Embung Tidak Maksimal Menampung Air saat Musim Hujan
Rabu, 28 Desember 2016 10:00 WIBOleh Heriyanto
Oleh Heriyanto
Bojonegoro – Sejumlah embung di Bojonegoro tidak mampu menampung air secara maksimal selama musim hujan tahun ini. Akibatnya, persediaan air di embung diperkirakan hanya cukup untuk keperluan musim tanam padi kedua. Sedangkan, cadangan air untuk keperluan bercocok tanam selama musim kemarau mendatang diperkirakan bakal minim.
Embung Blibis di Dusun Glagah, Desa/Kecamatan Purwosari, misalnya kini hanya mampu menampung air kurang dari separuh daya tampung waduk tersebut. Embung Blibis yang berada di dekat hutan Kendung wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Padangan itu mempunyai luas sekitar dua hektare. Minimnya air yang bisa ditampung di embung karena dasar embung ini mengalami pendangkalan cukup parah.
Menurut Rakiman, 56, petani di Dusun Glagah, air yang bisa ditampung di Embung Blibis selama musim hujan hanya sedikit. Cadangan air di embung itu, kata dia, hanya cukup untuk pengairan persawahan sampai Maret 2017 mendatang. “Air di embung tidak cukup untuk cadangan selama musim kemarau nanti,” ujarnya.
Beberapa petani mengambil air di Embung Blibis ini dengan cara disedot memakai mesin diesel. Air lalu disalurkan melalui pipa ke areal persawahan di Dusun Glagah, Sambong dan sekitarnya. Persawahan tampak ditanami padi yang masih berumur sebulan hingga dua bulan.
Embung Blibis selama ini menjadi andalan cadangan air selama musim kemarau. Sebab, areal persawahan di kawasan Desa Purwosari dan sekitarnya dikenal sebagai sawah tadah hujan. Selama musim kemarau areal persawahan tadah hujan hanya bisa ditanami palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau dan ketela.
Kondisi Embung Sonorejo di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan juga memprihatinkan. Embung seluas tiga hektare ini terlihat hanya mampu menampung air separuhnya saja dari daya tampung waduk tersebut. Persediaan air ini diperkirakan hanya cukup untuk keperluan masa tanam padi kedua yakni sekitar Mei hingga Juli nanti.
Menurut Wakiran, 52, petani di Desa Sonorejo, daya tampung Embung Sonorejo terus menyusut karena mengalami pendangkalan parah. Seharusnya, kata dia, Embung Sonorejo dikeduk sehingga bisa berfungsi seperti sedia kala. “Cadangan air yang bisa disimpan di Embung Sonorejo selama musim hujan sedikit sekali, kurang dari separuh dari daya tampung waduk,” ujarnya. (her/kik)












































.md.jpg)






