AJI Indonesia Gelar Workshop Bisnis dan HAM di Pekanbaru
Rabu, 16 November 2016 23:00 WIBOleh Vera Astanti
Oleh Vera Astanti
Pekanbaru - Praktik bisnis di segala sektor perlu diimbangi dengan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Hal itu dibahas dalam Workshop Bisnis dan HAM yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Rabu-Jumat (16-18/11/2016) di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Worshop ini merupakan bagian dari Festival Media (Fesmed) AJI.
Acara yang didukung International NGO Forum on Indonesian Development (Infid), Oxfam dan Uni Eropa ini diikuti sebanyak 30 jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bengkulu, Medan, Jambi, Pekanbaru, Jakarta dan lainnya. Ada 4 jurnalis dari Jawa Timur yang berangkat, termasuk dari Bojonegoro. Acara dipusatkan di Hotel Alfa Jalan Imam Munandar Kota Pekanbaru.
"Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam memberitakan tentang bisnis dan HAM," terang Ketua AJI Pekanbaru Fakhrurrodzi.
Narasumber pertama Siti Noor Laila dari Komnas Ham Indonesia memaparkan tentang pelanggaran HAM yang banyak terjadi di Indonesia di antaranya dilakukan oleh kepolisian, perusahaan dan pemerintahan daerah. Karena tema workshop adalah bisnis dan HAM, maka topik bahasan dikhususkan pada masalah bisnis. Bisnis dalam kaitannya HAM adalah persoalan besar, sebab praktik bisnis seringkali mengabaikan HAM.
“Mungkinkah bisnis bisa berjalan dengan mengedepankan HAM?,” kata Noor Laila menyodorkan masalah dalam sesi diskusi.
Acara berlangsung serius, membahas masing-masing daerah yang tersangkut masalah HAM. Misalnya, di Sumatera ada masalah hak buruh di perusahaan perkebunan, di Kalimantan ada pelanggaran hak ulayat (tanah milik masyarakat adat setempat), juga di Jawa Timur ada kasus pembunuhan aktivis anti tambang Salim Kancil.(ver/moha)











































.md.jpg)






