News Ticker
  • Dalam Grebeg Berkah Jonegaran, Kapolres Bojonegoro Terima Penghargaan dari Bupati
  • Bus Pariwisata Ziarah Wali Songo Terlibat Kecelakaan di Jalur Pantura Tuban
  • Tabrak Truk Parkir, Pengendara Motor di Kalitidu Babak Belur
  • 7 Ribu Kupon Makanan Gratis Diserbu Warga
  • Seorang Kakek Warga Desa Pacul Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Mandi
  • Komunitas Difabel Blora Semangat Membuat Batik
  • Prosesi Pengambilan Api Abadi HJB ke-340 di Lokasi Wisata Khayangan Api
  • Satpol PP Tertibkan Dua Minimarket Bodong
  • Mayat Bayi Laki-Laki Ditemukan Warga Desa Sembung Kecamatan Kapas
  • Siswa SMPN 1 Gayam Antusias Ikuti Belajar Energi Migas
  • Gempabumi 3,8 Skala Richter Guncang Wilayah Tuban
  • AJI Bojonegoro Gelar Diskusi Laporan Hasil Investigasi Open Data
  • Buat Laporan Kebakaran Palsu, Seorang Remaja Asal Soko Diamankan Polisi
  • Polisi Lakukan Olah TKP Laka-Lantas di Baureno Yang Akibatkan Korban Jiwa
  • Tiga Peserta Lolos Seleksi Calon Kades PAW Desa Beged, Diumumkan
  • Anggota Polres Blora Jalani Tes Psikologi Pengguna Senjata Api
  • Tabrakan Motor di Margomulyo Seorang Pembonceng Alami Patah Kaki
  • Lagi, Kapolres Bojonegoro Santuni Warga Kurang Mampu
  • Tabrak Truk, Pengendara Motor di Sugihwaras Patah Kaki
  • DPMD Lakukan Tes Bakal Calon Kades PAW Desa Beged

Puasa dengan Prasangka

Puasa dengan Prasangka

*Oleh Drs H Sholikhin Jamik SH MHes

KETIKA ada petinggi partai yang mengaku partai dakwah di panggil KPK, banyak orang kaget, bingung bahkan mengumpat-umpat, masalahnya bukan kasus korupsinya tapi mengapa partai yang mengaku partai dahwah, yang petinggi partainya tampak islami, kemana-mana dipanggil ustadz, fasih bahasa arab, bahasa  yang menjadi simbul Islam, pandai mengaji, solat dan puasa tidak henti, bahkan hajinya berkali-kali. Kok  melakukan sikap yang kontradiktif.

Ada moral ganda, di satu sisi seakan-akan taat agama, tapi bersamaan dengan itu melakukan tindakan yang dilarang agama. Mengapa tidak ada korelasi antara prilaku beragama dengan perbuatan yang dilakukan. Kenapa orang-orang yang kelihatan taat pada ritual agama hidupnya ada karakteristik prejudice, kepribadian otoriter, fanatisme kesukuan (etnosentrisme), konservatisme politik dan ekonomi dan anti semitisme.

Para psikolog pernah berdebat tentang apa yang mereka sebut sebagai the great paradoxes of the psychology of religion (red, paradoks besar psikologi agama). Mereka tidak mengerti mengapa agama yang mengajarkan persaudaraan, diantara sesama manusia melahirkan para pemeluk yang memiliki tingkat prasangka yang tinggi. Penelitian demi penelitian menunjukkan ada hubungan yang erat antara perilaku beragama, seperti rajin beribadah, Ia solat, puasa, haji, zakat, pandai mengaji, sering pergi ke masjid, dengan prasangka. Secara sederhana, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin rajin orang beribadah, makin besar prasangkanya pada kelompok manusia yang lain.

Prasangka adalah pandangan menghina terhadap kelompok lain. Anggota-anggota kelompok lain dianggap inferior, lebih rendah derajadnya, tidak sepenuhnya dianggap manusia. Untuk itu, kepada kelompok lain itu digunakan label-label atau gelar-gelar yang melepaskan mereka dari sifat kemanusiannya. Kita menyebut mereka munafik, sesat, pengikut setan, bahkan mungkin  dia kafir atau bukan dari kelompok kita. Setelah dicabut dari segala sifat manusianya, mereka tidak patut lagi dikasihani dan karena itu boleh saja difitnah, dirampas haknya, dianiaya, atau sedikitnya dicampakkan kehormatannya. Mereka dianggap sebagai sumber segala sifat buruk, malas, immoral, tidak jujur, bodoh, jahat, kejam dan sebagainya. Jadi, sangat mengherankan, orang-orang saleh sering menampakkan prasangka (prejudice) lebih besar dari orang yang kurang saleh.

Allport berusaha menjawab paradoks ini dengan membagi dua macam keberagamaan, yaitu tidak dewasa dan dewasa. Keberagamaan yang tidak dewasa, agamanya anak-anak, memandang Tuhan sebagai “ Bapak ” yang bertugas melayani kehendaknya, merawat, menjaga, mengurus segala keperluannya. Keberagamaan seperti ini cocok untuk masa kanak-kanak, tetapi menjadi disfungsional ketika orang beranjak dewasa.

Kelak Allport merevisi teorinya dengan menyebutnya keberagamaan ekstrinsik dan keberagamaan intrinsic. Menurut Allport, dalam orientasi ekstrinsik, orang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan pribadi. Nilai-nilai ekstrinsik bersifat instrumental dan utilitarian. Agama digunakan untuk berbagai tujuan mendapatkan rasa aman, status, atau pembenaran diri . Dalam bahasa teologi, tipe eksrinsik menghadap Tuhan tanpa berpaling dari dirinya.

Buat orang yang berorientasi intrinsic, motif keagamaan diletakkan di atas segala motif pribadi. Sekedar contoh, ketika seorang muslim berjuang, ia meletakkan ke-ridhoNya Tuhan di atas segala kebutuhan pribadinya. “ Ridho dari Allah lebih besar.“ (Al Quran 9 : 72). Ia akan mengorbankan kepentingan kelompoknya jika kepentingan itu menyebabkan ia tidak dapat lagi memenuhi kehendak Illahi.

Dalam hal puasa, orang-orang intrinsic berusaha meniadakan diri dan menenggelamkan diri pada Allah Swt. Walaupun sebelum sampai ke situ, seorang intrinsic harus menjalankan tarekat puasa. Di sini ia mengendalikan semua alat inderanya  yang lahir dan bathin dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Allah SWT. Ia bukan saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gosip, intrik, makian dan ancaman, tetapi juga mengendalikan daya khayalnya dari rencana-rencana jahat atau niat-niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya dari pandangan yang dilarang Allah SWT, tetapi juga juga menutup daya pikirnya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan. Itulah cara beragama orang intrinsic.

Dengan sangat mengagumkan “survey membuktikan” bahwa prasangka (prejudice) memang hanya berkaitan dengan orientasi keberagamaan yang ekstrinsik. Dalam istilah syariat puasa, prejudice dan juga penyakit-penyakit psikologis lainnya, hanya berkaitan dengan orang yang menjalankan puasa untuk kehendak dirinya. Orang yang menikmati puasa hanyalah orang yang melakukan puasa karena keimanan dan karena memenuhi kehendak Illahi. Inilah puasa yang difirmankan Tuhan, “ Puasa hanyalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya “. Puasa yang dilakukan bukan untuk Allah SWT. adalah puasa tanpa jiwa. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa. (*/inc)

*) Penulis  Penggiat bidang Pengembangan Religion DJangleng Institute Bojonegoro.

Berita Bojonegoro
Berita Terkait
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro
Berita Bojonegoro

Sosok

Tidak Menyangka Terima Penghargaan Langsung dari Kapolri

Aiptu Sholeh, Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Kanor

Tidak Menyangka Terima Penghargaan Langsung dari Kapolri

Oleh Muhammad Roqib Bojonegoro - Karena jasa-jasa serta pengabdiannya yang melebihi panggilan tugas semestinya, Aiptu Sholeh Bhabinkamtibmas Desa Sroyo Polsek ...

Quote

Sambutan Bupati Bojonegoro pada Idul Adha 1438 H

Berkorban Untuk Masa Depan Bersama Yang Lebih Baik!

Sambutan Bupati Bojonegoro pada Idul Adha 1438 H

Berkorban Untuk Masa Depan Bersama Yang Lebih Baik! Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarakaatuh Yang saya cintai, ...

Opini

Buah Demokrasi dari Rukun Kematian

Buah Demokrasi dari Rukun Kematian

Oleh Drs H Suyoto MSi INDONESIA mendapatkan berkah demokrasi sejak reformasi. Bahkan, sejauh demokrasi itu diartikan sebagai ruang publik sebagaimana ...

Eksis

Pagi Band, Band Kumpulan Anak SD yang Eksis

Pagi Band, Band Kumpulan Anak SD yang Eksis

Oleh Muliyanto Bojonegoro - Indahnya kerlap-kerlip lampu Go-fun Bojonegoro menambah gelora semangat malam itu pada puncak acara Sparkling Night Run ...

Pelesir

Belanja Buku Bekas di Pojok Pasar Kota Bojonegoro

Belanja Buku Bekas di Pojok Pasar Kota Bojonegoro

Oleh Vera Astanti Bojonegoro Kota Buku tak harus baru. Asalkan masih bisa terbaca tulisannya dan diambil manfaatnya, bekas tidak masalah. ...

Religi

Hadiri Pengajian di Sukosewu, Kapolres Ajak Jamaah Untuk Tidak Ikut Aksi di Jakarta

Hadiri Pengajian di Sukosewu, Kapolres Ajak Jamaah Untuk Tidak Ikut Aksi di Jakarta

*Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro (Sukosewu) - Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu S Bintoro SH SIK MSi menghadiri pengajian umum Jamaah Tahlil, ...

Kegiatan Masyarakat Bojonegoro

Jumat, 20 Oktober 2017

Berita Foto

Prosesi Pengambilan Api Abadi HJB ke-340 di Lokasi Wisata Khayangan Api

Prosesi Pengambilan Api Abadi HJB ke-340 di Lokasi Wisata Khayangan Api

*Oleh Imam Nurcahyo Bojonegoro (Ngasem) - Prosesi pengambilan Api Abadi sebagai rangkaian Hari jadi Bojonegoro (HJB) ke 340, dilaksanakan di ...

Infotorial

Hijaukan Desa dengan Tanaman Bermanfaat

Program Penghijauan SKK Migas - ExxonMobil Cepu Limited (EMCL)

Hijaukan Desa dengan Tanaman Bermanfaat

*Oleh Imam Nurcahyo DI BAWAH hangatnya sinar matahari sore Desa Brabowan Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro, sekelompok pemuda nampak sibuk menyiram ...

Resensi

Saling Menyayangi Agar Tak Diganggu Setan

Film Pengabdi Setan (2017)

Saling Menyayangi Agar Tak Diganggu Setan

Oleh Vera Astanti DI RUMAH itu ada seorang pembantu misterius berwajah cantik tapi menyeramkan. Ditambah lagi, rumah tersebut baru kehilangan ...

Feature

Melihat Kampung Keramik di Desa Balong Kecamatan Jepon - Blora

Melihat Kampung Keramik di Desa Balong Kecamatan Jepon - Blora

Oleh Imam Nurcahyo Blora - Jalan Desa Balong Kecamatan Jepon Kabupaten Blora, terlihat lengang. Namun, setelah melintas balai desa setempat, ...

Teras

Tidak Ingin Terciduk, Bijaklah Bermedsos

Tidak Ingin Terciduk, Bijaklah Bermedsos

*Oleh Imam Nurcahyo SATU lagi, warga Bojonegoro dilaporkan telah melakukan tindak pidana ujaran kebencian (hate speech) dan atau pencemaran nama ...

Statistik

Hari ini

2.520 pengunjung

4.988 halaman dibuka

239 pengunjung online

Bulan ini

77.338 pengunjung

227.487 halaman dibuka

Tahun ini

871.148 pengunjung

3.446.689 halaman dibuka

Ranking Alexa 

Global: 534.638

Indonesia: 12.147

Ranking SimilarWeb 

Site Overview

Traffic Overview

Online sejak 1 Agustus 2015