News Ticker
  • Antisipasi Politik Uang, Panwaskab Bojonegoro Akan Laksanakan Patroli Pengawasan
  • Diduga Pengendara Mengantuk, Honda Supra di Dander Bojonegoro Ditabrak Yamaha Jupiter
  • Peran Bidan Dalam Menekan Angka Kematian Ibu
  • Sat Lantas Polres Bojonegoro Pasang Speed Alarm System pada Armada Bus AKDP
  • Kapolres Bojonegoro Imbau Seluruh Paslon Tidak Laksanakan Politik Uang
  • Jelang Masa Tenang, Panwaskab Bojonegoro Akan Tertibkan APK Pilkada 2018
  • Panwaskab Bojonegoro Imbau Seluruh Paslon Tidak Lakukan Kampanye Saat Masa Tenang
  • Diduga Pengemudi Kurang Kosentrasi, Mobil Xenia di Ngraho Bojonegoro, Tabrak Pagar Jembatan
  • KPU Bojonegoro Distribusikan Logistik Pemilukada 2018 ke PPK
  • Cinta
  • Mulai Juni 2018, 10 Kecamatan di Blora Bisa Cetak e-KTP
  • "VOC-Games" Media Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan
  • Penghargaan
  • 4 Motor Terlibat Kecelakaan di Baureno Bojonegoro, 2 Orang Pengendara Luka Berat
  • Mendadak Belok, Beat Ditabrak Mio di Kanor Bojonegoro, Pengendara Beat Masuk Rumah Sakit
  • Hari Pertama Masuk Kerja, Bupati Blora Tekankan Pentingnya Semangat Kerja
  • Hari Pertama Kerja Usai Libur Cuti Bersama Idulfitri, Wakil Bupati Blora Sidak PNS
  • 2 Minggu Operasi Ketupat 2018 di Bojonegoro, Angka Kecelakaan Lalu-Lintas Menurun Drastis
  • Tersengat Listrik, Seorang Warga Kalitidu Bojonegoro Meninggal Dunia di Puskesmas
  • Usai Libur Cuti Bersama Idulfitri, Kapolres Bojonegoro Cek Pelayanan SIM dan STNK
Puasa dengan Prasangka

Puasa dengan Prasangka

*Oleh Drs H Sholikhin Jamik SH MHes

KETIKA ada petinggi partai yang mengaku partai dakwah di panggil KPK, banyak orang kaget, bingung bahkan mengumpat-umpat, masalahnya bukan kasus korupsinya tapi mengapa partai yang mengaku partai dahwah, yang petinggi partainya tampak islami, kemana-mana dipanggil ustadz, fasih bahasa arab, bahasa  yang menjadi simbul Islam, pandai mengaji, solat dan puasa tidak henti, bahkan hajinya berkali-kali. Kok  melakukan sikap yang kontradiktif.

Ada moral ganda, di satu sisi seakan-akan taat agama, tapi bersamaan dengan itu melakukan tindakan yang dilarang agama. Mengapa tidak ada korelasi antara prilaku beragama dengan perbuatan yang dilakukan. Kenapa orang-orang yang kelihatan taat pada ritual agama hidupnya ada karakteristik prejudice, kepribadian otoriter, fanatisme kesukuan (etnosentrisme), konservatisme politik dan ekonomi dan anti semitisme.

Para psikolog pernah berdebat tentang apa yang mereka sebut sebagai the great paradoxes of the psychology of religion (red, paradoks besar psikologi agama). Mereka tidak mengerti mengapa agama yang mengajarkan persaudaraan, diantara sesama manusia melahirkan para pemeluk yang memiliki tingkat prasangka yang tinggi. Penelitian demi penelitian menunjukkan ada hubungan yang erat antara perilaku beragama, seperti rajin beribadah, Ia solat, puasa, haji, zakat, pandai mengaji, sering pergi ke masjid, dengan prasangka. Secara sederhana, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin rajin orang beribadah, makin besar prasangkanya pada kelompok manusia yang lain.

Prasangka adalah pandangan menghina terhadap kelompok lain. Anggota-anggota kelompok lain dianggap inferior, lebih rendah derajadnya, tidak sepenuhnya dianggap manusia. Untuk itu, kepada kelompok lain itu digunakan label-label atau gelar-gelar yang melepaskan mereka dari sifat kemanusiannya. Kita menyebut mereka munafik, sesat, pengikut setan, bahkan mungkin  dia kafir atau bukan dari kelompok kita. Setelah dicabut dari segala sifat manusianya, mereka tidak patut lagi dikasihani dan karena itu boleh saja difitnah, dirampas haknya, dianiaya, atau sedikitnya dicampakkan kehormatannya. Mereka dianggap sebagai sumber segala sifat buruk, malas, immoral, tidak jujur, bodoh, jahat, kejam dan sebagainya. Jadi, sangat mengherankan, orang-orang saleh sering menampakkan prasangka (prejudice) lebih besar dari orang yang kurang saleh.

Allport berusaha menjawab paradoks ini dengan membagi dua macam keberagamaan, yaitu tidak dewasa dan dewasa. Keberagamaan yang tidak dewasa, agamanya anak-anak, memandang Tuhan sebagai “ Bapak ” yang bertugas melayani kehendaknya, merawat, menjaga, mengurus segala keperluannya. Keberagamaan seperti ini cocok untuk masa kanak-kanak, tetapi menjadi disfungsional ketika orang beranjak dewasa.

Kelak Allport merevisi teorinya dengan menyebutnya keberagamaan ekstrinsik dan keberagamaan intrinsic. Menurut Allport, dalam orientasi ekstrinsik, orang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan pribadi. Nilai-nilai ekstrinsik bersifat instrumental dan utilitarian. Agama digunakan untuk berbagai tujuan mendapatkan rasa aman, status, atau pembenaran diri . Dalam bahasa teologi, tipe eksrinsik menghadap Tuhan tanpa berpaling dari dirinya.

Buat orang yang berorientasi intrinsic, motif keagamaan diletakkan di atas segala motif pribadi. Sekedar contoh, ketika seorang muslim berjuang, ia meletakkan ke-ridhoNya Tuhan di atas segala kebutuhan pribadinya. “ Ridho dari Allah lebih besar.“ (Al Quran 9 : 72). Ia akan mengorbankan kepentingan kelompoknya jika kepentingan itu menyebabkan ia tidak dapat lagi memenuhi kehendak Illahi.

Dalam hal puasa, orang-orang intrinsic berusaha meniadakan diri dan menenggelamkan diri pada Allah Swt. Walaupun sebelum sampai ke situ, seorang intrinsic harus menjalankan tarekat puasa. Di sini ia mengendalikan semua alat inderanya  yang lahir dan bathin dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Allah SWT. Ia bukan saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gosip, intrik, makian dan ancaman, tetapi juga mengendalikan daya khayalnya dari rencana-rencana jahat atau niat-niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya dari pandangan yang dilarang Allah SWT, tetapi juga juga menutup daya pikirnya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan. Itulah cara beragama orang intrinsic.

Dengan sangat mengagumkan “survey membuktikan” bahwa prasangka (prejudice) memang hanya berkaitan dengan orientasi keberagamaan yang ekstrinsik. Dalam istilah syariat puasa, prejudice dan juga penyakit-penyakit psikologis lainnya, hanya berkaitan dengan orang yang menjalankan puasa untuk kehendak dirinya. Orang yang menikmati puasa hanyalah orang yang melakukan puasa karena keimanan dan karena memenuhi kehendak Illahi. Inilah puasa yang difirmankan Tuhan, “ Puasa hanyalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya “. Puasa yang dilakukan bukan untuk Allah SWT. adalah puasa tanpa jiwa. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa. (*/inc)

*) Penulis  Penggiat bidang Pengembangan Religion DJangleng Institute Bojonegoro.

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Teras

Ngaji Urip Bareng Kang Yoto

Ngaji Urip Bareng Kang Yoto

Oleh Muhammad Roqib Bojonegoro Apa yang dilakukan oleh Kang Yoto, sapaan Suyoto, mantan Bupati Bojonegoro dua periode yakni 2008-2013 dan ...

Opini

Peran Bidan Dalam Menekan Angka Kematian Ibu

Hari Bidan Nasional 24 Juni

Peran Bidan Dalam Menekan Angka Kematian Ibu

*Oleh dr Achmad Budi Karyono GARDA terdepan yang bertanggung jawab terhadap kesehatan para ibu, khususnya ibu hamil adalah bidan. Hari ...

Quote

Cinta

Cinta

Oleh Dr Hj Sri Minarti, M.Pd.I CINTA merupakan perasaan kebaikan kasih sayang pada seseorang atau benda. Secara psikologis cinta dibagi ...

Sosok

Muhayatun Khoiriyah, Pelukis Sketsa Wajah Asal Kedungadem

Muhayatun Khoiriyah, Pelukis Sketsa Wajah Asal Kedungadem

Oleh Siti Ainur Rodhiyah Bojonegoro - "Mimpi itu harus dikejar. Mumpung ada kesempatan dan keadaan. Selagi masih muda kita gunakan ...

Eksis

Bertemu J-Rocks Band di Belakang Panggung, MGS SMAN 1 Bojonegoro

Eksklusif

Bertemu J-Rocks Band di Belakang Panggung, MGS SMAN 1 Bojonegoro

Oleh Siti Ainur Rodhiyah Bojonegoro - Terlihat sebuah mobil tiba menuju belakang Gedung Serba Guna Bojonegoro, tempat dilaksanakannya malam pagelaran ...

Religi

Tuntunan Shalat Ied (Fiqih Dua Hari Raya)

Oase Ramadan

Tuntunan Shalat Ied (Fiqih Dua Hari Raya)

*Oleh Drs H Sholikhin Jamik SH MHes LEBARAN hampir tiba. Hari kemenangan, hari iedul fitri. Berikut ini beberapa nukilan yang ...

Berita Foto

Menabrak Formalitas

Menabrak Formalitas

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Tak ingin terlihat monoton dengan pose foto bersama yang begitu begitu saja, sejumlah pejabat yang ...

Feature

"VOC-Games" Media Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan

"VOC-Games" Media Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan

Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro - Berawal dari ketakutan pada matematika dan kerisauan akan budaya yang semakin terkikis, tiga mahasiswa Universitas ...

Resensi

32 Khutbah Jumat Cak Nur

32 Khutbah Jumat Cak Nur

32 Khutbah Jumat Cak Nur Oleh Muhammad Roqib Bagaimana bila khutbah yang dilakukan setiap hari Jumat ditulis dalam sebuah buku?. ...

Statistik

Hari ini

1.261 kunjungan

2.140 halaman dibuka

89 pengunjung online

Bulan ini

79.213 kunjungan

135.777 halaman dibuka

Tahun ini

685.478 kunjungan

1.205.783 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 644.461

Indonesia: 12.203

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015