadar pemakainya. Kata daripada itu ungkapan dari kepatuhan, loyalitas yang berlebihan pada penguasa pada saat itu.

Sumber foto bukubekas.wordpress.com

 

Berita Terkait

Videotorial

Video: Semarak Gapura Kemerdekaan Polres Bojonegoro

Videotorial

Video: Semarak Gapura Kemerdekaan Polres Bojonegoro

Jelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke74, Polres Bojonegoro bersama Polsek jajaran, dirikan gapura di depan pintu ...

Berita Video

Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Gayam Bojonegoro

Berita Video

Kebakaran Hanguskan Rumah Warga Gayam Bojonegoro

Kebakaran tersebut menghanguskan rumah yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat penggilingan padi, milik Moh Uzaini (58), warga Desa Gayam RT 004 ...

Teras

Hukum Mengapung di Atas Samudera Etika

Hukum Mengapung di Atas Samudera Etika

*Oleh Muhammad Roqib Akhir-akhir ini Prof. Dr. Jimly Asshidiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi , memberi perhatian lebih pada pentingnya etika ...

Opini

‘Sesat Pikir’ atas Keberadaan Media Siber

Muhammad Abdul Qohhar Editor Imam Nurcahyo

‘Sesat Pikir’ atas Keberadaan Media Siber

PAGI sangat cerah, seperti hari-hari sebelumnya. Tapi saat tengah menikmati kopi panas, beberapa pesan masuk berantai dengan disertai gambar tulisan ...

Quote

Pendekatan

Quote

Pendekatan

Seorang kepala sekolah selalu datang 30 menit sebelum jadwal pelajaran dimulai atau pintu gerbang ditutup untuk memberi salam, berjabat tangan ...

Sosok

Mochlasin Afan, Caleg DPRD Bojonegoro Partai Demokrat, Peraih Suara Terbanyak Pemilu 2019

Serba-Serbi Pemilu 2019

Mochlasin Afan, Caleg DPRD Bojonegoro Partai Demokrat, Peraih Suara Terbanyak Pemilu 2019

Bojonegoro - Proses rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 telah usai dilaksananan dan perolehan suara partai politik peserta Pemilu 2019 tingkat ...

Eksis

Talenta Kartika Putri, Pelajar SD Asal Blora Peraih Juara 3 Lomba Sempoa Tingkat Nasional

Talenta Kartika Putri, Pelajar SD Asal Blora Peraih Juara 3 Lomba Sempoa Tingkat Nasional

Blora - Prestasi membanggakan datang dari putra daerah Kabupaten Blora. Dia adalah Talenta Kartika Putri (11), siswi SDN Kunden 1 ...

Infotorial

Program Semai Benih Bangsa: Sekolah PAUD Berkualitas, Siapkan Generasi Emas

Program Semai Benih Bangsa: Sekolah PAUD Berkualitas, Siapkan Generasi Emas

Usia 6 tahun pertama adalah masa keemasan dan fase terpenting dalam pertumbuhan anak. Pada kurun usia tersebut, perkembangan otak anak ...

Berita Foto

Foto Aksi Unjuk Rasa Warga Desa Ngampel di Pendapa Pemkab Bojonegoro

Berita Foto

Foto Aksi Unjuk Rasa Warga Desa Ngampel di Pendapa Pemkab Bojonegoro

Bojonegoro - Diberitakan sebelumnya, warga masyarakat Desa Ngampel Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro, pada Rabu (14/08/2019), menggelar unjuk rasa (unras) atau ...

Feature

Ngadoellah Warga Campurejo Bojonegoro ini Tekuni Pembibitan Kelengkeng Jenis Diamond River

Ngadoellah Warga Campurejo Bojonegoro ini Tekuni Pembibitan Kelengkeng Jenis Diamond River

Bojonegoro - Berawal dari kegemarannya merawat segala jenis tanaman, Ngadoellah (56) akhirnya menekuni pembibitan tanaman kelengkeng jenis diamond river. Hampir ...

Religi

Tolong Menolong Meringankan Sesama

Tolong Menolong Meringankan Sesama

HIDUP itu bagaikan sebuah bangunan, yang saling menopang antara unsur yang satu dengan unsur yang lainya, karena itu setiap muslim ...

Pelesir

Air Terjun 'Niagara Mini' Kracakaan di Ngloram Blora, Mulai Ramai Didatangi Pengunjung

Air Terjun 'Niagara Mini' Kracakaan di Ngloram Blora, Mulai Ramai Didatangi Pengunjung

Blora - Datangnya musim kemarau membawa keberuntungan sendiri bagi warga di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo, khususnya warga yang tinggal ...

Hiburan

Rencana Kegiatan Masyarakat Bojonegoro 20 Agustus 2019

Rencana Kegiatan Masyarakat Bojonegoro 20 Agustus 2019

Rencana Kegiatan Masyarakat di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Selasa (20/08/2019): KEGIATAN MASYARAKAT KOMERSIAL Waktu Pukul 16.00 WIB s/d selesai Tempat: Lapangan ...

Statistik

Hari ini

158 kunjungan

255 halaman dibuka

15 pengunjung online

Bulan ini

86.337 kunjungan

126.358 halaman dibuka

Tahun ini

1.274.038 kunjungan

2.031.339 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 668.531

Indonesia: 9.905

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015