News Ticker
  • Wisata di Tuban Perlu Pengembangan dan Peningkatan Fasilitas
  • Sri Astini Manfaatkan Limbah Sedotan Jadi Tikar Cantik
  • Muspika Gayam Hadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Aula Belajar Desa Beged
  • Polres Tuban Kembali Ringkus Dua Orang Produsen Miras
  • Mempersiapkan
  • Pemkab Bojonegoro Beri Santunan Kematian bagi Warga Miskin
  • Pemkab Bojonegoro Luncurkan Kartu Pedagang Produktif
  • Hindari Tabrakan, Truk di Margomulyo Bojonegoro Terguling ke Tebing Jalan
  • Diduga Serangan Jantung, Petani di Kanor Bojonegoro Meninggal di Sawah
  • Ketua KONI Bojonegoro yang Dilengserkan, Lukman Wafi, Akan Menghadap Bupati
  • Mosi Tidak Percaya, Ketua KONI Bojonegoro Dilengserkan
  • Urai Sampah, DLH Blora Gunakan Lalat Tentara Hitam
  • Problem Base Solution: Mengubah Masalah Rakyat Sebagai Masalah Pemerintah
  • Pemkab Blora Serahkan Hibah Bongkaran Bangunan Pasar
  • Kedekatan
  • Akibat Angin Kencang, Sejumlah Pohon di Padangan Bojonegoro Roboh
  • Menghadirkan
  • Bawaslu Undang Anam Warsito, Terkait Dugaan Pelanggaran Pemilu oleh Bupati Bojonegoro
  • Kasus Demam Berdarah di Tuban Meningkat
  • Motor Tabrak Sepeda di Dander Bojonegoro, 2 Orang Luka-Luka
  • Tabrakan Motor di Ngasem Bojonegoro, Seorang Kakek Patah Tulang Kaki
  • Bupati Bojonegoro Serahkan Sertifikat PTSL di Desa Jumput Sukosewu
  • Polisi Bojonegoro Gandeng Komunitas Offroad, Cek TPS Daerah Terpencil
  • Warga Lamongan, Tewas Tertabrak Kereta Api di Baureno Bojonegoro
  • Tabrak Lari di Padangan Bojonegoro, Seorang Pemotor Tewas di TKP

Slilit Sang Kiai, Emha Ainun Nadjib

*Oleh Muhammad Roqib

Dulu sewaktu masih bertugas meliput di Malang, pimpinan surat kabar tempat saya bekerja menugasi liputan di salah satu hotel ternama. Katanya dia ada pembicara yang layak dijadikan narasumber sebagai berita. Kebetulan pimpinan saya itu pengagum sang pembicara itu tetapi dia tidak bisa hadir karena ada acara penting lainnya yang harus dia ikuti. Seingatku saat itu bulan Puasa. Tema dialog yang digelar di hotel itu kalau tidak salah tentang konsep perbankan syariah. Nah itu dia pembicaranya ternyata Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Wah, saya senang sekali karena biasanya melihat Cak Nun di televisi, kini bisa bertemu langsung dan sekaligus bisa wawancara dengannya.

Cak Nun muncul dengan gaya khasnya yang santai. Ia memakai celana hitam, baju koko, dan memakai sandal jepit. Rambutnya seperti biasa agak panjang sebahu. Tetapi, ia tidak memakai peci. Gaya bicaranya tenang, kalem, dan setiap kata-katanya penuh makna mendalam. Ia berbicara tentang syariah Islam, konsep perbankan syariah, dan diselingi guyonan-guyonan khasnya. Saya dan mungkin para pegawai bank syariah yang mendengarkan cerita Cak Nun mendapatkan pemahaman baru dan sudut pandang baru. Selama satu jam Cak Nun berbicara seolah tidak terasa. Setelah mengutip beberapa pembicaraannya dan wawancara sebentar, saya langsung balik ke kantor dan mengetik beritanya.

Selalu ada kesan mendalam ketika bertemu dengan Cak Nun, sang kiai yang multitalenta itu. Ia seorang budayawan, penyair, esais, pegiat teater, pemusik, dan sering jadi penengah konflik di tengah masyarakat. Cak Nun juga menjadi motor penggerak di balik kelompok musik Kiai Kanjeng dan pengajian komunitas Jamaah Maiyah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Suami Novia Kolopaking, artis pemeran Siti Nurbaya, itu minatnya cukup luas mencakup berbagai masalah hangat di bidang sosial, budaya, dan politik.

Dalam dunia menulis Cak Nun cukup produktif. Di antara karya emasnya yang cukup terkenal yaitu Dari Pojok Sejarah (1985), Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990), Secangkir Kopi Jon Pakir (1992), Markesot Bertutur (1993), Markesot Bertutur Lagi (1994), Slilit sang Kiai, dan Surat kepada Kanjeng Nabi.

Tulisan-tulisannya sangat kritis, ide-idenya segar, dan terkadang mengejutkan. Ia menyibak berbagai persoalan di tengah masyarakat dengan sudut pandang yang sangat berbeda, tidak biasa tetapi masih dalam konteks relijius.

Karya emasnya banyak lahir pada masa kekuasaan Orde Baru yang cenderung otoriter. Tetapi dengan gaya dan pendekatan kebudayaan yang dilakukannya Cak Nun bisa menulis dengan sangat kritis dan spontan. Dulu Pak Harto kabarnya tidak bisa berbuat apa-apa kalau dikritik atau ditegur Cak Nun. Dengan rambut gondrong, Cak Nun dengan seenaknya duduk jigrang di Istana. Tetapi, Pak Harto hanya tersenyum saja melihat tingkah Cak Nun. Pak Harto tahu Cak Nun berjuang dengan tulus dan tidak menginginkan jabatan, kedudukan, apalagi uang.

Di antara karya emasnya, saya menyukai bukunya yang berjudul Slilit sang Kiai. Buku itu merupakan kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun pada kisaran tahun 1980-an. Salah satu tulisannya yang kemudian dijadikan judul buku adalah Slilit sang Kiai. Ia bercerita suatu ketika sang Kiai telah meninggal dan memasuki alam kubur. Sang Kiai sebenarnya tinggal sedikit saja akan masuk surga. Namun, ada sedikit yang mengganjal sehingga ia tidak segera masuk surga. Masalahnya adalah semasa hidup sang Kiai usai mengikuti kenduren dan makan bersama ia pulang melalui jalan kampung. Namun, ada slilit yang nyangkut di giginya. Ia pun mengambil sepotong kayu dari pagar tetangganya tetapi ia tidak bilang terlebih dulu pada yang punya. Kelamaan kalau harus bilang dulu pikirnya. Tetapi ternyata perbuatan itulah yang kini mengganjalnya masuk surga karena itu dosa.

Para santri yang dulu diajari mengaji oleh sang Kiai bermimpi aneh. Sang Kiai menemui mereka dan meminta agar masalah mengambil potongan kayu di pagar tetangga itu diselesaikan. Sang Kiai meminta agar para santrinya mau meminta maafkan perbuatannya itu pada tetangganya itu. Cerita yang lucu tetapi pesannya dalam. Sekecil apapun dosa akan diperhitungkan kelak di akhirat.

Ada pula cerita kebiasaan orang Madura yang suka bilang dak tentu. Judul tulisannya makan-minum dan tentu. Setiap kali berbicara orang Madura itu selalu bilang dak tentu, maksudnya tidak tentu. Dak tentu itu maksudnya relatif, tidak pasti. Dalam pandangan orang Madura, tidak ada yang pasti dalam kehidupan ini. Kesadaran dak tentu ini membuat orang-orang Madura tidak terlalu mabuk gembira jika memperoleh rezeki, dan tidak stress serius kalau ditimpa kemalangan.

Ada juga tulisan tentang Gontor, Shaolin, dan Trimurti. Cak Nun bercerita, Pondok Gontor yang dikenal sebagai pondok modern itu berasal dari kata Nggon Kotor (tempat kotor, red). Iya dulu di kawasan sekitar pondok pesantren itu berdiri yaitu di pinggiran Kota Ponorogo maksiat merajalela, judi, mabuk-mabukan, dan hiburan malam. Nah kemudian tiga orang yang disebut Trimurti merintis pendirian pondok Gontor itu yaitu KH Sahal, KH Zaenudin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi. Ketiga orang kiai ini cukup brilian. Mereka mendirikan pondok pesantren dengan konsep 100 persen pelajaran Islam dan 100 persen pelajaran umum. Menurut pandangan mereka, Islam dan umum tidak karena materinya, tetapi karena perlakuan terhadap materi itu. Karena itu, seorang mikrobiolog adalah juga seorang ulul albab atau ulama selama dia meletakkan penghayatan dan pemfungsian ilmunya dalam kerangka tauhid. Pondok Gontor ini bukan pondok NU atau Muhammadiyah. Para santri digodok dalam suasana tumbuh menjadi perekat umat. Untuk tidak tawar menawar akidah, tetapi toleran dalam khilafiah hukum dan aliran. Santri tidak mencium tangan siapa pun, iklim budaya mereka egaliter dan universal. Penghormatan tidak pada atasan dalam konteks hierarki feodalisme tetapi pada kesalehan, ilmu, dan perjanjian fungsi.

Tulisan lainnya yang menarik berjudul Islam itu Islam. Cak Nun menyoroti tentang tulisan Salman Rushdie tentang Ayat-Ayat Setan. Ia memakai tokoh bernama Kiai Sudrun untuk menyampaikan pandangannya. Kiai Sudrun dalam dialog dengan seorang wartawan yang mewawancarainya mengatakan, akhir-akhir ini memang dunia makin tidak beriktikad baik terhadap Islam. Iklim ini juga menaburi kaum Muslim sendiri. Tetapi, kata Kiai Sudrun, itu tidak apa. Itu bukan urusan Islam. Islam itu tetap Islam. Tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silakan orang di seluruh bumi ini membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Tetapi hasilnya Islam ya tetap Islam. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan juga tak menjadi lebih rendah karena dibenci. La raiba fih, tak ada keraguan padanya. Islam tak rugi, Islam bebas dari untung rugi. Islam tak pernah tertawa karrena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tidak punya kepentingan terhadap manusia, tetapi manusialah yang berkepentingan terhadapnya.

Ada juga tulisan yang menggelitik dan segar judulnya paha itu, cahaya itu. Kali ini ia memakai nama tokoh Kiai Bodrin. Sang Kiai ini blak-blakan kalau ditanya soal hubungan laki-laki dan perempuan. Kiai Bodrin berucap dari paha wanita, katanya, memancar cahaya Alloh. Cuma harus dibedakan antara cahaya sebagai raga dengan cahaya jiwa. Cahaya jasmani dan cahaya ruhani. Namun, cahaya yang dijatahkan pada tubuh dan hakikat wanita hanya boleh dipancarkan melalui surat nikah. Kalau tanpa tarekat pernikahan, cahaya itu menjadi mudarat alias malapetaka.

Pornografis itu, kata Kiai Bodrin, ketika engkau melakukan kekeliruan dalam meramu antara syariat dan hakikatnya. Hakikat adalah realitas alam, syariah adalah realitas sosial. Alloh bikin kenyataan-kenyataan alam itu termasuk manusia di dalamnya sambil menyodorkan rangka aturan main bagaimana membangun kenyataan sosial. Paha wanita adalah realitas sosial. Kalau seorang suami mengelus-elus dan mengendus-endus paha istrinya di kamar pengantin sampai sesak napas, tidak terjadi peristiwa pornografis apa pun. Pornografi baru terjadi kalau engkau mengintip mereka, sebab syariat mengintipmu itu melanggar hakikat ketelanjangan kasih mereka.

Cak Nun juga menulis tentang kehidupan anak-anak muda yang beragama Islam dari Indonesia yang tinggal di Berlin, Jerman. Ia menulis dengan judul pesantren di ketiak Berlin. Ia menggambarkan bagaimana anak-anak muda yang beragama Islam di sana berusaha tetap menjaga imannya ketika dikepung oleh berbagai godaan kemaksiatan dan hiburan yang nonstop.

Cak Nun juga terpanggil hatinya ketika melihat kasus Kedungombo. Iya pembebasan lahan Waduk Kedungombo di Jawa Tengah itu pernah menjadi isu nasional yang hangat ketika itu. Para petani pemilik lahan tidak mau tanahnya dibebaskan dengan dalih pembangunan oleh penguasa Orde Baru ketika itu. Ia mengkritik cara-cara aparat pemerintah yang suka mendekati penyelesaian dengan kekuataan dan kekuasaan. Ia mendorong agar aparat dan masyarakat mau membuka diri, berdialog dari hati ke hati, dan berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang tenang dan damai.

Ia juga menulis soal kebiasaan penguasa Orde Baru yang suka mengucapkan kata daripada. Apa pun dan di mana pun tempatnya penguasa Orde Baru senang sekali memakai kata-kata daripada untuk menjelaskan sesuatu. Kata daripada itu terkadang dipakai tidak pada tempatnya sehingga merusak kaidah bahasa. Ironisnya, kata daripada juga mewabah dan dipakai oleh para pejabat di daerah dan desa-desa. Pemakaian kata daripada itu seolah sudah masuk ke dalam alam bawah sadar pemakainya. Kata daripada itu ungkapan dari kepatuhan, loyalitas yang berlebihan pada penguasa pada saat itu.

Sumber foto bukubekas.wordpress.com

 

Berita Terkait

Videotorial

Festival Banyu Urip 2018, Destinasi Wisata Hiburan di Bojonegoro

Festival Banyu Urip 2018, Destinasi Wisata Hiburan di Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Ribuan warga memadati jalan-jalan, warung-warung dan lapangan sepakbola Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro saat digelar perhelatan ...

Teras

Gantung Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Gantung Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Kejadian bunuh diri atau gantung diri di wilayah Kabupaten Bojonegoro selama tahun 2018, menunjukkan angka yang relatif cukup tinggi. Lantas ...

Opini

Problem Base Solution: Mengubah Masalah Rakyat Sebagai Masalah Pemerintah

Problem Base Solution: Mengubah Masalah Rakyat Sebagai Masalah Pemerintah

Jumlah lembaga, aparatur dan anggaran masing lembaga boleh dibilang cukup untuk menjalankan misi pemerintahan efektif. Sudah umum didengar keluhan adanya ...

Quote

Mempersiapkan

Mempersiapkan

Dalam menapaki perjalanan hidup dan banyaknya aktivitas, alangkah baik bila diawali dengan kemampuan, pemahamam lebih dan mempersiapkan diri dengan matang, ...

Sosok

Sari Koeswoyo, Antara Seorang Ibu dan Pelaku Seni

Sosok

Sari Koeswoyo, Antara Seorang Ibu dan Pelaku Seni

Oleh Muliyanto Tanggal 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Hari di mana perempuan-perempuan Indonesia menyelenggarakan Kongres Perempuan Pertama pada 22 ...

Eksis

Sepasang Kakak-Adik di Blora Ciptakan Lampu Emergency Hemat Listrik

Sepasang Kakak-Adik di Blora Ciptakan Lampu Emergency Hemat Listrik

Oleh Priyo Spd Blora- Sering terjadinya listrik padam di wilayah Blora, membuat sepasang kakak-adik, warga Kelurahan Jetis Kecamatan Blora, menciptakan ...

Religi

Hukum Nikah Sirri

Hukum Nikah Sirri

*Oleh Drs H Sholikin Jamik SH MHes. Istilah nikah sirri atau nikah yang dirahasiakan memang dikenal di kalangan para ulama, ...

Infotorial

Ibu Inspiratif, Mengubah “Limbah” Menjadi Berkah

Ibu Inspiratif, Mengubah “Limbah” Menjadi Berkah

Oleh Imam Nurcahyo Ngaisah namanya. Perempuan kelahiran 44 tahun lalu ini ibu rumah tangga biasa, layaknya perempuan desa di sekitarnya. ...

Berita Foto

Festival Perahu Hias, Bengawan Solo Bojonegoro

Festival Perahu Hias, Bengawan Solo Bojonegoro

Festival Perahu Hias merupakan rangkaian dari Festival Bengawan Bojonegoro 2018, digelar Minggu, 30 Desember 2018. Festival Bengawan Bojonegoro 2018, digelar ...

Feature

Miniatur Motor Berbahan Limbah Bambu

Miniatur Motor Berbahan Limbah Bambu

Oleh Priyo SPd Blora - Banyaknya pohon bambu yang tumbuh di wilayah Desa Sumurboto Kecamatan Jepon Kabupaten Blora, membuat warga ...

Resensi

Alice in Cheongdam Dong 2

Alice in Cheongdam Dong 2

Oleh Delfariza Amaliya Penulis : Ahn Jae Kyung Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas Tahun : 2014 Penerbit : Qanita, PT ...

Pelesir

Waduk Selo Parang di Blora Pikat Pengunjung Wisata

Waduk Selo Parang di Blora Pikat Pengunjung Wisata

Blora- Masyarakat Desa Tempel Lemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah memanfaatkan kawasan waduk Selo Parang menjadi tempat wisata baru ...

Hiburan

Barista Asal Mojokerto Juarai Latte Art Battle di Bojonegoro

Barista Asal Mojokerto Juarai Latte Art Battle di Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Dalam partai final Latte Art Battle di KDS Toserba Bojonegoro yang digelar pada Sabtu (01/12/2018) ...

Statistik

Hari ini

3.724 kunjungan

6.101 halaman dibuka

160 pengunjung online

Bulan ini

76.858 kunjungan

132.751 halaman dibuka

Tahun ini

76.858 kunjungan

132.751 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 745.953

Indonesia: 11.435

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015