News Ticker
  • Di Warung Ini Buah Durian Bisa Semangkuk dengan Bakso
  • Pertamina Grup Gelar Gathering dengan Pemimpin Media Jatim dan Jateng di Kuta Bali
  • Iming-Iming Lowongan Kerja Palsu, Komplotan Penipu Diringkus Polisi
  • Berharap Pilkada Damai pada Para Tokoh Masyarakat
  • Minum Kopi Sambil Memeluk Ular Sanca di Animals Cafe  
  • Nyolong HP, Tukang Rosok Asal Balen Bojonegoro Diciduk Polisi
  • Kapolres dan Wartawan Deklarasi Pilkada Damai di Blora
  • Rencana Kegiatan Masyarakat || Senin, 19 Februari 2018
  • Bojonegoro Darurat Gantung Diri?
  • Diduga Sakit Tak Kunjung Sembuh, Seorang Warga Bubulan Akhiri Hidup Dengan Gantung Diri
  • Kapolres Bojonegoro Serahkan Pengawal Pribadi Pada KPUD, Panwas dan Cabup-Cawabup
  • KPU Gelar Deklarasi Kampanye Damai Pemilukada Bojonegoro
  • Ambil Haluan Terlalu ke Kiri, Pemotor di Ngraho Terperosok dan Terjatuh di Bahu Jalan
  • Jelang Pilkada Serentak 2018, Kapolres Bojonegoro Pimpin Patroli Skala Besar
  • Seorang Warga Sukosewu Ditemukan Meninggal Dunia Gantung Diri
  • Gangguan Pertanian di Bojonegoro Ke Depan yakni Pencemaran Lingkungan
  • Serunya Menjelajah Kawasan The Legend
  • Belajar Sejarah dan Kehidupan Dinosaurus di Dino Park
  • Bripka Juhair, Bhabinkamtibmas Desa Ngunut, Hadiri Undangan Kapolres Batu
  • 4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Karambol di Baureno, 4 Orang Luka-Luka

Puasa dengan Prasangka

Puasa dengan Prasangka

*Oleh Drs H Sholikhin Jamik SH MHes

KETIKA ada petinggi partai yang mengaku partai dakwah di panggil KPK, banyak orang kaget, bingung bahkan mengumpat-umpat, masalahnya bukan kasus korupsinya tapi mengapa partai yang mengaku partai dahwah, yang petinggi partainya tampak islami, kemana-mana dipanggil ustadz, fasih bahasa arab, bahasa  yang menjadi simbul Islam, pandai mengaji, solat dan puasa tidak henti, bahkan hajinya berkali-kali. Kok  melakukan sikap yang kontradiktif.

Ada moral ganda, di satu sisi seakan-akan taat agama, tapi bersamaan dengan itu melakukan tindakan yang dilarang agama. Mengapa tidak ada korelasi antara prilaku beragama dengan perbuatan yang dilakukan. Kenapa orang-orang yang kelihatan taat pada ritual agama hidupnya ada karakteristik prejudice, kepribadian otoriter, fanatisme kesukuan (etnosentrisme), konservatisme politik dan ekonomi dan anti semitisme.

Para psikolog pernah berdebat tentang apa yang mereka sebut sebagai the great paradoxes of the psychology of religion (red, paradoks besar psikologi agama). Mereka tidak mengerti mengapa agama yang mengajarkan persaudaraan, diantara sesama manusia melahirkan para pemeluk yang memiliki tingkat prasangka yang tinggi. Penelitian demi penelitian menunjukkan ada hubungan yang erat antara perilaku beragama, seperti rajin beribadah, Ia solat, puasa, haji, zakat, pandai mengaji, sering pergi ke masjid, dengan prasangka. Secara sederhana, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin rajin orang beribadah, makin besar prasangkanya pada kelompok manusia yang lain.

Prasangka adalah pandangan menghina terhadap kelompok lain. Anggota-anggota kelompok lain dianggap inferior, lebih rendah derajadnya, tidak sepenuhnya dianggap manusia. Untuk itu, kepada kelompok lain itu digunakan label-label atau gelar-gelar yang melepaskan mereka dari sifat kemanusiannya. Kita menyebut mereka munafik, sesat, pengikut setan, bahkan mungkin  dia kafir atau bukan dari kelompok kita. Setelah dicabut dari segala sifat manusianya, mereka tidak patut lagi dikasihani dan karena itu boleh saja difitnah, dirampas haknya, dianiaya, atau sedikitnya dicampakkan kehormatannya. Mereka dianggap sebagai sumber segala sifat buruk, malas, immoral, tidak jujur, bodoh, jahat, kejam dan sebagainya. Jadi, sangat mengherankan, orang-orang saleh sering menampakkan prasangka (prejudice) lebih besar dari orang yang kurang saleh.

Allport berusaha menjawab paradoks ini dengan membagi dua macam keberagamaan, yaitu tidak dewasa dan dewasa. Keberagamaan yang tidak dewasa, agamanya anak-anak, memandang Tuhan sebagai “ Bapak ” yang bertugas melayani kehendaknya, merawat, menjaga, mengurus segala keperluannya. Keberagamaan seperti ini cocok untuk masa kanak-kanak, tetapi menjadi disfungsional ketika orang beranjak dewasa.

Kelak Allport merevisi teorinya dengan menyebutnya keberagamaan ekstrinsik dan keberagamaan intrinsic. Menurut Allport, dalam orientasi ekstrinsik, orang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan pribadi. Nilai-nilai ekstrinsik bersifat instrumental dan utilitarian. Agama digunakan untuk berbagai tujuan mendapatkan rasa aman, status, atau pembenaran diri . Dalam bahasa teologi, tipe eksrinsik menghadap Tuhan tanpa berpaling dari dirinya.

Buat orang yang berorientasi intrinsic, motif keagamaan diletakkan di atas segala motif pribadi. Sekedar contoh, ketika seorang muslim berjuang, ia meletakkan ke-ridhoNya Tuhan di atas segala kebutuhan pribadinya. “ Ridho dari Allah lebih besar.“ (Al Quran 9 : 72). Ia akan mengorbankan kepentingan kelompoknya jika kepentingan itu menyebabkan ia tidak dapat lagi memenuhi kehendak Illahi.

Dalam hal puasa, orang-orang intrinsic berusaha meniadakan diri dan menenggelamkan diri pada Allah Swt. Walaupun sebelum sampai ke situ, seorang intrinsic harus menjalankan tarekat puasa. Di sini ia mengendalikan semua alat inderanya  yang lahir dan bathin dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Allah SWT. Ia bukan saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gosip, intrik, makian dan ancaman, tetapi juga mengendalikan daya khayalnya dari rencana-rencana jahat atau niat-niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya dari pandangan yang dilarang Allah SWT, tetapi juga juga menutup daya pikirnya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan. Itulah cara beragama orang intrinsic.

Dengan sangat mengagumkan “survey membuktikan” bahwa prasangka (prejudice) memang hanya berkaitan dengan orientasi keberagamaan yang ekstrinsik. Dalam istilah syariat puasa, prejudice dan juga penyakit-penyakit psikologis lainnya, hanya berkaitan dengan orang yang menjalankan puasa untuk kehendak dirinya. Orang yang menikmati puasa hanyalah orang yang melakukan puasa karena keimanan dan karena memenuhi kehendak Illahi. Inilah puasa yang difirmankan Tuhan, “ Puasa hanyalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya “. Puasa yang dilakukan bukan untuk Allah SWT. adalah puasa tanpa jiwa. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa. (*/inc)

*) Penulis  Penggiat bidang Pengembangan Religion DJangleng Institute Bojonegoro.

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Sosok

Bermain Biola Bagian dari Hidup Akip

Bermain Biola Bagian dari Hidup Akip

Oleh Angga Reza Bojonegoro (Kota) - Sambil menikmati sore hari di sekitar Alun Alun Kota Bojonegoro di bawah teduhnya pohon ...

Quote

Ketemu Audry Yang Tidak Bisa Tidur

Catatan Dahlan Iskan

Ketemu Audry Yang Tidak Bisa Tidur

*Oleh Dahlan Iskan Saya dapat kabar Audry lagi di Singapura. Gadis Surabaya yang genius. Dan pernah saya tulis panjang lebar. ...

Opini

Tak Hanya Valentine

Tak Hanya Valentine

*Oleh Liya Yuliana Gencarnya aneka tulisan yang nongol di sosmed seputar kontra valentine day ternyata belum sepenuhnya mengkonter peringatan acara ...

Eksis

Bripka Juhair, Bhabinkamtibmas Desa Ngunut, Hadiri Undangan Kapolres Batu

Bripka Juhair, Bhabinkamtibmas Desa Ngunut, Hadiri Undangan Kapolres Batu

*Oleh Mulyanto Batu - Dalam acara pelatihan Fungsi Teknis Kepolisian Binmas oleh Polres Batu yang digelar di Hotel Golden Tulip ...

Pelesir

Loco Tour Jadi Destinasi Wisata Baru di Blora

Loco Tour Jadi Destinasi Wisata Baru di Blora

Oleh Priyo SPd Blora - Kereta uap tertua yang lama tak berfungsi di Kabupaten Blora secara resmi diaktifkan kembali. Dalam ...

Religi

Hadiri Pengajian, Kapolres Bojonegoro Ingatkan Jamaah Pegang Teguh 4 Pilar Kebangsaan

Hadiri Pengajian, Kapolres Bojonegoro Ingatkan Jamaah Pegang Teguh 4 Pilar Kebangsaan

*Oleh Mulyanto Bojonegoro (Kepohbaru) - Menghadiri Maulid Nabi dan Pengukuhan Pengurus Ikatan Santri Alumni Mambaul Falah di Pondok Pesantren (Ponpes) ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Selasa, 20 Februari 2018

Berita Foto

Kecelakaan Truk Tabrak Elf dan Warung di Kalitidu, Kerugian Diperkirakan Capai Rp 30 Juta

Kecelakaan Truk Tabrak Elf dan Warung di Kalitidu, Kerugian Diperkirakan Capai Rp 30 Juta

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro (Kalitidu) - Sebagaimana diberitakan sebelumnya pada Kamis (08/02/2018) sekira pukul 09.00 WIB pagi tadi, kecelakaan lalu-lintas ...

Infotorial

Penetapan Nomor Urut dan Daftar Nama Paslon Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro Tahun 2018

Pengumuman KPU Bojonegoro

Penetapan Nomor Urut dan Daftar Nama Paslon Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro Tahun 2018

KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BOJONEGORO PENGUMUMAN Nomor : 227/PL.03.3-PU/3522/KPU-Kab/II/2018 TENTANG: PENETAPAN NOMOR URUT DAN DAFTAR NAMA PASANGAN CALON BUPATI DAN ...

Resensi

Kisah Pi yang Inspiratif

Kisah Pi yang Inspiratif

Oleh Vera Astanti Ini adalah kisah petualangan Piscine Molitor Patel, biasa di panggil Pi, si tokoh utama, anak keturunan India ...

Feature

Pernah Dapat Saran dari Papercut Pertama di Indonesia

Papercut Asal Bojonegoro

Pernah Dapat Saran dari Papercut Pertama di Indonesia

Oleh Angga Reza Bojonegoro (Balen) Memegang gunting dan juga kater dengan penuh konsentrasi dan penuh hati hati, itulah yang dilakukan ...

Teras

Bojonegoro Darurat Gantung Diri?

Bojonegoro Darurat Gantung Diri?

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Gantung diri, sepertinya menjadi masalah sosial yang sangat serius di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Gantung diri ...

Statistik

Hari ini

39 pengunjung

73 halaman dibuka

0 pengunjung online

Bulan ini

38.594 pengunjung

111.579 halaman dibuka

Tahun ini

97.061 pengunjung

315.090 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 688.228

Indonesia: 15.940

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015