News Ticker
  • Polres Bojonegoro Adakan Pengobatan Massal di Negeri Atas Angin Kecamatan Sekar
  • Si Jago Merah Hanguskan Rumah Warga Padangan, Kerugian Diperkirakan Capai Rp 100 Juta
  • Ambil Lajur Kanan, Honda Vario Tabrak Truk Trailler, Pengendara Vario Meninggal Dunia
  • Tabrak Truk Boks Parkir, Pengendara Scoopy di Sumberrejo Luka-Luka
  • Merah Putih Berhasil Dibentangkan di Puncak Bukit Cinta Negeri Atas Angin
  • Pemkab Bojonegoro Terus Upayakan Realisasi Pembangunan Dry Port
  • Diduga Pengemudi Mengantuk, Suzuki Carry Bertabrakan Dengan Truk Fuso
  • Kobarkan Semangat Merah Putih di Bukit Cinta Negeri Atas Angin
  • Kapolres Bojonegoro Bertindak Sebagai Inspektur Upacara Penurunan Bendera
  • Lomba Panahan Turut Meriahkan Agustusan
  • Usai Upacara Peringatan HUT RI ke-72, Bupati Blora Lantik Kades Terpilih Pilkades Serentak
  • 2 Orang Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Bojonegoro Peroleh Remisi Bebas
  • Rayakan Hari Kemerdekaan RI ke-72, Ratusan Warga Kibarkan Bendera Raksasa di Perut Bumi
  • Polres Blora Musnahkan Barang Bukti Kasus Narkoba Selama Tahun 2017
  • Upacara Peringatan HUT RI ke-72 di Alun-Alun Bojonegoro, 165 Peserta Kelelahan dan Pingsan
  • Polres Bojonegoro Tangkap Seorang Remaja Asal Sumberrejo, Pelaku Persetubuhan Anak
  • Unik, Upacara HUT RI di Bantaran Sungai Bengawa Solo
  • 124 Warga Binaan Lapas Kelas IIA Bojonegoro, Terima Remisi, 2 Warga Binaan Bebas
  • Bendera Dengan Ukuran 17 kali 45 Meter, Membentang Di Bengawan Solo
  • Sambutan Bupati Bojonegoro Pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72

Puasa dengan Prasangka

Puasa dengan Prasangka

*Oleh Drs H Sholikhin Jamik SH MHes

KETIKA ada petinggi partai yang mengaku partai dakwah di panggil KPK, banyak orang kaget, bingung bahkan mengumpat-umpat, masalahnya bukan kasus korupsinya tapi mengapa partai yang mengaku partai dahwah, yang petinggi partainya tampak islami, kemana-mana dipanggil ustadz, fasih bahasa arab, bahasa  yang menjadi simbul Islam, pandai mengaji, solat dan puasa tidak henti, bahkan hajinya berkali-kali. Kok  melakukan sikap yang kontradiktif.

Ada moral ganda, di satu sisi seakan-akan taat agama, tapi bersamaan dengan itu melakukan tindakan yang dilarang agama. Mengapa tidak ada korelasi antara prilaku beragama dengan perbuatan yang dilakukan. Kenapa orang-orang yang kelihatan taat pada ritual agama hidupnya ada karakteristik prejudice, kepribadian otoriter, fanatisme kesukuan (etnosentrisme), konservatisme politik dan ekonomi dan anti semitisme.

Para psikolog pernah berdebat tentang apa yang mereka sebut sebagai the great paradoxes of the psychology of religion (red, paradoks besar psikologi agama). Mereka tidak mengerti mengapa agama yang mengajarkan persaudaraan, diantara sesama manusia melahirkan para pemeluk yang memiliki tingkat prasangka yang tinggi. Penelitian demi penelitian menunjukkan ada hubungan yang erat antara perilaku beragama, seperti rajin beribadah, Ia solat, puasa, haji, zakat, pandai mengaji, sering pergi ke masjid, dengan prasangka. Secara sederhana, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin rajin orang beribadah, makin besar prasangkanya pada kelompok manusia yang lain.

Prasangka adalah pandangan menghina terhadap kelompok lain. Anggota-anggota kelompok lain dianggap inferior, lebih rendah derajadnya, tidak sepenuhnya dianggap manusia. Untuk itu, kepada kelompok lain itu digunakan label-label atau gelar-gelar yang melepaskan mereka dari sifat kemanusiannya. Kita menyebut mereka munafik, sesat, pengikut setan, bahkan mungkin  dia kafir atau bukan dari kelompok kita. Setelah dicabut dari segala sifat manusianya, mereka tidak patut lagi dikasihani dan karena itu boleh saja difitnah, dirampas haknya, dianiaya, atau sedikitnya dicampakkan kehormatannya. Mereka dianggap sebagai sumber segala sifat buruk, malas, immoral, tidak jujur, bodoh, jahat, kejam dan sebagainya. Jadi, sangat mengherankan, orang-orang saleh sering menampakkan prasangka (prejudice) lebih besar dari orang yang kurang saleh.

Allport berusaha menjawab paradoks ini dengan membagi dua macam keberagamaan, yaitu tidak dewasa dan dewasa. Keberagamaan yang tidak dewasa, agamanya anak-anak, memandang Tuhan sebagai “ Bapak ” yang bertugas melayani kehendaknya, merawat, menjaga, mengurus segala keperluannya. Keberagamaan seperti ini cocok untuk masa kanak-kanak, tetapi menjadi disfungsional ketika orang beranjak dewasa.

Kelak Allport merevisi teorinya dengan menyebutnya keberagamaan ekstrinsik dan keberagamaan intrinsic. Menurut Allport, dalam orientasi ekstrinsik, orang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan pribadi. Nilai-nilai ekstrinsik bersifat instrumental dan utilitarian. Agama digunakan untuk berbagai tujuan mendapatkan rasa aman, status, atau pembenaran diri . Dalam bahasa teologi, tipe eksrinsik menghadap Tuhan tanpa berpaling dari dirinya.

Buat orang yang berorientasi intrinsic, motif keagamaan diletakkan di atas segala motif pribadi. Sekedar contoh, ketika seorang muslim berjuang, ia meletakkan ke-ridhoNya Tuhan di atas segala kebutuhan pribadinya. “ Ridho dari Allah lebih besar.“ (Al Quran 9 : 72). Ia akan mengorbankan kepentingan kelompoknya jika kepentingan itu menyebabkan ia tidak dapat lagi memenuhi kehendak Illahi.

Dalam hal puasa, orang-orang intrinsic berusaha meniadakan diri dan menenggelamkan diri pada Allah Swt. Walaupun sebelum sampai ke situ, seorang intrinsic harus menjalankan tarekat puasa. Di sini ia mengendalikan semua alat inderanya  yang lahir dan bathin dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Allah SWT. Ia bukan saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gosip, intrik, makian dan ancaman, tetapi juga mengendalikan daya khayalnya dari rencana-rencana jahat atau niat-niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya dari pandangan yang dilarang Allah SWT, tetapi juga juga menutup daya pikirnya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan. Itulah cara beragama orang intrinsic.

Dengan sangat mengagumkan “survey membuktikan” bahwa prasangka (prejudice) memang hanya berkaitan dengan orientasi keberagamaan yang ekstrinsik. Dalam istilah syariat puasa, prejudice dan juga penyakit-penyakit psikologis lainnya, hanya berkaitan dengan orang yang menjalankan puasa untuk kehendak dirinya. Orang yang menikmati puasa hanyalah orang yang melakukan puasa karena keimanan dan karena memenuhi kehendak Illahi. Inilah puasa yang difirmankan Tuhan, “ Puasa hanyalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya “. Puasa yang dilakukan bukan untuk Allah SWT. adalah puasa tanpa jiwa. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa. (*/inc)

*) Penulis  Penggiat bidang Pengembangan Religion DJangleng Institute Bojonegoro.

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Berita TerkiniBerita Poluler

Sosok

Sosok Dibalik Aplikasi CAS dan System e-Police Polres Bojonegoro

Sosok Dibalik Aplikasi CAS dan System e-Police Polres Bojonegoro

Oleh Imam Nurcahyo SEBAGAIMANA diketahui, berkat ide dan gagasan cemerlang dari Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu S Bintoro SH SIK MSI, ...

Quote

Sambutan Bupati Bojonegoro Pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72

Sambutan Bupati Bojonegoro Pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72

Bekerja Bersama, Bersatu Melangkah Maju Assalamu'alaikum waroh matullahi wabarokaatuh Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua Merdeka!!! Yang saya ...

Opini

Mengamalkan Nilai Pancasila Untuk Keutuhan Bangsa

Sebuah Refleksi Peringatan HUT RI ke-72

Mengamalkan Nilai Pancasila Untuk Keutuhan Bangsa

Oleh: Said Edy Wibowo*) Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa di ...

Eksis

Barang Seni Berkelas Tercipta dari Tangan Kreatif Puguh

Barang Seni Berkelas Tercipta dari Tangan Kreatif Puguh

Oleh Vera Astanti Gelak tawa sering keluar dari orang-orang setelah berbincang dengan pemuda itu. Pemuda dengan favorit kaos warna hitam ...

Pelesir

Belanja Buku Bekas di Pojok Pasar Kota Bojonegoro

Belanja Buku Bekas di Pojok Pasar Kota Bojonegoro

Oleh Vera Astanti Bojonegoro Kota Buku tak harus baru. Asalkan masih bisa terbaca tulisannya dan diambil manfaatnya, bekas tidak masalah. ...

Religi

Pesan Penting Untuk Jamaah Haji Bojonegoro

Pesan Penting Untuk Jamaah Haji Bojonegoro

*Oleh Drs H Sholikin Jamik SH MHes MARI kita panjatkan puji kepada Allah, yang telah melimpahkan taufik kepada kita sekalian ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Sabtu, 19 Agustus 2017

Berita Foto

Bendera Dengan Ukuran 17 kali 45 Meter, Membentang Di Bengawan Solo

Bendera Dengan Ukuran 17 kali 45 Meter, Membentang Di Bengawan Solo

Oleh Vera Astanti MESKI cukup lama menunggu selesainya penjahitan bendera sebesar 17 meter kali 45 meter, akhirnya bendera tersebut bisa ...

Infotorial

Program Pendukung Operasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Mengolah Sampah Jadi Berkah

Program PHBS dan Pengelolaan Sampah di Sekolah

Program Pendukung Operasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Mengolah Sampah Jadi Berkah

Oleh Imam Nurcahyo Operator minyak dan gas bumi Lapangan Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama pemerintah terus melakukan berbagai ...

Resensi

Peluang Sukses dengan Outliers di Sekitar Kita

Buku Outliers Karya Malcom Gladwell

Peluang Sukses dengan Outliers di Sekitar Kita

Oleh Muliyanto OUTLIERS adalah buku karya Malcom Gladwell yang bagus. Tema buku ini menarik minat saya yang ingin hidup sukses. ...

Feature

Sate Jamur Tiram yang Benar-Benar Maknyus

Kuliner

Sate Jamur Tiram yang Benar-Benar Maknyus

Oleh Muliyanto Kapas Tiada orang yang tak yang tak kenal sate, baik daging kambing, sapi, ayam, maupun lainnya. Tapi tidak ...

Teras

Menikmati Senja di Jakarta

Menikmati Senja di Jakarta

Oleh Heriyanto Jakarta Liburan Lebaran yang berbarengan dengan liburan sekolah terasa kurang lengkap apabila tidak memanfaatkannya untuk liburan. Melepas penat ...

Statistik

Hari ini

1.302 pengunjung

2.574 halaman dibuka

147 pengunjung online

Bulan ini

63.905 pengunjung

182.712 halaman dibuka

Tahun ini

684.787 pengunjung

2.771.616 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 516.433

Indonesia: 10.738

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015