BI Luncurkan Website Poverty Resource Center
Rabu, 07 Oktober 2015 09:00 WIBOleh Nasruli Chusna
Oleh Nasruli Chusna
Kota – Bojonegoro Institut (BI), sebuah lembaga nirlaba di Bojonegoro, meluncurkan sebuah website yang disebut Poverty Resource Center (PRC). Website PRC ini menyuguhkan data statistic kemiskinan yang telah diolah dalam bentuk peta data.
Menurut Direktur Bojonegoro Institut, AW Saiful Huda, peluncuran website PRC ini manfaatnya untuk mempublikasikan data-data kemiskinan dan yang berkaitan dengan kemiskinan. Sehingga, kata dia, dapat memudahkan para pemangku kebijakan untuk membuat, merumuskan, merencanakan, memonitor, sekaligus mengevaluasi kebijakan penanggulangan kemiskinan di Bojonegoro.
“Website PRC ini juga bisa diakses dan diunduh datanya oleh siapa saja, masyarakat umum. Dengan begitu, masyarakat juga akan tahu berapa jumlah penduduk di Bojonegoro secara akurat,” ujarnya pada BeritaBojonegoro.com, Rabu (07/10).
Awe, sapaan akrab Saiful Huda, mengungkapkan, website PRC ini merupakan sebuah system berbasis teknologi informasi yang dibuat sebagai pusat informasi dan database kemiskinan. Data yang tersedia misalnya mengenai jumlah dan prosentase penduduk miskin di Jawa Timur termasuk di Bojonegoro tahun 2013, data penduduk miskin di Jawa Timur dan Bojonegoro tahun 2012, indeks pembangunan manusia di Jawa Timur dan Bojonegoro tahun 1999, pusat informasi dan data kemiskinan Kabupaten Bojonegoro, mekanisme transrparansi tata kelola migas di Kabupaten Bojonegoro, dan lainnya.
“Data yang ada di PRC ini akan memudahkan pemangku kebijakan untuk mendesain program pengentasan kemiskinan di Bojonegoro,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, melalui PRC ini pihaknya ingin agar isu kemiskinan di Bojonegoro menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah. Bukan hanya pemerintah saja yang bisa memanfaatkan data ini tetapi perusahaan swasta juga bisa menjadikan data ini untuk terlibat dalam upaya pengentasan kemiskinan di Bojonegoro.
Menurut Awe, kemampuan fiskal Bojonegoro saat ini di atas rata-rata daerah di Jatim. Pada tahun 2015 ini misalnya kemampuan APBD Bojonegoro mencapai Rp3,8 triliun. Penyumbang paling banyak pemasukan bagi daerah adalah dari sektor minyak dan gas bumi (migas).
Data tahun 2012-2014 menunjukkan pendapatan Bojonegoro termasuk tertinggi kelima di Jawa Timur. Kendati demikian, kata dia, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2013, tingkat kemiskinan di Bojonegoro menempati peringkat ke-9 di Jawa Timur.
Susenas 2013 juga menyebut jumlah warga miskin di daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) itu sebanyak 196 ribu jiwa. Kantong kemiskinan, kata dia, paling banyak berada di desa-desa pinggiran hutan dan juga di sekitar ladang migas.
Desa Mojodelik, Gayam, Katur, Bonorejo, Beged, Ngraho, Kecamatan Gayam, misalnya yang merupakan desa penghasil migas Banyu Urip, Blok Cepu, juga tercatat merupakan salah satu desa kantong kemiskinan.
Selain itu tingkat kesenjangan atau gini rasio di Bojonegoro juga terus naik. Pada Tahun 2011 sebesar 0,27 persen, tahun 2012 sebesar 0,31 persen dan tahun 2013 sebesar 0,42 persen. Artinya distribusi sumber daya dan basis sosial di Kabupaten Bojonegoro masih belum merata. (rul/kik)































.md.jpg)






