Cerita Mariyadi, Jamaah Haji asal Desa Rambatan, Balen
Tak Boleh Bawa Air Zamzam dari Mekkah, Akhirnya Beli di Surabaya
Selasa, 13 Oktober 2015 08:00 WIBOleh Khoirul Anam
Oleh Khoirul Anam
Balen – Banyak cerita dan kisah yang dialami oleh rombongan jamaah haji asal Bojonegoro yang menunaikan ibadah haji tahun ini di Mekkah, Arab Saudi. Banyak musibah yang terjadi selama musim haji tahun ini di antaranya badai pasir dan jatuhnya alat berat (crane) di Masjidil Haram serta tragedi berdesak-desakkan jamaah haji di Mina. Kedua peristiwa selama proses ibadah haji itu merenggut ratusan korban jiwa.
Namun, beruntung tidak ada jamaah haji asal Bojonegoro yang menjadi korban akibat musibah yang terjadi di Masjidil Haram dan Mina itu. Ada empat jamaah haji yang meninggal di Mekkah, tetapi kesemuanya meninggal lantaran sakit.
Salah satu jamaah haji, Mariyadi, asal Desa Rambatan, Kecamatan Balen, menuturkan, ia tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 33 rombongan haji asal Bojonegoro. Ia menuturkan, saat kejadian badai pasir dan jatuhnya crane di Masjidil Haram, ia sebenarnya ingin melaksanakan ibadah umrah di Masjidil Haram. Namun, setelah kejadian itu, ia mengurungkan niatnya dan tinggal di penginapan. Begitu pula jamaah haji lainnya memilih sementara tinggal di penginapan.
“Saat itu memang terjadi musibah badai pasir dan angin kencang yang cukup hebat. Kami para jamaah haji akhirnya memilih tinggal berdiam di hotel,” tutur Mariyadi yang juga guru SMP Negeri 3 Baureno tersebut pada BBC, sapaan BeritaBojonegoro.com, Rabu (13/10).
Begitu pula saat musibah wukuf di Mina. Saat itu, kata dia, rombongan haji asal Bojonegoro belum melaksanakan ibadah wukuf di Mina. Ia dan rombongan haji asal Bojonegoro lainnya masih menginap di Arofah. “Saya mendengar kabar terjadi peristiwa desak-desakkan sesama jamaah haji saat melaksanakan ibadah wukuf di Mina itu. Tetapi Alhamdulillah, semua jamaah haji asal Bojonegoro selamat dari musibah itu,” terangnya.
Mariyadi menuturkan, setelah menunaikan ibadah haji ia sempat akan membawa oleh-oleh air zamzam dari Tanah Suci, Mekkah. Ia semula membawa 10 liter air zamzam tersebut lalu dimasukkan dalam koper. Akan tetapi, kata dia, saat berada di bandara di Madinah, semua koper milik jamaah haji itu diperiksa dan tidak boleh membawa barang yang melebihi batas ketentuan. Akhirnya, ia tidak bisa membawa langsung air zamzam yang telah dibelinya itu.
Ia terbang dari bandara di Madinah pada pukul 07.00 waktu setempat dan sampai di Bandara Juanda, Surabaya, pukul 23.00 malam. Ia dan istrinya kemudian membeli oleh oleh air zamzam dari Surabaya untuk dibawa pulang ke Bojonegoro. Ia sampai di Bojonegoro sekitar pukul 05.15 tadi pagi.
“Ini semua keluarga dan kerabat kumpul di rumah. Alhamdulillah, saya dan istri bisa menunaikan ibadah haji dengan lancar dan sampai rumah dengan selamat,” pungkasnya. (nam/kik)































.md.jpg)






